Ledakan gas di sebuah tambang batu bara di wilayah utara China menewaskan 90 orang, menurut laporan media pemerintah, menjadikannya bencana tambang paling mematikan di negara itu dalam lebih dari satu dekade terakhir.
“Upaya penyelamatan masih berlangsung. Jumlah korban masih terus didata,” lapor CCTV, seraya menambahkan sembilan orang lainnya masih hilang di tambang yang berada di Provinsi Shanxi.
Pemimpin China Xi Jinping sebelumnya menyerukan “upaya penyelamatan total” terhadap para korban yang masih hilang, menurut kantor berita pemerintah Xinhua pada Sabtu.
Xinhua menambahkan Xi juga “mendesak investigasi menyeluruh atas penyebab insiden tersebut, dengan pertanggungjawaban hukum ditegakkan sesuai peraturan.”
Sebelumnya, Xinhua melaporkan kadar karbon monoksida di dalam tambang batu bara Liushenyu di Kota Changzhi telah “melampaui batas aman”.
Biro Manajemen Darurat Kabupaten Qinyuan County, lokasi tambang berada, mengatakan bahwa tim beranggotakan 400 hingga 500 orang sedang melakukan operasi penyelamatan bawah tanah.
Pejabat tingkat provinsi juga telah tiba di lokasi kejadian.
seseorang yang menjawab telepon di perusahaan pengelola tambang — Shanxi Tongzhou Group Liushenyu Coal Industry — mengatakan mereka “tidak mengetahui situasinya” sebelum mengakhiri panggilan.
Batu bara masih menjadi sumber energi utama di China meskipun pemerintah dalam beberapa tahun terakhir berupaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Shanxi sendiri merupakan provinsi penghasil batu bara terbesar yang menyumbang lebih dari seperempat produksi nasional.
Industri tambang batu bara China juga dikenal memiliki catatan keselamatan kerja yang buruk dengan banyak kecelakaan fatal.
Keselamatan kerja memang mengalami perbaikan sejak awal 2000-an, tetapi insiden mematikan masih terus terjadi meski industri telah dikonsolidasikan dan pemerintah berulang kali mengeluarkan perintah peningkatan standar keamanan.
Pada 2023, sebanyak 53 pekerja tewas akibat runtuhnya tambang di Inner Mongolia, menurut laporan media pemerintah.
Ledakan terbaru terjadi pada Jumat pukul 19.30 waktu setempat, ketika 247 pekerja berada di bawah tanah.
Sedikitnya 201 orang berhasil dievakuasi hingga Sabtu pukul 06.00 pagi waktu setempat, menurut Xinhua.
Penyebab ledakan masih dalam penyelidikan.
