Close Menu

    Subscribe to Updates

    Dapatkan informasi terbaru dari mayoritas.com

    Apa yang Viral?

    UFC di Gedung Putih Telan Biaya Lebih dari Rp970 Miliar, Persiapan Raksasa untuk Pertarungan yang Didukung Trump

    11/06/2026

    Belanda Berpacu Melawan Laut: Saat Benteng Air Terbaik di Dunia Mulai Diuji Kenaikan Permukaan Laut

    11/06/2026

    Taiwan Tembakkan Roket ke Arah China dalam Latihan Militer Perdana Gunakan HIMARS Buatan AS

    11/06/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • POLITIK
      • Politik Amerika
      • Politik Asia
      • Politik Dunia
      • Politik Eropa
      • Politik Nasional
      • Politik Timur Tengah
    • Nasional

      UFC di Gedung Putih Telan Biaya Lebih dari Rp970 Miliar, Persiapan Raksasa untuk Pertarungan yang Didukung Trump

      11/06/2026

      Belanda Berpacu Melawan Laut: Saat Benteng Air Terbaik di Dunia Mulai Diuji Kenaikan Permukaan Laut

      11/06/2026

      Taiwan Tembakkan Roket ke Arah China dalam Latihan Militer Perdana Gunakan HIMARS Buatan AS

      11/06/2026

      Bill Gates Akui Epstein Ingin Menjalin Hubungan Pribadi, Ungkap Sempat Ditekan dengan Informasi Perselingkuhannya

      11/06/2026

      Divonis Hanya Enam Bulan Bertahan Hidup, Perempuan Kembar Identik Ini Tak Sanggup Membayangkan Meninggalkan Saudara Kembarnya

      11/06/2026
    • TEKNOLOGI

      Belanda Berpacu Melawan Laut: Saat Benteng Air Terbaik di Dunia Mulai Diuji Kenaikan Permukaan Laut

      11/06/2026

      Taiwan Tembakkan Roket ke Arah China dalam Latihan Militer Perdana Gunakan HIMARS Buatan AS

      11/06/2026

      FBI Sita Belasan Situs yang Diduga Dipakai Agen China Merekrut Pejabat AS

      11/06/2026

      AI yang Sempat Dianggap Terlalu Berbahaya untuk Publik Kini Dirilis, Anthropic Akui Risikonya

      10/06/2026

      NASA Umumkan Kru Artemis III, Misi Kunci Menuju Kembalinya Manusia ke Bulan

      10/06/2026
    • Hiburan
    • Belanja Sekarang
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    Mayoritas.com
    Langganan Sekarang
    TOPIK PANAS
    • Olahraga
    • Ekonomi & Pasar
      • Bisnis
      • Ekonomi
      • Keuangan
    • Wisata & Kuliner
    • Belanja Sekarang
    Mayoritas.com
    Home»Nasional»Bencana»Belanda Berpacu Melawan Laut: Saat Benteng Air Terbaik di Dunia Mulai Diuji Kenaikan Permukaan Laut
    Bencana

    Belanda Berpacu Melawan Laut: Saat Benteng Air Terbaik di Dunia Mulai Diuji Kenaikan Permukaan Laut

    joveBy jove11/06/2026No Comments7 Mins Read0 Views
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Belanda telah menghabiskan puluhan tahun membangun dan menyempurnakan salah satu sistem pertahanan air paling canggih di dunia. Dengan seperempat wilayah negara berada di bawah permukaan laut, ancaman air selalu hadir, dan perlindungan terhadap kenaikan permukaan Laut Utara maupun luapan sungai menjadi faktor penting bagi kelangsungan hidup negara tersebut.

    Namun, seiring laju kenaikan permukaan laut yang terus meningkat dan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, para ahli memperingatkan bahwa sistem yang selama puluhan tahun menjaga keamanan Belanda akan kesulitan mengikuti perubahan tanpa peningkatan besar-besaran.

    “Kami hidup di dalam bak mandi, dan bak mandi itu akan terus terisi,” kata Co Verdaas, komisioner Program Delta, program pertahanan air nasional Belanda.

    “Karena kami sepenuhnya mempercayai pengelolaan air berbasis teknologi selama berabad-abad, kami lupa betapa rentannya kami,” ujarnya

    “Kami juga secara harfiah mulai mencapai batas dari apa yang dapat dilakukan melalui pengelolaan teknis.”

