Close Menu

    Subscribe to Updates

    Dapatkan informasi terbaru dari mayoritas.com

    Apa yang Viral?

    Ancaman Ledakan Besar di California Mereda, Ribuan Warga Masih Mengungsi akibat Tangki Kimia Berbahaya

    26/05/2026

    Paus Leo XIV Peringatkan Bahaya AI dalam Dokumen Besar Pertamanya: “Teknologi Tak Boleh Dikuasai Segelintir Orang”

    26/05/2026

    Ferrari Gegerkan Dunia Otomotif dengan Mobil Listrik Pertama, Desainnya Picu Pro dan Kontra

    26/05/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • POLITIK
      • Politik Amerika
      • Politik Asia
      • Politik Dunia
      • Politik Eropa
      • Politik Nasional
      • Politik Timur Tengah
    • Nasional

      Ancaman Ledakan Besar di California Mereda, Ribuan Warga Masih Mengungsi akibat Tangki Kimia Berbahaya

      26/05/2026

      Paus Leo XIV Peringatkan Bahaya AI dalam Dokumen Besar Pertamanya: “Teknologi Tak Boleh Dikuasai Segelintir Orang”

      26/05/2026

      Ferrari Gegerkan Dunia Otomotif dengan Mobil Listrik Pertama, Desainnya Picu Pro dan Kontra

      26/05/2026

      Dari Buah Kampung Jadi Primadona Ekspor, Custard Apple Mulai Mengubah Nasib Petani India

      26/05/2026

      Kepanikan di Pusat Perbelanjaan Mewah Tokyo, Belasan Orang Dilarikan ke Rumah Sakit akibat Bau Menyengat

      26/05/2026
    • TEKNOLOGI

      Paus Leo XIV Peringatkan Bahaya AI dalam Dokumen Besar Pertamanya: “Teknologi Tak Boleh Dikuasai Segelintir Orang”

      26/05/2026

      Ferrari Gegerkan Dunia Otomotif dengan Mobil Listrik Pertama, Desainnya Picu Pro dan Kontra

      26/05/2026

      Dari Buah Kampung Jadi Primadona Ekspor, Custard Apple Mulai Mengubah Nasib Petani India

      26/05/2026

      “Kami Mengira Itu Hanya Sepeda”: Lonjakan Kecelakaan E-Bike Picu Alarm bagi Orang Tua dan Dokter

      25/05/2026

      Berawal dari Obrolan di Pesawat, Berujung Pernikahan: Kisah Tak Terduga yang Dimulai dari Satu Emoji Mawar

      25/05/2026
    • Hiburan
    • Belanja Sekarang
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    Mayoritas.com
    Langganan Sekarang
    TOPIK PANAS
    • Olahraga
    • Ekonomi & Pasar
      • Bisnis
      • Ekonomi
      • Keuangan
    • Wisata & Kuliner
    • Belanja Sekarang
    Mayoritas.com
    Home»Ekonomi & Pasar»Bisnis»Klub Paling Eksklusif di Delhi Terancam Ditutup, Simbol Elite dan Sejarah Kota di Ujung Tanduk
    Bisnis

    Klub Paling Eksklusif di Delhi Terancam Ditutup, Simbol Elite dan Sejarah Kota di Ujung Tanduk

    joveBy jove26/05/2026No Comments7 Mins Read3 Views
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Di ibu kota India, Delhi, kekuasaan selama ini tidak hanya berputar di kementerian, kedutaan besar, dan parlemen — tetapi juga di beranda teduh Gymkhana Club.

    Selama beberapa generasi, clubhouse berwarna krem yang berdiri di Safdarjung Road itu menjadi dunia tersendiri bagi para pensiunan jenderal, birokrat senior, dan keluarga bisnis lama yang menjalin negosiasi sambil menikmati whisky soda dan kebab. Bahkan mereka yang tak pernah menginjakkan kaki ke dalamnya — yang berarti sebagian besar warga Delhi — tetap mengenal reputasi kemegahan klub tersebut.

    Kini, dunia itu menghadapi masa depan yang tak pasti.

    Pekan lalu, pemerintah federal India yang memiliki lahan seluas 27,3 acre tempat klub berusia 113 tahun itu berdiri, memerintahkan Gymkhana Club untuk mengosongkan lokasi paling lambat 5 Juni. Pemerintah menyebut lahan tersebut diperlukan untuk “infrastruktur pertahanan dan kepentingan keamanan publik vital lainnya”.

