Pemerintah dan lembaga internasional mendesak pengelola situs web untuk segera mengatasi dua celah keamanan siber kritis dalam bahasa pemrograman yang digunakan untuk menjalankan sebagian besar internet.
Kerentanan tersebut ditemukan dalam bahasa pemrograman PHP. Perbaikan untuk mengatasi masalah itu dirilis pada Rabu sore.
Sejumlah lembaga keamanan siber meminta organisasi yang tidak dapat menerapkan perbaikan tepat waktu untuk mempertimbangkan menonaktifkan situs mereka sementara waktu. Akibatnya, sejumlah pihak, termasuk pemerintah Finlandia, Dewan Kota Edinburgh, harus menonaktifkan beberapa halaman web mereka.
Kedua kerentanan tersebut ditemukan dengan bantuan kecerdasan buatan (AI). Perusahaan keamanan siber Wiz menyebutnya sebagai “kerentanan paling parah yang pernah ditemukan” oleh teknologi tersebut, yang kini tengah mengubah lanskap keamanan siber.
Finlandia untuk sementara menutup layanan web publik pemerintahnya. Sementara itu, lembaga keamanan siber Belanda menyatakan akan menonaktifkan situs webnya sendiri akibat kerentanan tersebut.
Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) mengeluarkan imbauan serupa melalui platform X. Lembaga itu meminta organisasi menonaktifkan sistem mereka jika belum dapat memasang pembaruan untuk mengatasi celah keamanan tersebut.
“Kerentanan semacam ini sering kali menyediakan jalur langsung menuju sistem berkas atau basis data server,” tulis NSA.
Sementara itu, Gedung Putih menyatakan bahwa lembaga-lembaga federal sedang bekerja sama dengan sejumlah laboratorium AI terkemuka untuk mempercepat perbaikan masalah tersebut.
Dalam unggahan di X, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi juga meminta masyarakat memeriksa apakah situs web yang dapat diakses publik milik mereka menggunakan PHP.
Yayasan Wikimedia, organisasi yang mengelola ensiklopedia daring Wikipedia, mengatakan sedang menangani kerentanan keamanan tersebut.
“Kami telah menonaktifkan sejumlah sistem lain sebagai langkah pencegahan hingga sistem-sistem tersebut dapat diperbarui dengan aman,” kata yayasan itu.
Akibatnya, sebagian pengguna tidak dapat mengakses sejumlah bagian Wikipedia pada Rabu.
Situs Dewan Kota Edinburgh juga tidak dapat diakses.
Namun, pihak-pihak tersebut belum mengonfirmasi adanya hubungan antara gangguan itu dan PHP.
Sekitar 70 Persen Internet Terdampak
Sejumlah situs lain, termasuk platform seni DeviantArt, mengumumkan bahwa layanan mereka “sementara tidak tersedia untuk pemeliharaan”, tanpa menjelaskan penyebabnya.
Kerentanan tersebut ditemukan oleh para peneliti keamanan siber dari perusahaan Calif dan Wiz.
Calif bersama Yayasan PHP merupakan bagian dari program bernama Patch the Planet yang diprakarsai OpenAI.
Melalui program tersebut, keduanya mendapat akses ke perangkat AI canggih milik perusahaan itu untuk menemukan dan memperbaiki kelemahan dalam bahasa pemrograman yang digunakan untuk pengembangan web.
Dalam sebuah tulisan di blog, OpenAI menyebut penemuan tersebut sebagai “salah satu masalah keamanan paling berdampak dalam beberapa waktu terakhir”. Perusahaan itu menambahkan bahwa seorang peneliti internal mereka juga menemukan masalah yang sama pada waktu yang hampir bersamaan dengan perusahaan-perusahaan tersebut.
Celah keamanan itu tidak terdeteksi selama lebih dari satu dekade. Namun, pada Agustus, kerentanan tersebut berhasil ditemukan setelah para peneliti menggunakan perangkat AI canggih selama beberapa pekan.
“Model AI terdepan sangat penting untuk membuat proses ini dapat diterapkan secara praktis. Teknologi tersebut memungkinkan kami mengembangkan dan menyesuaikan eksploit yang berfungsi pada berbagai aplikasi hanya dalam hitungan jam,” kata Wiz dalam sebuah tulisan di blog.
Wiz memperkirakan bahwa sekitar 70 persen internet terdampak oleh kerentanan ini. Namun belum dapat memverifikasi angka tersebut.
