Drone fiber optic kini menjadi senjata utama Hizbullah untuk menyerang tentara dan warga sipil Israel di sepanjang perbatasan Lebanon-Israel, dan dianggap sebagai ancaman terbesar di kawasan tersebut ketika pertempuran terus berlangsung enam pekan setelah gencatan senjata yang seharusnya berlaku.
Seorang tentara Israel tewas dan dua lainnya terluka dalam serangan drone di dekat komunitas perbatasan Shomera pada Rabu.
Dari 11 tentara Israel dan satu kontraktor pertahanan sipil yang tewas sejak gencatan senjata berlaku, delapan di antaranya dilaporkan tewas akibat serangan drone fiber optic.
Sebagian besar serangan menargetkan pasukan Israel yang saat ini menduduki wilayah luas di Lebanon selatan. Namun menurut Alma Research Center, lembaga kajian Israel yang memantau konflik tersebut, Hizbullah kini juga semakin sering menyerang komunitas Israel di seberang perbatasan.
Lembaga itu mencatat lebih dari 100 serangan drone terhadap wilayah permukiman di Israel sejak gencatan senjata dimulai pada April.
Di Shomera, kota hijau di ujung barat perbatasan, serangan drone meninggalkan jejak kabel fiber optic di sepanjang jalan — sekaligus menimbulkan rasa takut baru di komunitas yang sudah terbiasa menghadapi perang.
“Masalahnya, Anda tidak merasakan mereka datang. Anda duduk di sana, lalu tiba-tiba drone itu muncul,” kata kepala dewan Shomera, Sami Zanetti. “Dan jika Anda lari, drone itu akan mengikuti.”
Ia menunjukkan sebuah halte bus yang rusak akibat serangan drone awal pekan ini, hanya beberapa menit setelah bus sekolah meninggalkan lokasi.
Drone fiber optic yang digunakan Hizbullah — juga dikenal sebagai First-Person View (FPV) — jauh lebih sulit dideteksi dibanding roket dan mortir yang selama ini biasa dihadapi kota tersebut. Drone-drone itu dipasangi bahan peledak dan terbang rendah tanpa sinyal radio yang dapat dijamming militer Israel.
Drone tersebut terhubung dengan operatornya melalui kabel fiber optic tipis yang memungkinkan operator melihat dan mengejar target di darat secara langsung. Taktik ini dipelajari dari perang di Ukraina.
Beberapa kali sehari, sirene berbunyi di komunitas perbatasan untuk memperingatkan adanya drone yang melintas dari Lebanon. Namun di wilayah ini, peringatan dan serangan sering kali datang hampir bersamaan — bahkan terkadang tanpa peringatan sama sekali.
“Kalau roket, saya masih punya 15 detik untuk masuk bunker. Kalau drone, Anda tidak pernah tahu kapan itu akan jatuh,” ujar Zanetti.
Saat wawancara berlangsung, sirene kembali meraung.
Peringatan di telepon genggam menunjukkan sebuah drone terdeteksi bergerak menuju Shomera.
Dari dalam bunker umum, warga memandangi langit.
Militer Israel terkadang berhasil mencegat drone yang melintas perbatasan, tetapi sering pula kehilangan jejak perangkat kecil yang terbang rendah tersebut.
Kali ini, serangan yang diperkirakan menuju Shomera tidak terjadi.
Namun jalan tempat mereka berdiri dipenuhi serpihan kabel tipis berwarna perak yang tersisa dari serangan-serangan drone sebelumnya.
Sehari sebelumnya, anggota tim keamanan komunitas terlihat dalam rekaman video sedang mengejar dan menembaki drone yang terbang di jalan tersebut, tepat di dekat rumah Amichai Ben David, petani persik dan nektarin yang memiliki tujuh anak.
“Drone itu datang dan kami langsung berlari masuk rumah,” katanya. “Tentara di luar menembakinya dan berhasil menjatuhkannya. Mereka menyelamatkan kami, syukurlah.”
Amichai telah tinggal di wilayah itu sepanjang hidupnya. Rumahnya memiliki lubang besar di atap akibat serangan roket tahun lalu. Namun menurutnya, ancaman drone berbeda dari sebelumnya.
“Rudal berhenti sejak gencatan senjata — tapi drone mulai berdatangan sebagai gantinya. Drone itu punya kamera. Kalau ada tentara berseragam, atau mereka tidak menyukai seseorang, drone itu langsung menjatuhkan bom dan meledak.”
Alma Research Center menyebut penilaian militer Israel menunjukkan Hizbullah memiliki puluhan operator drone terlatih dan telah mengumpulkan stok besar drone murah berukuran kecil dengan harga sekitar 300 hingga 400 dolar AS per unit.
“Mereka meningkatkan jumlah serangan lintas perbatasan ke wilayah Israel,” kata Sarit Zehavi, kepala lembaga tersebut. “Dan saya pikir itu adalah perintah langsung dari Iran, terkait perkembangan pembicaraan dengan Amerika Serikat. Iran ingin melihat situasi di mana Israel menyerang Hizbullah, semuanya meledak, dan konflik kembali ke titik awal.”
“Tujuan Hizbullah adalah mencelakai sebanyak mungkin orang. Ketika mereka melihat tentara Israel mulai menemukan cara lebih baik untuk melindungi diri, mereka kemudian mencoba menyerang warga sipil di komunitas sipil,” kata Kapten Adi Stoler, juru bicara militer Israel.