    Dalam surat pemberitahuannya, pemerintah menyebut kawasan itu sebagai zona “sangat sensitif dan strategis” karena berada dekat kediaman perdana menteri. Pemerintah juga menyatakan masa sewa lahan dihentikan dengan “efek segera”.

    Para anggota klub menggugat keputusan itu ke pengadilan, dengan sidang dijadwalkan berlangsung pada Selasa.

    Pemberitahuan tersebut muncul setelah bertahun-tahun pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi menyoroti berbagai institusi elite, sekaligus kembali memicu perdebatan soal privilese, warisan sejarah, dan ruang publik.

    Namun, polemik itu juga memunculkan gelombang nostalgia yang tak terduga. Sejumlah warga Delhi mulai menunjukkan rasa sayang terhadap tempat yang selama ini kerap mereka kritik.

    Gymkhana dikenal mahal untuk dimasuki, tetapi akses keanggotaan selama ini lebih banyak dikendalikan lewat sistem eksklusif dibanding soal biaya. Pendaftar harus direkomendasikan dan didukung oleh anggota lain, sebelum akhirnya disetujui komite pengelola. Proses itu secara tradisional lebih menguntungkan birokrat senior dan perwira militer, sementara kelompok lain mendapat porsi lebih kecil. Para pengkritik menilai sistem tersebut turut mempertahankan ketimpangan sosial, meski di sisi lain membuat Gymkhana menjadi salah satu keanggotaan paling bergengsi di Delhi.

    Meski demikian, banyak orang mengenang bagaimana tempat itu mempertahankan fragmen masa lalu elite Delhi lewat ritual-ritual kecil: pelayan berseragam saat senja, gin dan limau di beranda teduh, serta para pensiunan jenderal dan diplomat yang menghabiskan waktu di bawah pohon neem.

    Seorang jurnalis senior berbasis di Delhi yang tak pernah menjadi anggota klub mengatakan bahwa Gymkhana selalu terasa “jauh”. “Tetapi sekarang saya merasa ingin masuk sekali saja. Ini salah satu sedikit bangunan di Delhi yang tetap tak tersentuh ketika kota di luar berubah total,” katanya.

    Didirikan pada 1913 dengan nama Imperial Delhi Gymkhana Club, tempat itu lahir bersamaan dengan pembangunan Delhi modern setelah Inggris memindahkan ibu kota India dari Kolkata — yang sebelumnya dikenal sebagai Calcutta. Awalnya, klub beroperasi di Coronation Grounds di Civil Lines untuk melayani administrator dan perwira militer Inggris, sebelum menempati lokasi sekarang di Safdarjung Road pada 1928.

    Clubhouse yang berdiri saat ini dirancang pada 1930-an oleh arsitek Inggris Robert Tor Russell — yang juga merancang kawasan ikonik Connaught Place. Bangunan itu mencerminkan arsitektur awal pusat Delhi dengan beranda lebar, langit-langit tinggi, dan fasad pucat yang menghadap pepohonan serta hamparan rumput.

    Di dalamnya, waktu seakan bergerak lebih lambat: pakaian tenis putih dijemur di bawah matahari sore, ruang bridge dipenuhi samar aroma rokok dan bedak talek, sementara anggota lanjut usia membaca koran di bawah kipas langit-langit yang berputar perlahan.

    Sejarah terasa hidup di tempat itu dengan cara yang intim.

    Pada dekade-dekade awalnya, para pejabat Indian Civil Service yang bergaya Barat — termasuk sedikit warga India yang diterima dalam lingkaran elite kolonial — disebut belajar dansa ballroom dan etiket sosial Inggris di klub tersebut demi menyesuaikan diri dengan tata krama masyarakat imperium.

    Pada 1947, ketika Tentara India Britania dibagi antara India dan Pakistan yang baru terbentuk, para perwira dari resimen yang akan dipisahkan berkumpul di klub untuk minum perpisahan sebelum sejarah menempatkan mereka di dua sisi perbatasan yang berbeda.

    Gambaran para perwira yang menikmati malam terakhir bersama itu membantu menjelaskan mengapa kemungkinan penutupan Gymkhana begitu emosional bagi banyak warga Delhi.

    Tempat-tempat seperti ini menjadi penyimpan memori, membawa jejak berbagai era di dalamnya. “Kota adalah entitas berlapis. Generasi yang berbeda meninggalkan jejak mereka,” kata sejarawan Narayani Gupta suatu ketika.

