Militer Ukraina meningkatkan kampanyenya untuk menghancurkan kendaraan pemasok pasukan Rusia di sepanjang jalur-jalur vital di wilayah Ukraina yang diduduki dengan memanfaatkan teknologi drone berbasis kecerdasan buatan (AI), menurut para pakar.
mengonfirmasi rekaman sedikitnya 14 insiden yang dipublikasikan dalam sepekan terakhir, yang menunjukkan kendaraan pengangkut makanan, bahan bakar, dan amunisi menjadi sasaran serangan di rute-rute penting yang menghubungkan Rusia dengan Crimea serta wilayah lain yang diduduki di Ukraina selatan.
Analisis dari lembaga pemikir Institute for the Study of War (ISW) menunjukkan bahwa untuk pertama kalinya sejak 2023, Ukraina mulai merebut kembali lebih banyak wilayah dibandingkan yang hilang. Setelah lebih dari empat tahun perang dan meluasnya pendudukan Rusia di Ukraina timur serta selatan, kedua pihak tidak memperoleh kemajuan teritorial yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Para ahli menilai kemajuan teknologi drone terbaru, termasuk sistem Hornet yang didukung AI, memungkinkan Ukraina menyerang target-target Rusia yang bergerak menuju garis depan dari jarak yang lebih jauh dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi.
Menteri Pertahanan Ukraina, Mykhailo Fedorov, mengatakan pada Rabu bahwa strategi “penguncian logistik” yang diterapkan negaranya bertujuan untuk meningkatkan tekanan terhadap militer Rusia di wilayah belakang dan mengurangi kemampuan musuh dalam menjalankan operasi ofensif secara berkelanjutan.
Rekaman yang dianalisis kelompok analis sumber terbuka GeoConfirmed memperlihatkan bangkai truk kontainer dan berbagai kendaraan militer yang hangus di sejumlah titik sepanjang jalur utama di Ukraina selatan.
Sedikitnya 10 insiden tercatat di antara perbatasan Rusia dan kota Mariupol yang diduduki Rusia, sementara satu serangan lainnya terjadi di barat daya kota Melitopol. Jalur strategis tersebut digunakan militer Rusia untuk memasok pasukan yang bertugas di garis depan maupun di Crimea.
Analis dari lembaga pemikir Atum Mundi, Clément Molin, mengatakan bahwa ia telah memverifikasi penghancuran sekitar 150 kendaraan pada jarak lebih dari 20 kilometer dari garis depan. Namun, menurutnya, angka tersebut kemungkinan hanya mencakup sekitar setengah dari total insiden yang sebenarnya terjadi.
Serangan-serangan tersebut memaksa Rusia memperpendek konvoi pasokan sebagai langkah cepat untuk mengurangi potensi kerugian, kata Cristian Vlas dari kelompok pemantau konflik ACLED.
Menurut Vlas, tujuan utama Ukraina bukan hanya menyerang aset-aset yang penting bagi citra kekuatan besar Rusia, tetapi juga mengganggu konvoi logistik utama, pos komando, dan menara komunikasi.
“Semua itu memasok makanan, bahan bakar, dan informasi kepada unit-unit Rusia di garis depan serta menjadi fondasi kemampuan mereka untuk bertempur di medan perang dan meluncurkan serangan drone maupun rudal jarak jauh dari wilayah pendudukan,” ujarnya.
Pakar perang darat dari Royal United Services Institute, Robert Tollast, mengatakan bahwa beberapa brigade diperkirakan membutuhkan hingga 1.000 ton bahan bakar, makanan, amunisi, dan pasokan penting lainnya setiap hari.
Menurutnya, Ukraina sebelumnya telah menjalankan kampanye serangan jarak jauh terhadap unit pertahanan udara Rusia. Namun, jangkauan serangan drone terbaru yang kini digunakan memberikan dampak yang jauh lebih besar.
“Jika Anda dapat memutus pasokan ulang, misalnya truk amunisi yang berada lebih dari 100 kilometer dari garis depan menggunakan drone kecil, sementara drone jarak jauh lainnya menyerang pusat logistik yang lebih besar, itu menjadi masalah yang sangat serius bagi Rusia,” katanya.
Drone Hornet milik Ukraina dilengkapi sistem penargetan berbasis AI yang dilatih menggunakan ribuan jam rekaman video target militer Rusia yang dikumpulkan selama empat tahun terakhir, kata pakar persenjataan dari perusahaan intelijen pertahanan Janes, Nick Brown.
Drone tersebut juga dapat mengakses jaringan satelit Starlink sehingga tetap terhubung dengan operator dari jarak yang lebih jauh. Sistem ini dinilai lebih tahan terhadap upaya pengacauan sinyal yang dilakukan pasukan Rusia.
“Ukraina dapat meluncurkan ratusan amunisi jelajah ini ke area target yang diperkirakan berada lebih dari 160 kilometer jauhnya, lalu menggunakan AI untuk mengarahkan mereka secara presisi ke target-target militer Rusia yang ditemukan,” jelas Brown.
Menurut George Barros dari Institute for the Study of War, pemanfaatan teknologi secara inovatif oleh Ukraina menunjukkan bahwa perang saat ini tidak berada dalam kondisi kebuntuan.
Ia mengatakan Kyiv kini mampu menggunakan peralatan mekanis untuk melakukan manuver taktis yang tidak mungkin dilakukan 12 bulan lalu.
“Kemampuan Rusia untuk menjalankan misi infiltrasi kemungkinan akan terus menurun seiring kampanye serangan jarak menengah Ukraina yang memaksa pusat logistik dan pangkalan operasi garis depan Rusia semakin menjauh dari medan tempur. Hal itu mengurangi sumber daya yang dibutuhkan untuk mempertahankan pasukan infanteri yang menjalankan misi infiltrasi,” ujarnya.
Salah satu unit drone khusus Ukraina, Brigade Nemesis ke-412, pekan ini menyatakan bahwa para komandan Rusia telah membatasi pergerakan peralatan berat di Ukraina selatan dan berupaya menghindari serangan drone dengan menggunakan jalur ladang maupun jalan tanah.
Pemimpin wilayah Kherson yang ditunjuk Rusia, Vladimir Saldo, juga telah memberlakukan pembatasan lalu lintas sipil di sepanjang rute tersebut.
Barros menilai “keunggulan drone” Ukraina bahkan telah menetralkan upaya Rusia untuk memperoleh keuntungan melalui pengerahan pasukan dalam jumlah besar ke garis depan. Namun, ia memperingatkan bahwa keunggulan tersebut mungkin tidak akan berlangsung lama.
“Rusia kemungkinan besar pada akhirnya akan mengembangkan langkah-langkah penanggulangan. Karena itu, para mitra internasional Ukraina memiliki peluang yang langka dan bersifat sementara untuk memanfaatkan dinamika medan perang yang saat ini menguntungkan, ketika Ukraina masih berada di posisi unggul,” katanya.
