Close Menu

    Subscribe to Updates

    Dapatkan informasi terbaru dari mayoritas.com

    Apa yang Viral?

    El Niño Memicu Cuaca Ekstrem di Berbagai Negara, dari Kebakaran Hutan Indonesia hingga Badai Dahsyat

    22/10/2026

    Meta Didenda Rp451 Triliun atas Kebohongan soal Privasi Data Pengguna

    22/10/2026

    Obat Diabetes dan ADHD Diuji untuk Pasien Alzheimer dalam Studi Terbaru di Inggris

    22/10/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • POLITIK
      • Politik Amerika
      • Politik Asia
      • Politik Dunia
      • Politik Eropa
      • Politik Nasional
      • Politik Timur Tengah
    • Nasional

      El Niño Memicu Cuaca Ekstrem di Berbagai Negara, dari Kebakaran Hutan Indonesia hingga Badai Dahsyat

      22/10/2026

      Meta Didenda Rp451 Triliun atas Kebohongan soal Privasi Data Pengguna

      22/10/2026

      Asian Games 2026 di Jepang Diwarnai Kekacauan, dari Akomodasi hingga Kesalahan Diplomatik

      22/10/2026

      Kyiv Kembali Digempur Rudal, Rusia Buka Peluang Lanjutkan Perundingan Damai dengan AS

      22/10/2026

      Serangan Drone di Sudan Tewaskan Lebih dari 300 Orang, Termasuk Pelayat dan Pedagang

      21/10/2026
    • TEKNOLOGI

      Meta Didenda Rp451 Triliun atas Kebohongan soal Privasi Data Pengguna

      22/10/2026

      Celah Keamanan Kritis PHP Picu Situs Web di Berbagai Negara Dinonaktifkan

      22/10/2026

      Misi Antariksa Jepang Menuju Phobos, Bulan Mars, untuk Membawa Sampel Debu ke Bumi

      20/10/2026

      Ekspor Teknologi AI Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi China, Konsumsi Domestik Masih Lemah

      19/10/2026

      Australia Siapkan Tombol untuk Mematikan Algoritma Media Sosial demi Lindungi Kesehatan Mental

      17/10/2026
    • Hiburan
    • Belanja Sekarang
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    Mayoritas.com
    Langganan Sekarang
    TOPIK PANAS
    • Olahraga
    • Ekonomi & Pasar
      • Bisnis
      • Ekonomi
      • Keuangan
    • Wisata & Kuliner
    • Belanja Sekarang
    Mayoritas.com
    Home»Nasional»Budaya»Asian Games 2026 di Jepang Diwarnai Kekacauan, dari Akomodasi hingga Kesalahan Diplomatik
    Budaya

    Asian Games 2026 di Jepang Diwarnai Kekacauan, dari Akomodasi hingga Kesalahan Diplomatik

    joveBy jove22/10/2026No Comments5 Mins Read0 Views
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jepang dikenal memiliki rekam jejak mumpuni dalam menyelenggarakan ajang internasional berskala besar, mulai dari Olimpiade hingga pameran gim tahunan di Tokyo. Namun, penyelenggaraan Asian Games tahun ini di Nagoya dan wilayah Prefektur Aichi justru diwarnai berbagai masalah.

    Sejumlah insiden terjadi, mulai dari kesalahan diplomatik, kekeliruan transportasi, hingga kekacauan akomodasi. Di kolom komentar daring, beberapa orang menyebutnya sebagai “Asian Games terburuk dalam sejarah” dan mendesak dilakukannya “penyelidikan menyeluruh”.

    Profesor Kozo Tomiyama dari Universitas Osaka, yang meneliti penyelenggaraan ajang olahraga besar, menilai panitia tidak mampu menangani berbagai situasi tak terduga.

    “Jika masalah-masalah ini merusak kepercayaan internasional terhadap kemampuan Jepang dalam menyelenggarakan ajang olahraga, hal tersebut juga dapat memengaruhi kemampuan Jepang untuk menarik kompetisi internasional pada masa mendatang,” ujarnya.

    Wakil Direktur Jenderal Asian Games, Takaaki Omi, mengakui bahwa panitia menghadapi sejumlah persoalan yang tidak diperkirakan sebelumnya. Namun, ia menegaskan bahwa pihaknya menerima masukan dan melakukan perbaikan.

    Serangkaian Insiden

    Bahkan sebelum turnamen dimulai, para peserta sudah mengeluhkan keterbatasan jumlah kamar dan kualitas akomodasi yang buruk.

