Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mulai berdampak ke lebih banyak negara tetangga. Setelah Malaysia dan Singapura, Brunei Darussalam serta Filipina juga melaporkan penurunan kualitas udara dalam beberapa hari terakhir.
Kementerian Kesehatan Brunei pada Minggu (31 Agustus) mengeluarkan peringatan kepada masyarakat seiring kondisi berkabut mulai melanda sejumlah wilayah. Kondisi tersebut berpotensi memicu gangguan kesehatan seperti batuk, iritasi mata, hingga pilek.
Dikutip dari Asia News Network, Kementerian Kesehatan Brunei meminta kelompok rentan, termasuk penderita asma, penyakit paru-paru dan jantung, orang yang memiliki alergi debu, ibu hamil, anak-anak, serta lansia, untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan yang tidak kunjung membaik atau justru semakin parah juga diminta segera mendapatkan pemeriksaan di fasilitas kesehatan terdekat.
Data citra satelit Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC) menunjukkan peningkatan titik panas di Kalimantan. Tercatat 514 titik panas pada 27 Agustus 2026, kemudian meningkat menjadi 1.734 titik pada 28 Agustus dan 1.180 titik pada 29 Agustus.
Sebagian besar titik panas tersebut berada di wilayah barat Kalimantan, terutama Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Kondisi ini diperburuk oleh angin dominan dari arah barat daya yang membawa kabut asap menuju Brunei.
Menurut Departemen Meteorologi Brunei Darussalam (BDMD) di bawah Kementerian Transportasi dan Infokomunikasi, Brunei saat ini berada dalam periode Monsun Barat Daya. Dalam periode tersebut, angin secara umum bertiup dari arah barat daya di wilayah Brunei dan sekitarnya.
Meski terpapar kabut asap, kualitas udara di Brunei masih berada pada kategori baik hingga sedang berdasarkan Indeks Standar Polutan (Pollutant Standard Index/PSI) di seluruh stasiun pemantauan yang tersebar di empat distrik.
Pada Sabtu (30 Agustus), PSI tertinggi tercatat di Brunei-Muara dengan angka 73. Selanjutnya Tutong berada di angka 70, Temburong 63, dan Belait 50.
PSI di bawah 50 dikategorikan sebagai baik, sedangkan angka 50 hingga 100 masuk kategori sedang.
Filipina Turut Dilanda Kabut Asap
Dampak karhutla Indonesia juga mulai dirasakan di Filipina. Kabut asap dilaporkan menyelimuti sejumlah wilayah di negara tersebut dan menyebabkan kualitas udara memburuk.
Biro Manajemen Lingkungan di bawah Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam (DENR) melaporkan kualitas udara di beberapa wilayah Metro Manila telah mencapai kategori “sangat tidak sehat” hingga “sangat tidak sehat akut”.
DENR mengaitkan peningkatan polusi tersebut dengan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia.
“Tingginya kadar PM2.5 mungkin terkait dengan kabut asap dari kebakaran yang sedang berlangsung di Kalimantan, Indonesia, yang terbawa angin menuju Filipina,” demikian pernyataan badan tersebut pada Selasa (1 September).
DENR mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan dalam waktu lama, khususnya bagi kelompok yang sensitif terhadap polusi udara.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah Filipina menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar tatap muka di seluruh sekolah negeri di Kota Quezon. Keputusan tersebut diambil setelah sensor pemantauan lokal mencatat kualitas udara pada tingkat berbahaya.
Sekolah-sekolah swasta juga diimbau menerapkan pembelajaran jarak jauh atau daring selama kondisi tersebut berlangsung.
“Semua orang diimbau mengenakan masker dan mengurangi waktu serta aktivitas fisik di luar ruangan. Mohon tunggu pengumuman selanjutnya,” demikian pernyataan Pemerintah Kota Quezon, seperti dikutip Philstar.
Sebelum Brunei dan Filipina, Malaysia serta Singapura telah lebih dahulu melaporkan kabut asap dan memburuknya kualitas udara yang dikaitkan dengan karhutla di Indonesia.
Di Malaysia, kondisi bahkan mencapai tingkat berbahaya di negara bagian Sarawak pada Senin (31 Agustus). Indeks Polusi Udara (Air Pollutant Index/API) tercatat menembus angka 476 pada pagi hari.
Dalam sistem API Malaysia, nilai 0 hingga 50 menunjukkan kualitas udara baik, 51 hingga 100 sedang, 101 hingga 200 tidak sehat, 201 hingga 300 sangat tidak sehat, sementara angka di atas 300 dikategorikan sebagai berbahaya.
