Kylian Mbappé meminta maaf atas komentarnya tentang mendiang pemimpin China, Mao Zedong, yang dinilainya tidak tepat. Pernyataan tersebut memicu reaksi keras di China dan membuat sejumlah merek lokal memutuskan kerja sama dengan penyerang Real Madrid itu.
Mbappé dilaporkan mengatakan dalam acara bincang-bincang Prancis, The Bridge, bahwa meme yang paling membuatnya tertawa adalah video seorang pria yang menurutnya merupakan diktator China. Ia kemudian tertawa ketika cuplikan tersebut beralih ke meme yang menampilkan wajahnya ditempelkan pada gambar yang menyerupai Mao.
Meme tersebut merupakan bagian dari lelucon yang telah lama beredar di internet, yang menjuluki Mbappé sebagai “diktator” karena pengaruhnya yang sangat besar dalam sepak bola.
“Komentar saya tidak tepat, dan sekarang saya memahami bahwa perkataan tersebut telah menyakiti banyak orang di China maupun komunitas China di seluruh dunia,” kata Mbappé dalam sebuah pernyataan.
“Saya meminta maaf kepada semua orang yang tersinggung oleh perkataan saya.”
Kompetisi sepak bola Spanyol, La Liga, juga menyampaikan permintaan maaf. Pihaknya mengatakan sangat menyesalkan bahwa komentar terbaru Mbappé telah menyinggung para penggemar di China.
Lelucon tersebut tidak diterima dengan baik di China, tempat Mao sangat dihormati oleh Partai Komunis. Penghormatan itu tetap bertahan meskipun pemerintahannya yang penuh gejolak dan kerap diwarnai kekerasan menyebabkan jutaan orang meninggal dunia.
Sejumlah kecil pengguna media sosial China menyatakan dukungan kepada Mbappé. Namun, respons semacam itu tergolong jarang di tengah pengawasan ketat internet di negara tersebut, tempat masyarakat diharapkan mengikuti garis kebijakan partai dan pemerintah, terutama dalam isu-isu sensitif.
Tidak banyak tokoh sejarah yang lebih sensitif untuk dibicarakan daripada Mao. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa sejumlah merek bergerak cepat mengakhiri kerja sama dengan bintang olahraga global seperti Mbappé.
Video asli wawancara tersebut tidak tersedia di kanal YouTube acara The Bridge. Waktu penayangan pertama wawancara yang dipandu Aurélien Tchouaméni, pemain Real Madrid, juga belum diketahui secara pasti.
Dalam cuplikan yang beredar di internet, Mbappé tidak menyebut nama Mao secara langsung. Ia mengatakan bahwa dirinya “sering menggunakan meme tersebut bersama teman-teman”.
Kontroversi ini tampaknya mulai mencuat pada Senin malam setelah forum sepak bola China, Dongqiudi, menyoroti komentar tersebut melalui sebuah pernyataan. Forum itu menyebut perkataan Mbappé “tidak pantas” dan “melukai perasaan rakyat China”.
Tangkapan layar cuplikan video dan meme tersebut kemudian menyebar dengan cepat di media sosial China. Banyak pengguna menyuarakan pendapat serupa, bahkan menyerukan boikot terhadap Mbappé dan klubnya, Real Madrid.
Namun, sejumlah pengguna menyamarkan gambar meme tersebut maupun bagian komentar yang dianggap menyinggung, khususnya ketika Mbappé menyebut “seorang diktator China”.
Dalam pernyataannya, Dongqiudi mengatakan pihaknya “tidak dapat menerjemahkan” komentar Mbappé karena dianggap “menyinggung China dan rakyat China”.
Akibatnya, banyak orang juga mempertanyakan apa sebenarnya yang dikatakan Mbappé. Sejumlah pengguna menanggapi unggahan dan komentar bernada marah dengan meminta penjelasan lebih lanjut.
Bagaimana reaksi masyarakat China?
Para penggemar sepak bola China mengkritik Mbappé, yang populer di negara tersebut dan memiliki banyak kontrak dukungan merek. Mereka menuduh sang pemain “meraup keuntungan dari pasar China, tetapi justru melontarkan pernyataan yang menyinggung masyarakat China”.
“Tokoh publik internasional, khususnya, seharusnya menunjukkan rasa hormat dan kepekaan yang lebih besar karena sentimen nasional tidak boleh dianggap remeh,” demikian bunyi komentar lain di Weibo, platform media sosial populer di China.
Ketika kemarahan di dunia maya semakin meluas, sejumlah perusahaan China mulai memutuskan hubungan dengan Mbappé, meskipun mereka tidak secara eksplisit menyebut video tersebut sebagai alasan.
Mengniu, produsen produk susu terbesar di China, menyatakan bahwa pihaknya “dengan tegas menentang dan menerapkan kebijakan tanpa toleransi terhadap segala perkataan atau tindakan yang melukai perasaan rakyat China”.
Perusahaan minuman Dongpeng mengeluarkan pernyataan serupa.