    Pada tahun-tahun terakhir kekuasaan Inggris dan dekade awal setelah kemerdekaan India, klub tersebut tetap sangat dekat dengan kehidupan politik ibu kota.

    Saat perayaan 100 tahun Gymkhana pada 2013, Presiden India saat itu, Pranab Mukherjee, mengenang bahwa Mahatma Gandhi dan Lord Irwin — Raja Muda India kala itu — pernah bertemu secara pribadi di sana. Pertemuan itu kemudian melahirkan kesepakatan yang dikenal sebagai Pakta Gandhi-Irwin.

    Setelah 1947, kata “Imperial” dihapus dari nama klub, tetapi sebagian besar atmosfernya tetap bertahan: aturan berpakaian, karpet lama, minuman sore, dan pelayan yang melayani generasi demi generasi dari keluarga yang sama. Seiring waktu, Gymkhana juga menjadi simbol jenis privilese turun-temurun tertentu di Delhi.

    Daftar tunggu keanggotaannya yang terkenal sangat panjang — bahkan bisa mencapai puluhan tahun — menjadi bagian dari legenda kota, sementara para pengkritik melihat klub itu sebagai simbol pengaruh yang dibangun lewat jaringan pribadi dan warisan keluarga.

    Seorang pensiunan pejabat Indian Police Service mengatakan bahwa ia membutuhkan waktu 18 tahun untuk mendapatkan keanggotaan. “Ketika mendaftar, saya terpesona oleh gagasan tentang klub itu,” katanya. “Saat akhirnya diterima, saya justru sudah tidak terlalu peduli dan jarang datang.”

    Dokter asal Delhi, Ghazal Tansir, yang pertama kali mengunjungi klub itu saat resepsi pernikahannya pada 2019 melalui keanggotaan kerabat, menggambarkan Gymkhana sebagai “sudut kecil penuh kenangan yang tetap terjaga dan tak terganggu”.

    Eksklusivitas tersebut semakin mendapat sorotan setelah pemerintahan Modi berkuasa pada 2014 dengan janji menggeser dominasi elite lama Delhi yang berbahasa Inggris.

    Setelah inspeksi pada 2016 dan 2019, Kementerian Urusan Korporasi India membawa persoalan klub ke tribunal pemerintah pada 2020 dengan tuduhan adanya penyimpangan keuangan dan pelanggaran aturan keanggotaan.

    Dua tahun kemudian, tribunal membubarkan komite pengurus hasil pemilihan klub dan mengizinkan pemerintah menunjuk administrator sebagai pengganti — langkah yang menuai kritik dari sebagian anggota.

    Perintah pengosongan terbaru kembali memecah opini publik.

    Kiran Bedi, mantan pejabat tinggi kepolisian yang pernah menjadi kandidat kepala pemerintahan Delhi dari Partai Bharatiya Janata (BJP) pimpinan Modi, menyebut langkah itu “disayangkan dan tragis”, serta menilai Gymkhana sebagai bagian dari warisan olahraga dan institusional ibu kota.

    Sejarawan Swapna Liddle mengakui asal-usul elitistis klub tersebut, tetapi mengatakan ia lebih memilih upaya reformasi dibanding penutupan. “Daripada hanya mengatakan ‘biarkan tempat ini tidak ada lagi’, pemerintah seharusnya bisa memikirkan bagaimana mengubahnya agar lebih bermakna bagi lebih banyak orang,” ujarnya.

    Sebagian pihak memiliki pandangan berbeda. Jurnalis Prabhu Chawla mengkritik klub seperti Gymkhana sebagai institusi eksklusif yang beroperasi di atas lahan publik dengan subsidi besar.

    Namun mantan diplomat KC Singh mengatakan klub-klub semacam itu secara historis memberikan ruang rekreasi yang terjangkau bagi pegawai negeri dan perwira militer meski gaji pemerintah relatif terbatas.

    Juru bicara BJP, RP Singh, menolak anggapan bahwa pemerintah secara tidak adil menargetkan klub tersebut. “Ini adalah properti yang disewakan pemerintah,” katanya  “Semua telah dilakukan sesuai aturan dan hukum yang berlaku.”

    Di balik perdebatan hukum dan politik itu, tersimpan respons yang lebih emosional — terkait memori dan kehilangan di kota yang terus berubah.