    Untuk menekan biaya, panitia memutuskan tidak membangun perkampungan atlet seperti yang lazim digunakan dalam ajang olahraga besar. Sebagai gantinya, para peserta ditempatkan di hotel dan unit akomodasi berbentuk kontainer yang tersebar di Nagoya. Seorang pejabat tinggi bola basket Korea Selatan mengatakan bahwa para atlet bertubuh tinggi yang tinggal di kontainer kesulitan untuk “meluruskan kaki saat berbaring di tempat tidur”.

    Penambahan jumlah peserta pada menit-menit terakhir membuat kapasitas akomodasi kota semakin kewalahan. Untuk mengatasi kekurangan tersebut, panitia bahkan menggunakan sebuah kapal pesiar Italia yang memiliki 1.500 kabin.

    Omi mengatakan bahwa panitia awalnya menyiapkan akomodasi untuk maksimal 15.000 anggota delegasi, “sesuai dengan kontrak kota tuan rumah”. Namun, setelah cabang olahraga lain ditambahkan, jumlah tersebut bertambah 2.000 orang sehingga totalnya mencapai 17.000 peserta.

    Pada awalnya, panitia menyatakan bahwa “tidak ada tempat sama sekali” untuk menampung tambahan peserta tersebut dan meminta mereka mengatur akomodasi sendiri. Namun, panitia kemudian mengubah sikap dan mengeluarkan pernyataan bersama Dewan Olimpiade Asia yang menjanjikan bahwa seluruh tamu, yang jumlahnya “lebih dari 17.000 orang”, akan memperoleh “akomodasi yang sesuai dengan standar penyelenggaraan Asian Games”.

    Masalah tersebut ternyata baru permulaan.

    Begitu berbagai masalah mulai terungkap, media lokal segera menyoroti perusahaan yang bertanggung jawab mengelola operasional tempat pertandingan, yakni anak perusahaan GL Events asal Prancis di Jepang.

    GL Events memenangkan kontrak senilai 63 miliar yen (sekitar Rp7,2 triliun berdasarkan kurs 21 Oktober 2026, setara £306 juta atau US$405 juta dalam laporan tersebut), mengungguli Dentsu Group. Perusahaan periklanan besar Jepang itu memiliki rekam jejak panjang dalam menyukseskan penyelenggaraan ajang olahraga di negara tersebut, tetapi tersisih setelah dinyatakan terlibat dalam kasus persekongkolan tender yang berujung pada putusan pidana.

    Taxindo
    +1

    Seorang sumber mengatakan kepada kantor berita Kyodo bahwa penawaran GL Events “jauh lebih murah” dibandingkan penyedia jasa alternatif.

    Pekan lalu, surat kabar Tokyo Shimbun menuduh perusahaan tersebut memangkas biaya secara agresif dalam proses perekrutan tenaga kerja. Kebijakan itu disebut menyebabkan kekurangan staf berpengalaman yang mampu menangani berbagai masalah yang muncul selama penyelenggaraan. Surat kabar tersebut juga melaporkan bahwa tenaga kerja yang direkrut tidak mendapatkan pelatihan yang memadai.

    Namun, Takaaki Omi menegaskan bahwa GL Events “memiliki pengalaman dalam menyelenggarakan ajang olahraga internasional, termasuk Olimpiade Paris”.

    “Kami meyakini bahwa lingkungan yang diperlukan untuk menyelenggarakan kompetisi sudah tersedia ketika pertandingan dimulai. Hal itu mencakup pembahasan dan koordinasi menyeluruh dengan GL Events,” katanya.

    Profesor Tomiyama menilai tidak tepat jika masalah tersebut “langsung disimpulkan sebagai akibat dari kurangnya pengalaman GL Events dalam menangani kompetisi internasional”. Menurutnya, persoalan justru berakar pada cakupan tanggung jawab perusahaan yang “sangat luas”.

    “Selain itu, karena kontrak ini diberikan melalui negosiasi, bukan tender kompetitif, penting untuk meninjau kriteria yang digunakan panitia dalam menilai kemampuan kontraktor, serta bagaimana mereka mengawasi kontraktor setelah kontrak diberikan,” tambah Tomiyama.

    Harapan untuk Masa Depan

    Cara panitia menangani setiap masalah yang muncul selama Asian Games dengan terburu-buru, seolah terus memadamkan satu masalah setelah masalah lainnya, sangat bertolak belakang dengan standar yang selama ini diharapkan dunia dari penyelenggaraan acara besar di Jepang.

    Situasi tersebut jauh dari semangat omotenashi, yakni tradisi keramahtamahan Jepang yang tulus dan menyeluruh, yang hampir dianggap sebagai sebuah seni dan kemungkinan besar ingin ditampilkan oleh tuan rumah.