    Negara yang Sebagian Wilayahnya Berada di Bawah Permukaan Laut

    Laporan yang diterbitkan pada Maret 2026 dan menganalisis 385 studi ilmiah yang telah melalui proses penelaahan sejawat menemukan bahwa kenaikan permukaan laut pesisir global saat ini kemungkinan telah diremehkan.

    Menurut laporan tersebut, rata-rata permukaan laut global sekitar 30 sentimeter lebih tinggi daripada yang selama ini diasumsikan, sementara di beberapa wilayah seperti Asia Tenggara dan sebagian kawasan Pasifik, selisihnya dapat mencapai hampir satu meter.

    Belanda selama ini mengandalkan sistem penghalang badai raksasa yang dikenal sebagai Delta Works.

    Membentang sepanjang sekitar 1.000 kilometer, Delta Works terdiri atas lebih dari selusin komponen utama, termasuk bendungan, tanggul, pemecah banjir, pintu air, dan stasiun pompa. Sistem yang selesai dibangun pada 1997 itu dirancang untuk menahan lautan dan dianggap sebagai salah satu model infrastruktur perlindungan pesisir terbaik di dunia.

    Pembangunannya dimulai setelah Banjir Laut Utara 1953 yang menewaskan lebih dari 2.000 orang di wilayah pesisir Belanda, Belgia, dan Inggris. Bencana tersebut merupakan banjir terburuk yang melanda Belanda sejak Abad Pertengahan dan mendorong lahirnya sistem perlindungan banjir yang komprehensif.

    “Jika melihat sejarah kami, ada kecenderungan kuat untuk berpikir bahwa kami bisa mengendalikan air,” kata Joep Verhagen, pakar utama ketahanan air dan perkotaan di Global Center on Adaptation yang berbasis di Belanda.

    “Mengendalikan alam menjadi semakin sulit akibat perubahan iklim. Karena itu kami beralih dari mengendalikan air menjadi hidup berdampingan dengan air, menerima kenyataan bahwa kami tidak selalu bisa mengendalikan alam.”

    Infrastruktur yang Harus Terus Diperbarui

    Meski infrastruktur Belanda masih termasuk yang terbaik di dunia, kecepatan perubahan iklim membuat sejumlah bagian sistem perlu diperbarui, menurut Harold van Waveren, penasihat keselamatan air di Rijkswaterstaat, badan pengelolaan air nasional Belanda.

    “Jika Anda mengganti suatu infrastruktur, idenya adalah agar sistem itu bisa berfungsi selama 50 hingga 100 tahun ke depan,” katanya.

    “Kami merasa sangat aman karena semuanya berjalan baik. Dan memang berjalan baik hingga sekarang.”

    Delta Works, Benteng Utama Melawan Laut

    Delta Works menggabungkan lebih dari 20.000 kilometer tanggul dan penghalang badai dengan ribuan stasiun pompa.

    “Itulah fondasi utama kami,” kata Van Waveren, “untuk memastikan negara ini tetap ada.”

    Pompa terbesar saat ini mampu memindahkan sekitar 250 meter kubik air per detik. Namun kapasitas tersebut mungkin harus ditingkatkan secara drastis pada masa depan.

    “Salah satu opsinya adalah membangun stasiun pompa dengan kapasitas sekitar 2.000, 3.000, hingga 5.000 meter kubik per detik menjelang akhir abad ini agar tetap aman,” ujarnya.

    Sebagian struktur Delta Works berupa bendungan permanen yang langsung menahan laut. Sementara penghalang badai bergerak tetap terbuka dalam kondisi normal agar aktivitas pelayaran dan ekosistem alami dapat berlangsung, lalu ditutup ketika badai besar datang.

    Salah satu yang paling terkenal adalah Oosterscheldekering, kompleks penghalang badai terbesar di dunia yang dibuka pada 1986.

    Membentang sepanjang 9 kilometer dan memiliki 62 pintu bergerak, struktur ini membiarkan pasang surut berlangsung secara alami dalam kondisi normal dan hanya ditutup ketika permukaan air mencapai tingkat yang sangat tinggi.

    Sejak dibangun, penghalang ini telah ditutup sekitar 30 kali, atau rata-rata sekali per tahun. Namun menurut laporan Institut Meteorologi Kerajaan Belanda (KNMI), dalam skenario iklim ekstrem frekuensi penutupan bisa meningkat hingga 20 kali per tahun, sehingga memberikan tekanan mekanis yang jauh lebih besar pada sistem.

