Saat kecil, Reble sering merasa hanya menjadi penonton dalam hidupnya sendiri. Kini, di usia 24 tahun, ia menjelma menjadi salah satu suara baru paling menarik di dunia hip-hop India.
Berasal dari perbukitan Meghalaya yang basah oleh hujan di wilayah timur laut India, Reble nge-rap dalam bahasa Inggris, Khasi, dan Jaintia — bahasa asli komunitas suku di kawasan tersebut — sambil menulis tentang jarak, perubahan diri, dan perjuangan hidup dengan emosi yang tertahan namun terasa sangat kuat.
Sampai belum lama ini, namanya hanya dikenal di lingkaran musik kecil Shillong, kota yang lebih identik dengan band rock, paduan suara gereja, dan legenda gitar lawas dibanding musik hip-hop.
Momen terobosannya datang lewat Dhurandhar, film aksi Bollywood yang soundtrack-nya memperkenalkan gaya rap dingin dan tajam miliknya kepada jutaan pendengar. Dalam lagu seperti “Run Down the City: Monica”, “Naal Nachna”, dan “Move – Yeh Ishq Ishq”, verse Reble yang tenang justru menonjol di tengah energi film yang lebih gaduh dan kacau, membuatnya cepat menjadi favorit penggemar.
Single terbarunya, Praying Mantis, yang dirilis pekan ini, kembali membuat namanya ramai diperbincangkan. Para penggemar membedah lagu gelap dan hipnotis itu di media sosial.
Kenaikan popularitas Reble mencerminkan perubahan lebih luas, ketika musisi dari India timur laut mulai mendapatkan audiens jauh melampaui wilayah mereka sendiri. Terjepit di antara Bangladesh, China, dan Myanmar, kawasan timur laut India selama ini terasa jauh secara budaya dari daratan utama India. Banyak orang dari wilayah tersebut merasa diperlakukan sebagai orang luar di negara mereka sendiri.
Yang membuat Reble menarik adalah penolakannya untuk menyesuaikan diri demi konsumsi publik yang lebih luas. Ia tidak berusaha menjelaskan, menerjemahkan, atau menyederhanakan dunianya agar lebih mudah dipahami orang lain.
“Saya tidak suka ada orang yang mengatur saya,” katanya
Sikap keras kepala itu — rasa tidak pernah benar-benar cocok di mana pun — terbentuk sejak kecil.
Sebelum memakai nama panggung Reble, ia adalah Daiaphi Lamare, gadis yang berpindah-pindah sekolah asrama sambil terus merasa asing.
“Reble kecil,” katanya sambil tertawa pelan, “selalu sendirian. Tidak punya teman. Duduk di pojok. Semua orang seperti bertanya, siapa sih gadis aneh itu?”
Kesepian itu kemudian membentuk kepribadiannya. Para guru menganggapnya sulit diatur; ia membenci rutinitas dan otoritas.
“Saya memang agak pembuat masalah,” katanya.
Ilmu pengetahuan menjadi salah satu sedikit hal yang mampu menarik perhatiannya. Ia sempat mengambil gelar teknik di Bengaluru, meski kini ia menganggapnya hanya persinggahan sementara.
“Saya tahu saya tidak akan bisa menjalani pekerjaan kantoran dari jam sembilan sampai lima.”
Perlawanan terhadap kehidupan yang dianggap “normal” itu kemudian menjadi inti dari sosok Reble.
Menurutnya, nama panggung tersebut bukan sekadar persona, melainkan alter ego — “pemberontakan yang sangat personal”. Musik rap memberinya cara untuk menyalurkan emosi yang sebelumnya tidak tahu bagaimana harus diungkapkan.
“Rap menjadi medium paling tepat untuk mengekspresikan perasaan sebagai orang yang tidak cocok di mana pun,” katanya.
Ketegangan itu masih terasa dalam musiknya. Ketika banyak rapper India menampilkan kepribadian besar dan keberanian yang meledak-ledak, gaya Reble terasa lebih rapat dan tertahan — bukan kemarahan eksplosif, melainkan sesuatu yang lebih sunyi dan personal.
Lirik-liriknya bergerak secara alami melintasi berbagai bahasa. Bertahun-tahun hidup di sekolah asrama membuat bahasa Inggris menjadi dominan, meski bahasa Jaintia — bahasa yang digunakan di rumah — tetap menjadi, menurutnya, “jangkar emosional”.
“Ketika saya menulis dalam bahasa Jaintia, emosinya terasa sangat personal,” katanya. “Tapi sayangnya saya juga tidak terlalu fasih.”
Kontradiksi itu terasa menjadi inti dari karya-karyanya: lokal sekaligus global, sangat berakar namun secara emosional terasa berjarak.