Yayasan PHP semula berencana mengumumkan penemuan tersebut pada akhir bulan ini, bersamaan dengan perilisan perbaikan lengkap yang biasanya disebut pengembang perangkat lunak sebagai patch.
Namun, informasi mengenai celah keamanan itu bocor di media sosial pada Selasa. Kebocoran tersebut memaksa Yayasan PHP mempercepat pengumuman mengenai kerentanan tersebut dan skala dampaknya yang sangat luas.
Institut Nasional Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Belanda, sebuah lembaga pemerintah negara itu, telah menonaktifkan situs webnya.
Situs Tweede Kamer, majelis rendah parlemen Belanda, juga tidak dapat diakses.
Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris (NCSC), bersama lembaga-lembaga sejenis di Uni Eropa dan Australia, telah mendesak para pengguna PHP untuk segera memasang perbaikan yang tersedia.
“Jika perbaikan segera tidak memungkinkan, organisasi sebaiknya mempertimbangkan untuk menonaktifkan sistem hingga kerentanan tersebut dapat sepenuhnya diatasi,” kata NCSC dalam sebuah pemberitahuan.
Kantor keamanan siber nasional Jepang dan pejabat keamanan siber Uni Eropa juga mengeluarkan peringatan serupa.
Serangan Awal Mulai Bermunculan
“PHP ada di mana-mana. Bahasa ini diam-diam menjalankan situs WordPress, Drupal, Joomla, dan Magento, platform hosting bersama, panel kendali, serta banyak sekali perangkat lunak yang bahkan tidak secara terbuka menyebutkan bahwa mereka menggunakan PHP di balik sistemnya,” kata perusahaan keamanan siber Huntress.
Pakar keamanan siber Don Smith dari Sophos Counter Threat Unit mengatakan bahwa kerentanan ini “kemungkinan akan menjadi sasaran utama” para peretas.
Menurutnya, tantangan langsung yang dihadapi organisasi bukan sekadar memasang patch untuk memperbaiki masalah, melainkan menemukan dan mengelola setiap sistem yang menjalankan PHP.
“PHP digunakan secara luas. Bahasa ini dapat menjadi bagian dari situs web publik, sistem manajemen konten, platform hosting, dan produk pihak ketiga. Dalam sejumlah kasus, organisasi yang menggunakannya bahkan tidak menyadari keberadaan PHP di dalam sistem mereka,” katanya.
Smith menegaskan pentingnya bagi organisasi untuk mewaspadai tanda-tanda bahwa penyerang “mungkin sudah berhasil mendapatkan pijakan awal di dalam sistem mereka”.
Tim Tanggap Darurat Siber Uni Eropa (CERT-EU) mengatakan bahwa tingkat risiko yang diberikan terhadap kerentanan tersebut “menunjukkan adanya potensi eksekusi kode jarak jauh tanpa autentikasi”.
Serangan siber semacam itu berpotensi memungkinkan peretas memasang perangkat lunak berbahaya atau malware, bahkan melumpuhkan situs web.
Dane Knecht, kepala pejabat teknologi di perusahaan infrastruktur internet Cloudflare, mengatakan bahwa pihaknya “mulai melihat serangan awal bermunculan dan terus memperbarui langkah-langkah mitigasi seiring munculnya metode serangan baru”.
NCSC menyatakan bahwa setelah organisasi memasang pembaruan, mereka harus “terus memantau pembaruan keamanan dari penyedia perangkat lunak pihak ketiga, termasuk untuk perangkat dan layanan yang mungkin menyertakan PHP di dalamnya”.
Belum diketahui secara pasti versi bahasa pemrograman mana saja yang terdampak. Namun, CERT-EU menyebut kerentanan tersebut berpotensi memengaruhi seluruh versi PHP mulai dari PHP 5, yang diluncurkan pada 2004.
Meski demikian, Yayasan PHP baru menyediakan pembaruan untuk versi-versi terbaru. Pengguna PHP 8.1 atau versi yang lebih lama diminta untuk meningkatkan versi perangkat lunak mereka.
PHP awalnya dikembangkan untuk keperluan pembuatan situs web. Bahasa pemrograman ini digunakan di server untuk menjalankan berbagai elemen yang terlihat ketika seseorang mengunjungi sebuah situs.
Tidak semua situs web menggunakan PHP. Namun, bahasa pemrograman tersebut tetap menjadi fondasi bagi sebagian besar internet.