    Ancaman bagi Pelabuhan Rotterdam

    Struktur pertahanan penting lainnya adalah Maeslant Barrier yang melindungi Rotterdam dan lebih dari satu juta penduduk di sekitarnya dari banjir.

    Gerbang otomatis tersebut memiliki dua lengan bergerak yang masing-masing berukuran 210 meter lebar, 22 meter tinggi, dan 15 meter dalam. Saat ditutup, kedua lengan itu dapat tenggelam ke dasar jalur air dalam waktu sekitar dua jam.

    Awalnya sistem ini dirancang untuk ditutup hanya sekali setiap dekade.

    Namun pada 2023, badai Pia memicu penutupan otomatis akibat tingginya permukaan air. Para ahli memperingatkan bahwa jika permukaan laut terus meningkat tajam, jalur menuju Pelabuhan Rotterdam, salah satu pelabuhan terbesar di Eropa dan dunia, mungkin harus ditutup secara permanen.

    “Mungkin demi keselamatan jangka panjang kami harus menutupnya. Itu belum menjadi masalah saat ini,” kata Verdaas.

    “Tetapi jika permukaan laut naik dua meter pada akhir abad ini, dampaknya akan sangat besar. Pelabuhan Rotterdam adalah salah satu pelabuhan terbesar di dunia.”

    Menurut Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), permukaan laut global diperkirakan naik antara 0,3 meter hingga lebih dari 1 meter pada 2100, tergantung pada tingkat emisi gas rumah kaca di masa depan.

    Meski sebagian besar proyeksi berada di bawah angka tersebut, IPCC menegaskan kenaikan mendekati dua meter tetap tidak dapat sepenuhnya dikesampingkan dalam skenario emisi yang sangat tinggi.

    Mengelola Air dari Segala Arah

    Program Delta menjalani evaluasi besar setiap enam tahun, dan hasil peninjauan terbaru dijadwalkan diumumkan pada September mendatang.

    Pendanaan menjadi salah satu perhatian utama.

    Saat ini Belanda menginvestasikan sekitar 1 persen produk domestik bruto (PDB)-nya untuk pertahanan air, tetapi Verdaas menilai jumlah itu perlu digandakan.

    Pada 2026, Dana Delta mengalokasikan sekitar 1,9 miliar euro atau sekitar 2,2 miliar dolar AS. Total biaya program untuk periode 2015 hingga 2050 diperkirakan mencapai 38 miliar euro.

    Selain mengandalkan teknologi, Belanda juga semakin banyak bereksperimen dengan solusi berbasis alam.

    Beberapa proyek memanfaatkan pasang surut alami serta sedimentasi pasir dan lumpur untuk memperkuat garis pantai. Endapan alami tersebut secara bertahap meninggikan daratan dan membantu mengurangi tekanan terhadap tanggul serta infrastruktur keras lainnya.

    “Ini bukan pertentangan antara solusi berbasis alam dan solusi teknis,” kata Verdaas.

    “Kami ingin inovasi teknis bekerja bersama sistem alam. Itulah jalan ke depan.”

    Ancaman Tidak Hanya Datang dari Laut

    Tantangan Belanda tidak hanya berasal dari laut. Sungai-sungai besar yang melintasi negara itu juga membawa risiko banjir yang meningkat akibat pencairan es dan curah hujan ekstrem.

    Sungai Rhine dan Meuse, bersama sungai-sungai lain seperti Scheldt, mengalir melewati beberapa negara sebelum mencapai delta Belanda, sehingga koordinasi lintas batas menjadi sangat penting.

    Melalui program Room for the River, Belanda memberi ruang bagi dataran banjir untuk menampung air ketika debit sungai meningkat.

    “Dataran banjir biasanya berupa padang rumput tempat sapi merumput. Saat air tinggi, kawasan itu sengaja dibiarkan tergenang, sapi dipindahkan sementara, dan setelah air surut kerusakannya sangat terbatas,” kata Verhagen.

    Secara paradoks, beberapa wilayah Belanda juga mulai menghadapi kekeringan, sehingga pemerintah mengembangkan sistem penyimpanan air untuk kebutuhan pertanian dan air minum.

    “Air adalah bahasa perubahan iklim. Sebagian besar dampak yang kita rasakan datang melalui perubahan siklus air, baik terlalu banyak, terlalu sedikit, atau kualitas air yang menurun,” ujarnya.

    Hidup Berdampingan dengan Air

    Kota-kota Belanda juga terus berinovasi untuk meningkatkan ketahanan terhadap air.