“Perusahaan kami dengan tegas menentang dan menerapkan kebijakan tanpa toleransi terhadap segala perilaku yang menyinggung sentimen nasional,” demikian pernyataan Dongpeng.
Menurut surat kabar milik pemerintah, Global Times, aplikasi berita milik penyiar nasional CCTV tidak akan lagi menampilkan konten terkait penyerang asal Prancis tersebut.
Media China juga melaporkan pada Selasa bahwa CCTV akan menghentikan penayangan pertandingan La Liga. Real Madrid merupakan satu dari 20 klub yang berlaga di kompetisi tersebut dan menjadi tim dengan gelar liga terbanyak, yakni 36 kali.
Kementerian Luar Negeri China turut menanggapi kontroversi ini. Juru bicara Lin Jian mengatakan, “Kami telah mencermati laporan terkait. Perkataan dan tindakan yang melukai perasaan rakyat China tentu akan mendapat penentangan dari berbagai kalangan masyarakat China.”
China merupakan pasar penting bagi bintang olahraga internasional. Sejumlah merek lokal telah menandatangani kontrak dukungan bernilai jutaan dolar dengan Mbappé, penyerang Norwegia Erling Haaland, dan pemain NBA Stephen Curry.
Hingga pukul 14.00 waktu setempat pada Selasa, lima dari 10 topik terpopuler di Weibo berkaitan dengan Mbappé. Tagar “sejumlah merek mengakhiri kerja sama dengan Mbappé” menempati posisi teratas.
“Jangan pernah datang ke China,” demikian bunyi salah satu komentar terpopuler di Weibo.
Mengapa Mao menjadi sosok yang sensitif?
Mao mendirikan Republik Rakyat China pada 1949 dan memimpin negara tersebut melalui periode penuh gejolak pada 1960-an dan 1970-an.
Upayanya mempercepat industrialisasi melalui kebijakan yang dikenal sebagai Lompatan Jauh ke Depan (Great Leap Forward) memicu bencana kelaparan yang menewaskan puluhan juta orang.
Setelah itu, Revolusi Kebudayaan berlangsung sebagai gerakan pembersihan politik yang penuh kekerasan terhadap siapa pun yang dianggap mengancam komunisme. Sasarannya mencakup kaum intelektual, pemilik tanah, seniman, dan bahkan para pesaing Mao di dalam Partai Komunis.
Kematian Mao pada 1976 menandai dimulainya era baru bagi China, yang mulai membuka diri terhadap perekonomian global. Meskipun negara itu secara bertahap menjauh dari sistem pemerintahan Mao, Partai Komunis tetap mengagungkannya sebagai ikon nasional dengan warisan yang dianggap tidak boleh dipertanyakan.
Karena itu, lelucon atau meme tentang Mao tidak hanya dipandang sebagai penghinaan terhadap partai, tetapi juga sebagai tantangan terhadap narasi sejarah nasional yang dijaga ketat oleh pemerintah China.
Belum diketahui kapan meme Mao yang melibatkan Mbappé pertama kali muncul. Namun, julukannya sebagai “diktator” telah menjadikan penyerang tersebut sasaran berbagai meme dan lelucon di internet.
Mbappé secara luas dianggap sebagai salah satu pesepak bola terbaik di dunia. Ia juga memiliki pengaruh besar di klub-klub yang pernah dibelanya.
Kecepatan luar biasa, kemampuan mencetak gol, dan popularitasnya di seluruh dunia telah menjadikannya ikon global. Ia memiliki jutaan penggemar, kontrak sponsor besar, dan perhatian luas dari media, dengan pengaruh yang meluas hingga dunia mode, budaya, dan bisnis.
Pada 2024, Mbappé menggugat seorang influencer Prancis yang juga pemilik kedai kebab karena menggunakan namanya dalam deskripsi salah satu menu sandwich di tokonya. Kasus tersebut justru memicu lebih banyak lelucon terkait julukannya sebagai “diktator”.
Rekan Mbappé di tim nasional Prancis, Ousmane Dembélé, turut mengikuti tren tersebut selama Piala Dunia 2026 dengan menyebut Mbappé sebagai “Mobut”. Julukan itu merujuk pada Mobutu Sese Seko, diktator yang memerintah Republik Demokratik Kongo, yang sebelumnya dikenal sebagai Zaire, selama tiga dekade.
Dalam wawancara dengan France Football pada September, Mbappé mengakui bahwa banyak meme tersebut dibuat sebagai bahan candaan. Namun, ia mengatakan meme-meme itu “terkadang memperlihatkan kurangnya kesadaran politik dan kemanusiaan dari orang-orang”.
“Ada sisi yang tidak begitu lucu karena kita tahu kerusakan yang telah ditimbulkan orang-orang seperti itu sepanjang sejarah,” katanya.
“Dibandingkan dengan orang-orang yang membunuh orang lain atau membuat jutaan demi jutaan orang menderita, saya rasa saya tidak pernah melakukan hal seperti itu sepanjang hidup saya.”
