Tentara Sudan dituduh melancarkan sejumlah serangan drone yang dilaporkan menewaskan lebih dari 300 orang, termasuk puluhan orang yang sedang dalam perjalanan menuju pemakaman.
Menurut sumber-sumber yang dikutip Observatorium Perang Sudan, kelompok pemantau konflik yang meletus pada 2023 antara tentara Sudan dan kelompok paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces/RSF), serangan di dua wilayah negara bagian Kordofan Barat pada Minggu malam menewaskan 150 orang.
Sementara itu, di Abyei, wilayah perbatasan yang disengketakan Sudan dan Sudan Selatan, sebanyak 153 orang tewas ketika drone menghantam sebuah pasar pada Senin, menurut Menteri Informasi wilayah tersebut.
Seorang sumber militer mengatakan bahwa tentara Sudan melancarkan serangan di Abyei. Menurutnya, pasar tersebut merupakan lokasi pemasok bahan bakar bagi RSF.
Serangan ini meningkatkan ketegangan antara Sudan Selatan dan Sudan, yang bersama-sama mengelola Abyei. Kedua negara sama-sama mengklaim kepemilikan wilayah kaya minyak tersebut. Sengketa itu belum terselesaikan sejak Sudan Selatan memisahkan diri pada 2011.
Sudan Selatan telah memanggil duta besar Sudan untuk menyampaikan protes resmi. Muncul kekhawatiran bahwa konflik tersebut dapat meluas hingga melintasi perbatasan.
Meskipun Sudan sebagian dikenai embargo senjata, sejumlah negara asing tetap memasok drone kepada tentara Sudan maupun RSF. Senjata tersebut semakin sering menjadi pilihan utama dalam konflik.
Perang ini telah memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, menewaskan ratusan ribu orang, dan memaksa lebih dari 14 juta orang meninggalkan rumah mereka.
“Kami prihatin atas berlanjutnya serangan drone mematikan di seluruh negeri yang menewaskan warga sipil, termasuk anak-anak, serta mengganggu layanan-layanan penting,” kata juru bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Stéphane Dujarric, pada Senin.
Ia mengatakan peningkatan penggunaan drone bersenjata terjadi ketika 20 juta orang menghadapi kekurangan pangan akut. Risiko kelaparan juga semakin meningkat di sejumlah wilayah Darfur Barat dan kawasan Kordofan Raya.
Kordofan Raya mencakup tiga negara bagian dan merupakan jalur strategis yang menghubungkan Darfur, yang dikuasai RSF, dengan ibu kota Khartoum, yang kini berada di bawah kendali tentara Sudan.
Gelombang serangan drone dimulai pada Minggu malam. Menurut Observatorium Perang Sudan, drone-drone tersebut kemungkinan diluncurkan dari kota Kadugli di negara bagian Kordofan Selatan, yang dikuasai tentara Sudan.
Sebuah truk yang membawa sekitar 200 pelayat dan berangkat dari wilayah di utara Abyei diserang ketika tiba di kota Al-Dabab, Kordofan Barat, menurut kelompok pemantau tersebut.
Sejumlah sumber mengatakan kepada kelompok itu bahwa 145 orang tewas. Sebuah tenda tempat para pelayat berkumpul untuk menghadiri pemakaman juga terkena serangan, menewaskan lima orang lainnya. Sebanyak 150 orang lainnya dilaporkan terluka dalam serangan tersebut.
Pada malam yang sama, drone tentara Sudan juga membombardir sebuah pasar di kota Al-Mujlad, Kordofan Barat, menurut Observatorium Perang Sudan. Namun, jumlah pasti korban tewas dan luka-luka dalam serangan tersebut belum diketahui.
Tentara Sudan belum menanggapi tuduhan bahwa mereka melancarkan serangan-serangan tersebut. Namun, pihak militer menyatakan tidak menyerang warga sipil, sekalipun mereka meyakini terdapat anggota RSF di antara warga yang berada di lokasi.
