Di ibu kota India, Delhi, kekuasaan selama ini tidak hanya berputar di kementerian, kedutaan besar, dan parlemen — tetapi juga di beranda teduh Gymkhana Club.
Selama beberapa generasi, clubhouse berwarna krem yang berdiri di Safdarjung Road itu menjadi dunia tersendiri bagi para pensiunan jenderal, birokrat senior, dan keluarga bisnis lama yang menjalin negosiasi sambil menikmati whisky soda dan kebab. Bahkan mereka yang tak pernah menginjakkan kaki ke dalamnya — yang berarti sebagian besar warga Delhi — tetap mengenal reputasi kemegahan klub tersebut.
Kini, dunia itu menghadapi masa depan yang tak pasti.
Pekan lalu, pemerintah federal India yang memiliki lahan seluas 27,3 acre tempat klub berusia 113 tahun itu berdiri, memerintahkan Gymkhana Club untuk mengosongkan lokasi paling lambat 5 Juni. Pemerintah menyebut lahan tersebut diperlukan untuk “infrastruktur pertahanan dan kepentingan keamanan publik vital lainnya”.
Dalam surat pemberitahuannya, pemerintah menyebut kawasan itu sebagai zona “sangat sensitif dan strategis” karena berada dekat kediaman perdana menteri. Pemerintah juga menyatakan masa sewa lahan dihentikan dengan “efek segera”.
Para anggota klub menggugat keputusan itu ke pengadilan, dengan sidang dijadwalkan berlangsung pada Selasa.
Pemberitahuan tersebut muncul setelah bertahun-tahun pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi menyoroti berbagai institusi elite, sekaligus kembali memicu perdebatan soal privilese, warisan sejarah, dan ruang publik.
Namun, polemik itu juga memunculkan gelombang nostalgia yang tak terduga. Sejumlah warga Delhi mulai menunjukkan rasa sayang terhadap tempat yang selama ini kerap mereka kritik.
Gymkhana dikenal mahal untuk dimasuki, tetapi akses keanggotaan selama ini lebih banyak dikendalikan lewat sistem eksklusif dibanding soal biaya. Pendaftar harus direkomendasikan dan didukung oleh anggota lain, sebelum akhirnya disetujui komite pengelola. Proses itu secara tradisional lebih menguntungkan birokrat senior dan perwira militer, sementara kelompok lain mendapat porsi lebih kecil. Para pengkritik menilai sistem tersebut turut mempertahankan ketimpangan sosial, meski di sisi lain membuat Gymkhana menjadi salah satu keanggotaan paling bergengsi di Delhi.
Meski demikian, banyak orang mengenang bagaimana tempat itu mempertahankan fragmen masa lalu elite Delhi lewat ritual-ritual kecil: pelayan berseragam saat senja, gin dan limau di beranda teduh, serta para pensiunan jenderal dan diplomat yang menghabiskan waktu di bawah pohon neem.
Seorang jurnalis senior berbasis di Delhi yang tak pernah menjadi anggota klub mengatakan bahwa Gymkhana selalu terasa “jauh”. “Tetapi sekarang saya merasa ingin masuk sekali saja. Ini salah satu sedikit bangunan di Delhi yang tetap tak tersentuh ketika kota di luar berubah total,” katanya.
Didirikan pada 1913 dengan nama Imperial Delhi Gymkhana Club, tempat itu lahir bersamaan dengan pembangunan Delhi modern setelah Inggris memindahkan ibu kota India dari Kolkata — yang sebelumnya dikenal sebagai Calcutta. Awalnya, klub beroperasi di Coronation Grounds di Civil Lines untuk melayani administrator dan perwira militer Inggris, sebelum menempati lokasi sekarang di Safdarjung Road pada 1928.
Clubhouse yang berdiri saat ini dirancang pada 1930-an oleh arsitek Inggris Robert Tor Russell — yang juga merancang kawasan ikonik Connaught Place. Bangunan itu mencerminkan arsitektur awal pusat Delhi dengan beranda lebar, langit-langit tinggi, dan fasad pucat yang menghadap pepohonan serta hamparan rumput.
Di dalamnya, waktu seakan bergerak lebih lambat: pakaian tenis putih dijemur di bawah matahari sore, ruang bridge dipenuhi samar aroma rokok dan bedak talek, sementara anggota lanjut usia membaca koran di bawah kipas langit-langit yang berputar perlahan.
Sejarah terasa hidup di tempat itu dengan cara yang intim.
Pada dekade-dekade awalnya, para pejabat Indian Civil Service yang bergaya Barat — termasuk sedikit warga India yang diterima dalam lingkaran elite kolonial — disebut belajar dansa ballroom dan etiket sosial Inggris di klub tersebut demi menyesuaikan diri dengan tata krama masyarakat imperium.
Pada 1947, ketika Tentara India Britania dibagi antara India dan Pakistan yang baru terbentuk, para perwira dari resimen yang akan dipisahkan berkumpul di klub untuk minum perpisahan sebelum sejarah menempatkan mereka di dua sisi perbatasan yang berbeda.
Gambaran para perwira yang menikmati malam terakhir bersama itu membantu menjelaskan mengapa kemungkinan penutupan Gymkhana begitu emosional bagi banyak warga Delhi.
Tempat-tempat seperti ini menjadi penyimpan memori, membawa jejak berbagai era di dalamnya. “Kota adalah entitas berlapis. Generasi yang berbeda meninggalkan jejak mereka,” kata sejarawan Narayani Gupta suatu ketika.