Ada ironi lain juga. Untuk seseorang yang kini dipuji karena liriknya, Reble justru mengaku tidak suka menulis.
“Saya tidak bisa menulis,” katanya blak-blakan. “Saya cepat bosan dan sering salah.”
Hingga kini, sebagian besar liriknya masih berupa catatan acak dan coretan yang belum selesai.
Popularitasnya yang terus naik juga membawa kritik. Sebagian pendengar menuduhnya “menjual diri” setelah sukses di Bollywood, sementara sejumlah pengguna internet menilai musiknya anti-Kristen atau bahkan satanis karena referensi tentang iblis — kritik yang sangat sensitif di Meghalaya, tempat budaya gereja sangat memengaruhi kehidupan publik.
Reble tampak geli dengan kontroversi itu.
“Ketika Anda sukses secara komersial, orang akan berpikir Anda menjual jiwa,” katanya.
Baginya, mengerjakan musik film lebih terasa sebagai eksperimen ketimbang kompromi.
“Kalau saya bernyanyi untuk film, saya menikmatinya,” katanya. “Tapi saya tetap pilih-pilih proyek.”
Sebagian daya tarik Reble juga datang dari Shillong sendiri.
Di ibu kota Meghalaya itu, musik mengalir di hampir setiap sudut kehidupan: paduan suara gereja yang berlatih hingga malam, band metal remaja di garasi, hingga musisi blues yang tampil di bar-bar remang-remang.
Reble lahir dari ekosistem itu, tetapi juga dari versi Shillong yang lebih baru — kota yang dibentuk internet, tempat pengaruh lokal bertabrakan dengan hip-hop dan trap global.
Ia mengaku sejak awal terhubung dengan karya Eminem, terutama perasaan menjadi sosok yang tidak sejalan dengan dunia sekitar lalu mengubah keterasingan itu menjadi musik. Lagu favoritnya adalah Beautiful, dan perpaduan antara kerentanan dan perlawanan dalam lagu itu terasa menggema dalam karya-karyanya sendiri.
Namun di balik semua pengaruh global tersebut, karya Reble tetap sangat terkait dengan Meghalaya. Dalam lagu “Opening Act”, ia nge-rap: “I’m a Jaintia making moves / I’m a tribal.”
Ia mengatakan rasa bangga itu berasal dari desa tempat keluarganya berasal dan terutama dari perempuan-perempuan yang membesarkannya.
Seperti banyak warga India timur laut lain yang tinggal di wilayah lain India, ia juga mengalami rasisme di luar daerah asalnya.
“Saya memang merasa kami tidak mendapatkan kesempatan yang sama seperti wilayah lain di India,” katanya.
Meski begitu, rasa bangga tampaknya lebih besar dibanding rasa marah.
“Datang dari wilayah seperti itu membuat saya sangat bangga.”
Di kampung halamannya, kata Reble, banyak orang ikut terharu melihat kesuksesannya meski tidak selalu benar-benar memahami musiknya.
“Mereka senang ada seseorang yang melakukan sesuatu,” katanya sambil tertawa. “Seperti, itu gadis kita.”
Karena itu, terobosan Reble di Bollywood terasa lebih besar dari sekadar kisah sukses biasa.
Bollywood memang sudah lama mengambil inspirasi dari berbagai skena musik daerah — mulai dari pop Punjabi, hip-hop Mumbai, hingga indie Tamil — tetapi Reble datang dengan warna musik yang masih terdengar asing bagi banyak penonton mainstream India.
Jika dari luar kariernya terlihat melesat tiba-tiba, Reble justru melihatnya sebagai hasil konsistensi.
“Pelajaran terbesar sejauh ini adalah konsistensi adalah kunci,” katanya.
Lebih dari sekadar bakat, ia percaya pada disiplin untuk terus berkembang.
“Kalau Anda tidak bagus dalam sesuatu, Anda harus menjadi lebih baik,” katanya lugas. “Cukup realistis untuk tahu seberapa buruk diri Anda.”
Mungkin itulah yang membuat perjalanannya terasa begitu menarik. Di balik kesan dingin dan berjarak dalam musiknya, ada penolakan untuk meromantisasi penderitaan — meski pada akhirnya ia mengubahnya menjadi seni.
Budaya pop India kini semakin terdesentralisasi, dengan energi paling menarik justru muncul dari tempat-tempat yang dulu dianggap pinggiran. Kota-kota besar tidak lagi sepenuhnya menentukan apa yang relevan secara budaya — mereka justru mulai menyerapnya.
Dan di antara kabut perbukitan Shillong, seorang rapper muda tampaknya sudah memahami hal itu jauh lebih dulu dibanding yang lain.
