Close Menu

    Subscribe to Updates

    Dapatkan informasi terbaru dari mayoritas.com

    Apa yang Viral?

    Sepak Bola, Ceuta, dan Isu Israel Mewarnai Pemilu Maroko di Tengah Kekecewaan Anak Muda

    23/09/2026

    Energi Hijau India Tumbuh Pesat, tetapi Banyak Listrik Terbarukan Terbuang

    23/09/2026

    Pernah Menyamar sebagai Pria demi Bersepeda, Atlet Afghanistan Raih Medali Perak Asian Games

    23/09/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • POLITIK
      • Politik Amerika
      • Politik Asia
      • Politik Dunia
      • Politik Eropa
      • Politik Nasional
      • Politik Timur Tengah
    • Nasional

      Sepak Bola, Ceuta, dan Isu Israel Mewarnai Pemilu Maroko di Tengah Kekecewaan Anak Muda

      23/09/2026

      Energi Hijau India Tumbuh Pesat, tetapi Banyak Listrik Terbarukan Terbuang

      23/09/2026

      Pernah Menyamar sebagai Pria demi Bersepeda, Atlet Afghanistan Raih Medali Perak Asian Games

      23/09/2026

      Main Musik Keras di Bus Singapura Kini Bisa Didenda hingga Rp6 Juta

      23/09/2026

      Cakrawala Baru Pusat Data Menjamur di Pedesaan China, Menopang Ambisi AI

      23/09/2026
    • TEKNOLOGI

      Energi Hijau India Tumbuh Pesat, tetapi Banyak Listrik Terbarukan Terbuang

      23/09/2026

      Cakrawala Baru Pusat Data Menjamur di Pedesaan China, Menopang Ambisi AI

      23/09/2026

      British Columbia Gugat OpenAI atas Dugaan Kegagalan Melaporkan Aktivitas ChatGPT Sebelum Penembakan Tumbler Ridge

      22/09/2026

      CEO Nvidia Tolak Kekhawatiran AI Memusnahkan Manusia: “Narasi Kiamat”

      21/09/2026

      Microsoft Peringatkan Pendekatan Anthropic terhadap AI Bisa Berdampak “Bencana” bagi Manusia

      17/09/2026
    • Hiburan
    • Belanja Sekarang
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    Mayoritas.com
    Langganan Sekarang
    TOPIK PANAS
    • Olahraga
    • Ekonomi & Pasar
      • Bisnis
      • Ekonomi
      • Keuangan
    • Wisata & Kuliner
    • Belanja Sekarang
    Mayoritas.com
    Home»Ekonomi & Pasar»Ekonomi»Energi Hijau India Tumbuh Pesat, tetapi Banyak Listrik Terbarukan Terbuang
    Ekonomi

    Energi Hijau India Tumbuh Pesat, tetapi Banyak Listrik Terbarukan Terbuang

    joveBy jove23/09/2026No Comments5 Mins Read3 Views
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Pada suatu siang yang terik di bulan Juli tahun ini, listrik yang dihasilkan dari energi terbarukan sempat memenuhi lebih dari separuh permintaan listrik puncak India. Ini merupakan kali kedua kondisi tersebut terjadi. Peristiwa pertama berlangsung pada periode yang hampir sama setahun sebelumnya.

    Meski listrik yang dihasilkan dari tenaga surya, angin, air, dan nuklir hanya sesaat melampaui pembangkit berbasis batu bara, pencapaian tersebut menjadi tonggak penting yang mencerminkan pertumbuhan luar biasa energi nonfosil dalam bauran listrik India selama satu dekade terakhir.

    “Hal ini menunjukkan bahwa energi terbarukan tidak lagi menjadi sumber energi marginal yang hanya berada di pinggiran sistem kelistrikan,” kata Sumant Sinha, CEO ReNew Power, salah satu perusahaan energi bersih terbesar di India yang terdaftar di Nasdaq

    Namun, pembangkit berbasis batu bara masih menghasilkan rata-rata 70% listrik India karena memiliki faktor kapasitas lebih tinggi, atau beroperasi lebih lama dibandingkan pembangkit tenaga surya dan angin. Meski demikian, upaya India mendorong energi bersih tampaknya telah mencapai titik perubahan penting.

    Satu dekade lalu, kapasitas energi terbarukan terpasang India hanya sekitar 4 gigawatt (GW). Kini kapasitas tersebut mencapai 300 GW atau 54% dari total kapasitas terpasang sebesar 552 GW, sebuah target yang tercapai lima tahun lebih cepat dari jadwal.