Pada tahun-tahun terakhir kekuasaan Inggris dan dekade awal setelah kemerdekaan India, klub tersebut tetap sangat dekat dengan kehidupan politik ibu kota.
Saat perayaan 100 tahun Gymkhana pada 2013, Presiden India saat itu, Pranab Mukherjee, mengenang bahwa Mahatma Gandhi dan Lord Irwin — Raja Muda India kala itu — pernah bertemu secara pribadi di sana. Pertemuan itu kemudian melahirkan kesepakatan yang dikenal sebagai Pakta Gandhi-Irwin.
Setelah 1947, kata “Imperial” dihapus dari nama klub, tetapi sebagian besar atmosfernya tetap bertahan: aturan berpakaian, karpet lama, minuman sore, dan pelayan yang melayani generasi demi generasi dari keluarga yang sama. Seiring waktu, Gymkhana juga menjadi simbol jenis privilese turun-temurun tertentu di Delhi.
Daftar tunggu keanggotaannya yang terkenal sangat panjang — bahkan bisa mencapai puluhan tahun — menjadi bagian dari legenda kota, sementara para pengkritik melihat klub itu sebagai simbol pengaruh yang dibangun lewat jaringan pribadi dan warisan keluarga.
Seorang pensiunan pejabat Indian Police Service mengatakan bahwa ia membutuhkan waktu 18 tahun untuk mendapatkan keanggotaan. “Ketika mendaftar, saya terpesona oleh gagasan tentang klub itu,” katanya. “Saat akhirnya diterima, saya justru sudah tidak terlalu peduli dan jarang datang.”
Dokter asal Delhi, Ghazal Tansir, yang pertama kali mengunjungi klub itu saat resepsi pernikahannya pada 2019 melalui keanggotaan kerabat, menggambarkan Gymkhana sebagai “sudut kecil penuh kenangan yang tetap terjaga dan tak terganggu”.
Eksklusivitas tersebut semakin mendapat sorotan setelah pemerintahan Modi berkuasa pada 2014 dengan janji menggeser dominasi elite lama Delhi yang berbahasa Inggris.
Setelah inspeksi pada 2016 dan 2019, Kementerian Urusan Korporasi India membawa persoalan klub ke tribunal pemerintah pada 2020 dengan tuduhan adanya penyimpangan keuangan dan pelanggaran aturan keanggotaan.
Dua tahun kemudian, tribunal membubarkan komite pengurus hasil pemilihan klub dan mengizinkan pemerintah menunjuk administrator sebagai pengganti — langkah yang menuai kritik dari sebagian anggota.
Perintah pengosongan terbaru kembali memecah opini publik.
Kiran Bedi, mantan pejabat tinggi kepolisian yang pernah menjadi kandidat kepala pemerintahan Delhi dari Partai Bharatiya Janata (BJP) pimpinan Modi, menyebut langkah itu “disayangkan dan tragis”, serta menilai Gymkhana sebagai bagian dari warisan olahraga dan institusional ibu kota.
Sejarawan Swapna Liddle mengakui asal-usul elitistis klub tersebut, tetapi mengatakan ia lebih memilih upaya reformasi dibanding penutupan. “Daripada hanya mengatakan ‘biarkan tempat ini tidak ada lagi’, pemerintah seharusnya bisa memikirkan bagaimana mengubahnya agar lebih bermakna bagi lebih banyak orang,” ujarnya.
Sebagian pihak memiliki pandangan berbeda. Jurnalis Prabhu Chawla mengkritik klub seperti Gymkhana sebagai institusi eksklusif yang beroperasi di atas lahan publik dengan subsidi besar.
Namun mantan diplomat KC Singh mengatakan klub-klub semacam itu secara historis memberikan ruang rekreasi yang terjangkau bagi pegawai negeri dan perwira militer meski gaji pemerintah relatif terbatas.
Juru bicara BJP, RP Singh, menolak anggapan bahwa pemerintah secara tidak adil menargetkan klub tersebut. “Ini adalah properti yang disewakan pemerintah,” katanya “Semua telah dilakukan sesuai aturan dan hukum yang berlaku.”
Di balik perdebatan hukum dan politik itu, tersimpan respons yang lebih emosional — terkait memori dan kehilangan di kota yang terus berubah.
Delhi telah menghabiskan puluhan tahun untuk membentuk ulang dirinya. Hampir setiap penduduk menyimpan atlas pribadi tentang tempat-tempat yang telah hilang: Regal Cinema, Coffee House lama, toko buku Urdu di Daryaganj, hingga malam musim dingin di India Gate sebelum barikade dan pengamanan mengubah wajah kota.
Namun beberapa tempat tampak mampu bertahan dari perubahan itu.
Gymkhana adalah salah satunya. Klub tersebut melewati masa kolonial, pemisahan India-Pakistan yang berdarah, gejolak kemerdekaan, hingga transformasi Delhi menjadi kota megapolitan yang luas.
Jika klub itu akhirnya kehilangan rumahnya, Delhi mungkin masih memiliki klub-klub baru, hotel yang lebih mewah, dan restoran yang lebih ramai.
Tetapi, seperti diingatkan banyak orang, kota ini mungkin juga kehilangan sesuatu yang lebih tak kasat mata: salah satu tempat terakhir di mana wajah lama Delhi masih terasa hidup.