    Rotterdam, misalnya, memiliki lebih dari 1.000 stasiun pompa, atap hijau yang mampu menyimpan air hujan dan mendinginkan bangunan, serta ruang publik multifungsi seperti Water Square.

    Dalam cuaca cerah, area tersebut digunakan untuk bermain basket, sepak bola, pertunjukan seni, hingga kegiatan keagamaan. Namun saat hujan lebat, kawasan itu berubah menjadi kolam penampungan air sementara.

    Konsep tersebut kini mulai diadopsi oleh negara-negara lain.

    Rotterdam juga mengembangkan infrastruktur terapung berupa kantor, pertanian, dan perumahan yang dirancang tahan terhadap kenaikan permukaan laut.

    Global Center on Adaptation tempat Verhagen bekerja bahkan menempati kantor terapung terbesar di dunia, bangunan kayu seluas 3.500 meter persegi yang netral karbon dan menggunakan air pelabuhan sebagai sistem pendingin.

    “Bahasa kami selama ini penuh dengan ungkapan bahwa kami telah menaklukkan air dan menaklukkan alam,” kata Verdaas.

    “Tetapi kini kami harus belajar bekerja sama dengan keduanya dalam babak baru ini. Itu merupakan perubahan cara pandang yang sangat besar.”

    air belanda laut negara air
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    jove
    • Website

    Related Posts

    Hiburan

    UFC di Gedung Putih Telan Biaya Lebih dari Rp970 Miliar, Persiapan Raksasa untuk Pertarungan yang Didukung Trump

    11/06/2026
    Militer

    Taiwan Tembakkan Roket ke Arah China dalam Latihan Militer Perdana Gunakan HIMARS Buatan AS

    11/06/2026
    Internet

    FBI Sita Belasan Situs yang Diduga Dipakai Agen China Merekrut Pejabat AS

    11/06/2026
    Hukum Kriminal

    Bill Gates Akui Epstein Ingin Menjalin Hubungan Pribadi, Ungkap Sempat Ditekan dengan Informasi Perselingkuhannya

    11/06/2026
    Kesehatan

    Divonis Hanya Enam Bulan Bertahan Hidup, Perempuan Kembar Identik Ini Tak Sanggup Membayangkan Meninggalkan Saudara Kembarnya

    11/06/2026
    Lain Lain

    Kuburan Paus Raksasa Berusia 5 Juta Tahun Ditemukan di Dasar Samudra, Bikin Ilmuwan Terkejut

    11/06/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Langganan Berita

    Dapatkan berita olahraga terkini dari NewsSite tentang dunia, olahraga, dan politik.

    Pilihan Editor

    UFC di Gedung Putih Telan Biaya Lebih dari Rp970 Miliar, Persiapan Raksasa untuk Pertarungan yang Didukung Trump

    11/06/2026

    Belanda Berpacu Melawan Laut: Saat Benteng Air Terbaik di Dunia Mulai Diuji Kenaikan Permukaan Laut

    11/06/2026

    Taiwan Tembakkan Roket ke Arah China dalam Latihan Militer Perdana Gunakan HIMARS Buatan AS

    11/06/2026

    FBI Sita Belasan Situs yang Diduga Dipakai Agen China Merekrut Pejabat AS

    11/06/2026
    Info Terbaru

    Apa Itu Lifestyle Sedentary? Menimbulkan Banyak Penyakit Hingga Dapat Terkena Kanker

    20/01/2021

    Pebasket Zhang Ziyu Setinggi 220M Menarik Perhatian Usai Mengalahkan Tim U-18 Indonesia

    15/01/2021

    Kronologi Atlet Bulu Tangkis China Zhang Zhi Jie Meninggal Di Ajang AJC 2024

    15/01/2021
    Advertisement
    LOGO_FOOTER_MAYORITAS
    Facebook X (Twitter) Pinterest Vimeo WhatsApp TikTok Instagram

    News

    • Ekonomi & Pasar
    • Olahraga
    • Opini
    • Otomotif
    • Wisata Kuliner
    • Video Unggulan
    • Kesehatan

    Company

    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Hak Cipta
    • Disclaimer
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Panduan Kebijakan

    Layanan

    • Toko
    • Customer Support
    • Karir
    • Tentang kami
    • Hubungi Kami
    • Akses login

    Langganan Updates

    Dapatkan informasi terkinni seputar fakta informasi dunia, anda bisa berlangganan melalui email anda

    © 2026 Mayoritas.com
    • Privacy Policy
    • Term of Service
    • Contact us

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.