    Delhi telah menghabiskan puluhan tahun untuk membentuk ulang dirinya. Hampir setiap penduduk menyimpan atlas pribadi tentang tempat-tempat yang telah hilang: Regal Cinema, Coffee House lama, toko buku Urdu di Daryaganj, hingga malam musim dingin di India Gate sebelum barikade dan pengamanan mengubah wajah kota.

    Namun beberapa tempat tampak mampu bertahan dari perubahan itu.

    Gymkhana adalah salah satunya. Klub tersebut melewati masa kolonial, pemisahan India-Pakistan yang berdarah, gejolak kemerdekaan, hingga transformasi Delhi menjadi kota megapolitan yang luas.

    Jika klub itu akhirnya kehilangan rumahnya, Delhi mungkin masih memiliki klub-klub baru, hotel yang lebih mewah, dan restoran yang lebih ramai.

    Tetapi, seperti diingatkan banyak orang, kota ini mungkin juga kehilangan sesuatu yang lebih tak kasat mata: salah satu tempat terakhir di mana wajah lama Delhi masih terasa hidup.

    hotel India klub travel
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    jove
    • Website

    Related Posts

    Bencana

    Ancaman Ledakan Besar di California Mereda, Ribuan Warga Masih Mengungsi akibat Tangki Kimia Berbahaya

    26/05/2026
    Gadget

    Paus Leo XIV Peringatkan Bahaya AI dalam Dokumen Besar Pertamanya: “Teknologi Tak Boleh Dikuasai Segelintir Orang”

    26/05/2026
    Bisnis

    Ferrari Gegerkan Dunia Otomotif dengan Mobil Listrik Pertama, Desainnya Picu Pro dan Kontra

    26/05/2026
    Ekonomi & Pasar

    Dari Buah Kampung Jadi Primadona Ekspor, Custard Apple Mulai Mengubah Nasib Petani India

    26/05/2026
    Bisnis

    Kepanikan di Pusat Perbelanjaan Mewah Tokyo, Belasan Orang Dilarikan ke Rumah Sakit akibat Bau Menyengat

    26/05/2026
    Hukum Kriminal

    Pria Bersenjata yang Ditembak Mati di Dekat Gedung Putih Pernah Mengaku sebagai Yesus Kristus

    26/05/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Langganan Berita

    Dapatkan berita olahraga terkini dari NewsSite tentang dunia, olahraga, dan politik.

    Pilihan Editor

    Ancaman Ledakan Besar di California Mereda, Ribuan Warga Masih Mengungsi akibat Tangki Kimia Berbahaya

    26/05/2026

    Paus Leo XIV Peringatkan Bahaya AI dalam Dokumen Besar Pertamanya: “Teknologi Tak Boleh Dikuasai Segelintir Orang”

    26/05/2026

    Ferrari Gegerkan Dunia Otomotif dengan Mobil Listrik Pertama, Desainnya Picu Pro dan Kontra

    26/05/2026

    Dari Buah Kampung Jadi Primadona Ekspor, Custard Apple Mulai Mengubah Nasib Petani India

    26/05/2026
    Info Terbaru

    Apa Itu Lifestyle Sedentary? Menimbulkan Banyak Penyakit Hingga Dapat Terkena Kanker

    20/01/2021

    Pebasket Zhang Ziyu Setinggi 220M Menarik Perhatian Usai Mengalahkan Tim U-18 Indonesia

    15/01/2021

    Kronologi Atlet Bulu Tangkis China Zhang Zhi Jie Meninggal Di Ajang AJC 2024

    15/01/2021
    Advertisement
    LOGO_FOOTER_MAYORITAS
    Facebook X (Twitter) Pinterest Vimeo WhatsApp TikTok Instagram

    News

    • Ekonomi & Pasar
    • Olahraga
    • Opini
    • Otomotif
    • Wisata Kuliner
    • Video Unggulan
    • Kesehatan

    Company

    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Hak Cipta
    • Disclaimer
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Panduan Kebijakan

    Layanan

    • Toko
    • Customer Support
    • Karir
    • Tentang kami
    • Hubungi Kami
    • Akses login

    Langganan Updates

    Dapatkan informasi terkinni seputar fakta informasi dunia, anda bisa berlangganan melalui email anda

    © 2026 Mayoritas.com
    • Privacy Policy
    • Term of Service
    • Contact us

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.