Militer Amerika Serikat menyatakan telah menembak jatuh empat drone bunuh diri Iran yang diluncurkan menuju Selat Hormuz. Washington menegaskan drone-drone tersebut “menimbulkan ancaman langsung terhadap lalu lintas maritim di kawasan”.
Dalam sebuah pernyataan, Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) mengatakan pasukan AS kemudian menyerang lokasi radar pengawasan pantai Iran di Goruk dan Pulau Qeshm sebagai langkah pertahanan untuk mencegah serangan lanjutan.
Sebagai balasan, Iran menembakkan rudal balistik ke dua pangkalan udara AS di Kuwait serta fasilitas Angkatan Laut Amerika Serikat di Bahrain, menurut laporan kantor berita pemerintah Iran, IRIB.
Centcom menyatakan hasil penilaian awal menunjukkan bahwa dari tujuh rudal Iran yang ditembakkan ke dua negara Teluk tersebut, enam berhasil dicegat sementara satu rudal lainnya gagal mencapai sasaran.
Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan dalam eskalasi yang mengancam keberlangsungan gencatan senjata rapuh antara kedua negara.
Seorang warga dilaporkan tewas dan lebih dari 60 orang mengalami luka-luka akibat serangan drone Iran terhadap Bandara Internasional Kuwait pada Rabu, menurut pejabat setempat.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) membantah bertanggung jawab atas serangan terhadap bandara tersebut. Mereka mengklaim kerusakan yang terjadi disebabkan oleh kesalahan sistem pencegat rudal milik Amerika Serikat.
Namun, Centcom menolak klaim tersebut dan menyatakan bahwa Iran memang menyerang bandara itu dalam sebuah “serangan yang disengaja, terencana, dan tidak dapat dibenarkan”.
Sebelumnya, IRGC menyatakan pihaknya menargetkan pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Teluk sebagai balasan atas serangan Amerika terhadap sebuah kapal tanker minyak Iran dan Pulau Qeshm.
Rangkaian serangan itu terjadi ketika perundingan gencatan senjata antara Washington dan Teheran mengalami kebuntuan. Upaya mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang belum menunjukkan kemajuan berarti.
Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian memicu meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Iran merespons dengan menyerang Israel serta negara-negara Teluk yang bersekutu dengan Amerika Serikat, sekaligus secara efektif menutup Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis tersebut menjadi rute sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair dunia.
Penutupan Selat Hormuz sempat mendorong lonjakan harga energi di pasar global.
Tak lama setelah gencatan senjata disepakati pada awal April, Amerika Serikat memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Presiden Donald Trump menegaskan blokade tersebut akan tetap diberlakukan “sepenuhnya dan secara efektif sampai sebuah kesepakatan tercapai, disertifikasi, dan ditandatangani.”