    Bagi negara yang selama ini dipandang sebagai contoh ketergantungan besar pada batu bara kotor, transisi cepat tersebut menunjukkan pencapaian luar biasa dalam mengurangi emisi dari sistem kelistrikannya.

    Namun, kemajuan tersebut dibayangi sejumlah tantangan serius.

    Yang paling utama adalah kekurangan kapasitas jaringan listrik. Pembangunan pembangkit energi terbarukan telah jauh melampaui pembangunan infrastruktur transmisi, yang menjadi perhatian besar para pembuat kebijakan.

    “Pada kuartal pertama 2026, keterbatasan transmisi menyumbang hampir dua pertiga dari seluruh pembatasan produksi energi terbarukan, yakni sebesar 300 gigawatt-jam (GWh),” menurut Ember, lembaga pemikir energi global.

    Sederhananya, sebagian besar energi bersih yang dihasilkan di India terbuang karena jaringan transmisi negara tersebut terkendala target pembangunan yang tidak tercapai. Satu dari setiap empat proyek antarnegara bagian mengalami keterlambatan lebih dari satu tahun.

    Tantangannya terletak pada upaya menyelaraskan kecepatan pembangunan proyek pembangkit dengan pembangunan jaringan listrik, kata Sinha.

    “Proyek pembangkit dapat dibangun dalam 18-24 bulan… Transmisi dapat membutuhkan waktu jauh lebih lama karena melibatkan hak lintas, pembebasan lahan, persetujuan, dan koordinasi di antara banyak lembaga. Ini merupakan persoalan pelaksanaan yang menjadi semakin penting ketika sistemnya semakin besar,” tambahnya.

    Vibhuti Garg dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis juga menyalahkan “perencanaan yang buruk” sebagai penyebab masalah tersebut.

    Jaringan listrik masih mampu menyerap kapasitas baru ketika India hanya menambah pembangkit sekitar 10-15 GW per tahun, kata Garg . Namun, laju tersebut meningkat drastis dan mencapai rekor 51 GW tahun lalu sehingga infrastrukturnya kini tidak lagi mampu mengimbanginya.

    Konsentrasi proyek energi terbarukan di negara bagian Gujarat dan Rajasthan di wilayah barat laut juga memperburuk tantangan dalam menyalurkan listrik di tengah keterbatasan jaringan tersebut.

    Para analis Ember kini menilai ketidaksesuaian yang semakin besar antara pembangunan pembangkit yang bergerak cepat dan infrastruktur transmisi yang lebih lambat sebagai “risiko operasional paling kritis” terhadap target India pada 2030 untuk memiliki 500 GW listrik nonfosil.

    Solusi cepat untuk mengatasi kesenjangan tersebut sebenarnya adalah membangun sistem penyimpanan baterai di stasiun pengumpul energi terbarukan agar listrik dapat diintegrasikan ke jaringan.

    “Jika hal itu dilakukan, India dapat menyimpan energi tersebut dan menggunakannya pada sore hingga malam hari, alih-alih membuangnya,” kata Garg.

    Namun, kapasitas penyimpanan tidak berkembang karena lonjakan besar harga baterai, kelangkaan bahan baku akibat perang di Timur Tengah, serta penurunan nilai mata uang India yang meningkatkan biaya pembiayaan bagi perusahaan-perusahaan India.

    “Banyak proyek penyimpanan yang semula direncanakan akhirnya batal akibat hal tersebut,” tambah Garg.

    Namun, persoalan pembiayaan bukan hanya menjadi kendala bagi proyek penyimpanan, melainkan masalah yang melanda seluruh industri.

    Meskipun modal global tersedia dalam jumlah besar untuk transisi hijau di negara-negara maju, perusahaan energi bersih India masih kesulitan mengakses pendanaan tersebut, meski negara itu telah membuat kemajuan dalam komitmen energi terbarukannya.

    Perkiraan menunjukkan India membutuhkan US$400-500 miliar untuk mencapai target 500 GW energi terbarukan pada 2030. Namun saat ini, sekitar 83% pembiayaan India untuk mitigasi perubahan iklim berasal dari dalam negeri, menurut survei ekonomi pemerintah. Perjanjian Paris secara jelas mewajibkan negara-negara maju menyediakan sumber daya keuangan sebesar US$100 miliar per tahun hingga 2025 kepada negara berkembang untuk aksi iklim mereka, tetapi dana tersebut sulit diperoleh.

    “Negara-negara berkembang dan negara dengan perekonomian berkembang di luar China hanya menerima sekitar 15% investasi energi bersih global, meski mencakup sekitar dua pertiga populasi dunia,” kata Sinha.