    Para pejabat akhirnya harus menyampaikan permintaan maaf resmi kepada Korea Selatan atas serangkaian kekeliruan yang berdampak pada delegasi negara tersebut.

    Meski demikian, Direktur Jenderal Dewan Olimpiade Asia, Husain al-Musallam, berupaya menyoroti pencapaian 54 rekor dunia baru dalam cabang renang, angkat besi, dan menembak sebagai bukti keberhasilan ajang tersebut.

    “Pencapaian ini tidak mungkin diraih tanpa lingkungan terbaik yang diciptakan panitia penyelenggara bagi para atlet,” katanya. “Atlet tidak dapat tampil maksimal jika mereka tidak tidur dengan baik. Atlet juga tidak dapat tampil maksimal jika tidak memiliki transportasi yang memadai.”

    Meskipun Asian Games telah berakhir, berbagai masalah yang menyertainya belum sepenuhnya selesai.

    Gangguan masih terjadi dalam penyelenggaraan Asian Para Games yang sedang berlangsung. Lagu kebangsaan yang salah diputar dalam tiga pertandingan. Wali Kota Nagoya Ichiro Hirosawa, yang juga menjabat wakil ketua panitia penyelenggara Asian Games, menyebut kejadian tersebut “tidak dapat diterima” dan menyampaikan permintaan maaf.

    Profesor Tomiyama berharap panitia dapat mengambil pelajaran dari berbagai kejadian selama beberapa pekan terakhir demi menyelenggarakan ajang olahraga yang lebih berkualitas pada masa mendatang.

    acara asia asian games budaya olahraga peristiwa
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    jove
    • Website

    Related Posts

    Bencana

    El Niño Memicu Cuaca Ekstrem di Berbagai Negara, dari Kebakaran Hutan Indonesia hingga Badai Dahsyat

    22/10/2026
    Bisnis

    Meta Didenda Rp451 Triliun atas Kebohongan soal Privasi Data Pengguna

    22/10/2026
    Gaya Hidup

    Obat Diabetes dan ADHD Diuji untuk Pasien Alzheimer dalam Studi Terbaru di Inggris

    22/10/2026
    Gadget

    Celah Keamanan Kritis PHP Picu Situs Web di Berbagai Negara Dinonaktifkan

    22/10/2026
    Hukum Kriminal

    Kyiv Kembali Digempur Rudal, Rusia Buka Peluang Lanjutkan Perundingan Damai dengan AS

    22/10/2026
    Hiburan

    Serangan Drone di Sudan Tewaskan Lebih dari 300 Orang, Termasuk Pelayat dan Pedagang

    21/10/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Langganan Berita

    Dapatkan berita olahraga terkini dari NewsSite tentang dunia, olahraga, dan politik.

    Pilihan Editor

    El Niño Memicu Cuaca Ekstrem di Berbagai Negara, dari Kebakaran Hutan Indonesia hingga Badai Dahsyat

    22/10/2026

    Meta Didenda Rp451 Triliun atas Kebohongan soal Privasi Data Pengguna

    22/10/2026

    Obat Diabetes dan ADHD Diuji untuk Pasien Alzheimer dalam Studi Terbaru di Inggris

    22/10/2026

    Celah Keamanan Kritis PHP Picu Situs Web di Berbagai Negara Dinonaktifkan

    22/10/2026
    Info Terbaru

    Apa Itu Lifestyle Sedentary? Menimbulkan Banyak Penyakit Hingga Dapat Terkena Kanker

    20/01/2021

    Pebasket Zhang Ziyu Setinggi 220M Menarik Perhatian Usai Mengalahkan Tim U-18 Indonesia

    15/01/2021

    Kronologi Atlet Bulu Tangkis China Zhang Zhi Jie Meninggal Di Ajang AJC 2024

    15/01/2021
    Advertisement
    LOGO_FOOTER_MAYORITAS
    Facebook X (Twitter) Pinterest Vimeo WhatsApp TikTok Instagram

    News

    • Ekonomi & Pasar
    • Olahraga
    • Opini
    • Otomotif
    • Wisata Kuliner
    • Video Unggulan
    • Kesehatan

    Company

    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Hak Cipta
    • Disclaimer
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Panduan Kebijakan

    Layanan

    • Toko
    • Customer Support
    • Karir
    • Tentang kami
    • Hubungi Kami
    • Akses login

    Langganan Updates

    Dapatkan informasi terkinni seputar fakta informasi dunia, anda bisa berlangganan melalui email anda

    © 2026 Mayoritas.com
    • Privacy Policy
    • Term of Service
    • Contact us

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.