Selama empat hari berturut-turut, Peter Marinker datang ke tempat latihan yang ternyata bahkan tidak sedang berlangsung. Demensia membuatnya keliru mengingat jadwal.
Namun, kini ia tengah mempersiapkan sesuatu yang akan terasa menakutkan bagi sebagian besar aktor, bahkan bagi mereka yang memiliki daya ingat sempurna: memainkan seorang diri drama Samuel Beckett yang sangat dicintai di sebuah panggung London.
Marinker, 85 tahun, dikenal terutama melalui karya sulih suaranya, mulai dari drama radio dan gim video hingga film beranggaran besar seperti Labyrinth dan Paddington in Peru.
Di layar lebar, ia berperan sebagai penasihat presiden Amerika Serikat dalam Love Actually dan salah satu penumpang pesawat dalam drama United 93.
Pada 2023, ia memerankan Gandalf dalam pertunjukan panggung The Lord of the Rings ketika mulai merasa dirinya “seperti mati sesaat” dan seorang pemeran pengganti harus mengambil alih perannya hingga rangkaian pertunjukan berakhir.
Serangkaian pemindaian MRI dan pemeriksaan kesehatan lainnya kemudian dilakukan. Dua tahun lalu, ia didiagnosis menderita penyakit Alzheimer.
“Saya hanya harus menerimanya,” katanya. “Itu menjelaskan mengapa saya terus kehilangan barang dan saya mulai menertawakan diri sendiri, termasuk semua hal konyol lain yang saya lakukan berulang kali.”
Pada titik itu, sebagian aktor mungkin memilih mengurangi aktivitas karena tekanan tampil di hadapan penonton secara langsung.
Namun, secara “tiba-tiba”, sebuah telepon datang dari seseorang yang pernah bekerja erat dengan Marinker, Dave Wybrow, direktur Cockpit Theatre di London.
Gagasannya adalah mementaskan Krapp’s Last Tape, drama intens yang hanya dimainkan satu aktor. Dalam drama tersebut, seorang penulis yang menua mendengarkan kembali rekaman dirinya saat masih muda sembari mengenang penyesalan dan kesempatan yang terlewat sepanjang hidupnya.
“Ini pertunjukan yang luar biasa dan karya tulis yang luar biasa,” kata Wybrow, yang ibunya juga mengalami masalah daya ingat pada akhir hidupnya.
Latihan telah berlangsung sejak akhir Juni untuk memberikan Marinker waktu tambahan berlatih. Sebuah tim lengkap juga dibentuk untuk memastikan pertunjukan tersebut dapat terlaksana.
Seorang manajer panggung akan berdiri di samping set selama pertunjukan, layar teleprompter akan ditempatkan di sejumlah titik di dalam teater, sementara Marinker akan mengenakan alat bantu dengar berukuran sangat kecil agar ia dapat segera diberi petunjuk jika lupa dialog.
Wybrow menegaskan bahwa pertunjukan ini bukan tentang “menutupi” penyakit Marinker, melainkan menunjukkan bahwa kerja kreatif secara kolaboratif masih sangat mungkin dilakukan setelah seseorang didiagnosis demensia.
Sejak hari pertama, Marinker mengatakan dirinya tidak memiliki kekhawatiran.
“Dave bertanya apakah saya mau melakukannya, dan saya langsung menjawab, ‘Ya. Oh ya, ya, ya, ya!'” katanya.
“Saya tetap akan merasa gugup pada malam pertama, tetapi saya tahu cara mengatasinya. Itu hanya adrenalin.”
Gaung dari Masa Lalu
Ini bukan pertama kalinya Marinker memainkan drama tersebut. Ia pertama kali memerankan tokoh yang sama pada 1983.
Tim produksi menemukan rekaman pita rol dari pertunjukan tersebut yang dibuat lebih dari 40 tahun lalu. Rekaman itu akan dipadukan ke dalam produksi baru ketika tokoh yang diperankan Marinker mendengarkan kembali suara dirinya di masa muda.
Salah satu hal yang menarik mengenai Alzheimer adalah hilangnya ingatan dapat terjadi secara selektif, bukan secara merata.
Pada tahap awal penyakit ini, wilayah di sekitar hipokampus, yang berada jauh di dalam lobus temporal otak, termasuk bagian yang pertama kali terdampak.
Area tersebut memainkan peran penting dalam membentuk dan mengambil kembali apa yang disebut para ilmuwan sebagai memori episodik, yakni ingatan mengenai peristiwa dan pengalaman tertentu dalam kehidupan seseorang.
Itulah sebabnya penderita Alzheimer, misalnya, dapat kesulitan mengingat liburan bersama keluarga, percakapan dengan seorang teman, atau nama seseorang.
Namun, ingatan yang berkaitan dengan keterampilan dan rutinitas yang telah sangat sering dilatih dapat lebih bertahan.
“Sesuatu yang tersimpan dalam memori jangka panjang yang telah terkonsolidasi sering kali lebih mudah diakses dibandingkan ingatan baru yang baru saja terbentuk,” kata Tara Spires-Jones, profesor neurodegenerasi di University of Edinburgh dan penulis Fighting for Our Minds.
Hal itu membantu menjelaskan mengapa sebagian penderita Alzheimer masih dapat membuat secangkir teh, mengingat lirik lagu, bahkan memainkan musik atau membawakan naskah teater yang telah dilatih berulang kali, meski ingatan lainnya mungkin mulai memudar.
Melawan Stigma
Seluruh keuntungan dari rangkaian pertunjukan teater selama empat hari tersebut akan disumbangkan kepada Alzheimer’s Society, organisasi yang membantu Peter setelah ia didiagnosis.
Penelitian yang dilakukan organisasi tersebut pada 2025 menunjukkan bahwa 42% orang yang hidup dengan demensia merasa malu terhadap gejala yang mereka alami.
Satu dari lima orang yang mengalami masalah daya ingat mengatakan mereka belum menemui dokter untuk mendapatkan diagnosis karena khawatir dengan reaksi teman dan keluarga.
Stigma “masih sangat kuat”, kata Taiyaba Zeria, yang mengelola layanan dukungan demensia untuk Alzheimer’s Society di London.
“Apa yang dilakukan Peter benar-benar menunjukkan bahwa diagnosis bukanlah akhir dari segalanya dan seseorang yang hidup dengan demensia masih dapat melakukan begitu banyak hal yang mereka sukai dan mereka minati.”
Sementara itu, Marinker menggambarkan proyek tersebut sebagai “pertunjukan perpisahan yang luar biasa”.
“Saya masih berada pada tahap awal penyakit ini, jadi saya harus memanfaatkan tahap awal sebaik mungkin dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapi tahap pertengahan,” katanya sambil tertawa getir.
“Saya mungkin akan berhasil melewati pertunjukan ini, atau mungkin saya malah tiba-tiba tumbang!”
Peter Marinker akan tampil dalam Krapp’s Last Tape di Cockpit Theatre, London, pada 2 hingga 5 September.