Serangan di Abyei, yang berbatasan dengan Kordofan Barat, terjadi pada Senin sekitar pukul 11.30 waktu setempat atau 16.30 WIB. Serangan tersebut menargetkan Pasar Amiet, sekitar 10 kilometer dari pusat kota Abyei, kata Menteri Informasi wilayah itu, Yohana Akol Ngor, kepada Radio Tamazuj, stasiun radio yang berbasis di Belanda dan menyiarkan informasi bagi masyarakat di sepanjang perbatasan Sudan dan Sudan Selatan.
Pada Selasa, Ngor mengonfirmasi kepada kantor berita Associated Press dan Reuters bahwa jumlah korban tewas meningkat dari 73 menjadi 153 orang.
“Ini situasi yang mengerikan dan mengejutkan,” demikian pernyataan Ngor yang dikutip AP.
Tim telah memeriksa citra satelit yang memperlihatkan banyak bangunan hangus di sudut timur laut Pasar Amiet, yang juga dikenal dengan nama Arab Pasar Al-Na’am. Citra lama dari wilayah tersebut menunjukkan bahwa pasar itu biasanya dipenuhi truk.
memverifikasi rekaman video yang diambil di dekat pasar. Video tersebut memperlihatkan kepulan asap besar, setidaknya satu truk tangki bahan bakar, serta seseorang yang berbicara tentang lima rudal yang ditembakkan. Video terverifikasi lainnya menunjukkan dua kobaran api besar yang terpisah dari bangunan-bangunan di dekat bagian pasar tersebut.
“Pasar itu hancur sepenuhnya. Pengeboman tersebut menyebarkan teror dan ketakutan di kalangan penduduk setempat,” kata pedagang pasar, Fadlallah Adam Hamouda.
Pedagang lainnya mengatakan bahwa serangan tersebut sangat mengejutkan karena pasukan penjaga perdamaian PBB telah berada di Abyei sejak 2011. Saat ini, lebih dari 2.800 personel berseragam dikerahkan di wilayah tersebut.
“Wilayah kami merupakan zona bebas senjata di bawah perlindungan Perserikatan Bangsa-Bangsa, tetapi justru menjadi sasaran serangan drone,” katanya.
“Serangan itu menyebabkan kerusakan material yang luas setelah pasar bahan bakar dihantam. Serangan tersebut memicu kebakaran besar yang menyebar ke rumah-rumah di sekitarnya.”
Sebelumnya, Ngor mengatakan kepada Reuters bahwa petugas tanggap darurat kesulitan mengevakuasi jenazah akibat kebakaran yang dipicu serangan tersebut.
Pada Senin, organisasi kemanusiaan medis Médecins Sans Frontières (MSF) menyatakan telah menerima korban luka dari serangan di Rumah Sakit Ameth Bek, di pusat kota Abyei.
“Sejauh ini, kami telah menerima lebih dari 20 pasien, termasuk beberapa pasien dalam kondisi kritis. Sejumlah pasien yang mengalami luka bakar juga telah dirawat. Kami memberikan layanan bedah, perawatan luka, dan bantuan medis darurat lainnya,” kata Christian Lindauer, manajer MSF di rumah sakit tersebut, dalam sebuah pernyataan.
Sementara itu, serangan drone di dekat bandara Khartoum pada Senin menewaskan empat orang, termasuk tiga anak-anak, menurut kantor berita AFP yang mengutip seorang sumber medis.
AFP juga mengutip sumber militer yang mengatakan bahwa sistem pertahanan udara di ibu kota Sudan tersebut telah menembak jatuh sejumlah drone lain yang diluncurkan RSF ke arah bandara.
Pertempuran di Kordofan, wilayah strategis yang kaya akan emas dan minyak, semakin intensif selama setahun terakhir setelah tentara Sudan berhasil merebut kembali kendali atas Khartoum dari RSF.