    Menurutnya, India tidak serta-merta membutuhkan negara maju untuk membiayai seluruh proses transisinya. Namun, bantuan berupa pinjaman yang lebih murah, jaminan, serta perlindungan terhadap kerugian akibat perubahan nilai tukar diperlukan agar investor swasta terdorong menanamkan lebih banyak modal di sektor tersebut.

    Para pakar mengatakan mengatasi kesenjangan kritis dalam pembiayaan, infrastruktur transmisi, dan penyimpanan akan menjadi sangat penting karena transisi ini berlangsung pada momentum yang menentukan.

    India merupakan penghasil emisi gas rumah kaca terbesar ketiga di dunia dan menghadapi peningkatan tajam permintaan listrik, yang tumbuh rata-rata lebih dari 7% setiap tahun. Permintaan tersebut diperkirakan semakin meningkat seiring ekspansi industri seperti pusat data dan manufaktur chip.

    International Energy Agency memperkirakan permintaan listrik India akan meningkat 80% hingga 2035, kenaikan terbesar di antara negara-negara dengan perekonomian berkembang. Lembaga tersebut juga menyebut ekspansi energi terbarukan India yang kuat sebagai salah satu faktor utama yang memperlambat pertumbuhan emisi di negara-negara berkembang tahun ini, bahkan ketika emisi CO2 terkait energi meningkat lebih tajam di negara-negara maju untuk pertama kalinya sejak 1990-an.

    Karena itu, keberhasilan India mencapai target-target tersebut tepat waktu akan memberikan dampak besar terhadap kemampuan dunia dalam memenuhi target iklimnya.

    ekonomi energi global India teknologi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    jove
    • Website

    Related Posts

    Ekonomi & Pasar

    Sepak Bola, Ceuta, dan Isu Israel Mewarnai Pemilu Maroko di Tengah Kekecewaan Anak Muda

    23/09/2026
    Hiburan

    Pernah Menyamar sebagai Pria demi Bersepeda, Atlet Afghanistan Raih Medali Perak Asian Games

    23/09/2026
    Hiburan

    Main Musik Keras di Bus Singapura Kini Bisa Didenda hingga Rp6 Juta

    23/09/2026
    Gadget

    Cakrawala Baru Pusat Data Menjamur di Pedesaan China, Menopang Ambisi AI

    23/09/2026
    Ekonomi & Pasar

    Trump Ancam ‘Memusnahkan’ Iran dalam Pidato di PBB, Pejabat Kedua Negara Bertemu

    23/09/2026
    Hiburan

    British Columbia Gugat OpenAI atas Dugaan Kegagalan Melaporkan Aktivitas ChatGPT Sebelum Penembakan Tumbler Ridge

    22/09/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Langganan Berita

    Dapatkan berita olahraga terkini dari NewsSite tentang dunia, olahraga, dan politik.

    Pilihan Editor

    Sepak Bola, Ceuta, dan Isu Israel Mewarnai Pemilu Maroko di Tengah Kekecewaan Anak Muda

    23/09/2026

    Energi Hijau India Tumbuh Pesat, tetapi Banyak Listrik Terbarukan Terbuang

    23/09/2026

    Pernah Menyamar sebagai Pria demi Bersepeda, Atlet Afghanistan Raih Medali Perak Asian Games

    23/09/2026

    Main Musik Keras di Bus Singapura Kini Bisa Didenda hingga Rp6 Juta

    23/09/2026
    Info Terbaru

    Apa Itu Lifestyle Sedentary? Menimbulkan Banyak Penyakit Hingga Dapat Terkena Kanker

    20/01/2021

    Pebasket Zhang Ziyu Setinggi 220M Menarik Perhatian Usai Mengalahkan Tim U-18 Indonesia

    15/01/2021

    Kronologi Atlet Bulu Tangkis China Zhang Zhi Jie Meninggal Di Ajang AJC 2024

    15/01/2021
    Advertisement
    LOGO_FOOTER_MAYORITAS
    Facebook X (Twitter) Pinterest Vimeo WhatsApp TikTok Instagram

    News

    • Ekonomi & Pasar
    • Olahraga
    • Opini
    • Otomotif
    • Wisata Kuliner
    • Video Unggulan
    • Kesehatan

    Company

    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Hak Cipta
    • Disclaimer
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Panduan Kebijakan

    Layanan

    • Toko
    • Customer Support
    • Karir
    • Tentang kami
    • Hubungi Kami
    • Akses login

    Langganan Updates

    Dapatkan informasi terkinni seputar fakta informasi dunia, anda bisa berlangganan melalui email anda

    © 2026 Mayoritas.com
    • Privacy Policy
    • Term of Service
    • Contact us

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.