“Masyarakat mulai kembali keluar rumah, menjalani hidup, mengantar anak ke sekolah, dan jika Hizbullah bisa menyerang mereka saat melakukan itu, maka itulah yang akan mereka lakukan.”
Kepala staf militer Israel dilaporkan telah menyerukan serangan terhadap “gedung-gedung di Beirut” sebagai respons atas meningkatnya penggunaan drone peledak oleh Hizbullah.
Untuk setiap drone yang melukai seorang tentara Israel, Menteri Keuangan sayap kanan Israel Bezalel Smotrich mengatakan pasukan Israel seharusnya “meratakan 100 bangunan” di basis Hizbullah di Beirut selatan.
Awal pekan ini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga berjanji akan memberikan “pukulan telak” kepada Hizbullah.
“Benar bahwa mereka meluncurkan drone kepada kami,” katanya. “Kami memiliki tim khusus yang menangani hal ini, dan kami akan menyelesaikannya.”
Militer Israel sebelumnya dikritik karena dinilai lambat belajar dari pengalaman pasukan Ukraina yang selama dua tahun terakhir menghadapi ancaman drone fiber optic Rusia.
Sarit Zehavi mengatakan para peneliti Alma sebenarnya sudah memperingatkan sejak 2024 bahwa drone fiber optic akan menjadi ancaman berikutnya dari Hizbullah.
“Kami tahu ini akan terjadi karena jelas Hizbullah akan mengadopsi metode dari Ukraina. Ketika kami berhasil mencegat roket dan semakin baik mencegat UAV, maka FPV menjadi langkah berikutnya.”
“Ini adalah masalah taktis yang sedang kami hadapi, bukan ancaman eksistensial,” kata Adi Stoler dari IDF. “Tetapi ya, jenis drone ini memang menjadi tantangan bagi kami. Dan kami berusaha menyelesaikannya secepat mungkin.”
Seorang pejabat militer Israel mengakui hambatan utama dalam menghadapi ancaman tersebut berasal dari “kesenjangan dalam pengembangan senjata”.
“Respons kami belum sepenuhnya efektif. Kemampuan deteksi dan intersepsi masih harus terus dikembangkan,” katanya, sambil menambahkan bahwa penanggulangan drone kini menjadi “misi utama” bagi Komando Utara IDF dengan investasi sumber daya besar.
Belajar dari pengalaman perang Ukraina, pasukan Israel mulai menutupi posisi mereka dengan jaring untuk menjebak drone kecil tersebut.
Sejumlah perusahaan pertahanan Israel juga sedang mengembangkan teknologi baru untuk melawan perang drone Hizbullah.
Menurut Alma Research Center, teknologi itu mencakup drone pencegat canggih, amunisi anti-drone khusus yang dapat pecah menjadi serpihan, hingga sistem tembak otomatis dengan sensor elektro-optik.
Salah satu proyek yang dikembangkan perusahaan Israel Smart Shooter menggunakan sensor yang terus memindai lingkungan dan mengirim data ke komputer yang dipasang pada senjata prajurit. Sistem itu kemudian menganalisis ancaman, mengunci target, dan memberikan waktu tembak kepada tentara.
Namun surat kabar Israel Hayom melaporkan sistem pertahanan yang dikembangkan sejauh ini masih belum efektif. Untuk saat ini, opsi militer yang dianggap paling memungkinkan adalah menghancurkan drone di gudang penyimpanan atau membunuh operator sebelum peluncuran.
Awal pekan ini, IDF merilis video yang diklaim menunjukkan serangan terhadap seorang operator yang sedang mengambil drone di Lebanon selatan.
Perlombaan beradaptasi di medan perang juga dibarengi perang propaganda.
Hizbullah secara rutin merilis rekaman editan yang diklaim sebagai serangan drone terhadap target Israel dengan latar musik bernuansa mencekam.
Salah satu video yang dirilis pekan ini tampaknya direkam dari drone Hizbullah saat menuju kendaraan militer berisi tentara Israel di desa Bint Jbeil, Lebanon. Video itu berakhir dengan dua tentara melompat dari truk sesaat sebelum drone menghantam kendaraan tersebut.
Pada Rabu, IDF kembali mengeluarkan perintah evakuasi untuk desa, kota kecil, dan kota besar di Lebanon selatan, termasuk perintah evakuasi luas untuk seluruh wilayah di bawah Sungai Zahrani yang berjarak sekitar 40 kilometer dari perbatasan.
Israel juga terus membombardir target di Lebanon dan membersihkan wilayah yang disebut digunakan pejuang Hizbullah di bagian selatan.
Di Shomera, muncul seruan agar Israel bertindak lebih jauh meski ada pembatasan politik dalam perjanjian gencatan senjata dengan pemerintah Lebanon serta upaya Presiden AS Donald Trump untuk mencapai kesepakatan dengan Iran sebagai pendukung Hizbullah.
“Bagaimana cara menghentikannya? Masuk lebih dalam ke Lebanon dengan serangan besar,” kata petani persik, Amichai Ben David.
Sementara itu, Sami Zanetti mengatakan ia menginginkan “perdamaian nyata” dengan Hizbullah atau perang total.
“Saya ingin negara ini mengambil keputusan berani dan membersihkan teroris untuk selamanya. Habisi Hizbullah,” katanya. “Hari ini, tangan kami terikat oleh Presiden AS Donald Trump.”
