Uni Eropa memperingatkan negara-negara Asia Tenggara agar tidak beralih ke Rusia untuk pasokan minyak, di tengah upaya mereka mengatasi kelangkaan bahan bakar akibat konflik di Timur Tengah.
Setelah bertemu para menteri luar negeri Association of Southeast Asian Nations di Brunei pada Selasa, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas mendesak kawasan tersebut untuk melihat “gambaran besar”. Ia menegaskan bahwa pembelian minyak Rusia dapat membantu Moskow melanjutkan perang di Ukraina.
Namun di kawasan yang sangat bergantung pada Timur Tengah untuk energi dan pupuk ini, peringatan tersebut tampaknya tidak diindahkan. Sejumlah negara justru mulai menjalin kesepakatan dengan Rusia.
Indonesia mengumumkan pekan lalu akan mengimpor hingga 150 juta barel minyak mentah Rusia, setelah Presiden Prabowo Subianto bertemu Vladimir Putin di Moskow. Sementara Filipina—sekutu Amerika Serikat—menerima pengiriman pertama minyak Rusia dalam lima tahun pada Maret. Thailand dilaporkan tengah bernegosiasi untuk membeli pupuk, sedangkan Vietnam mempercepat kesepakatan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir dengan Rusia.
Bagi Rusia, krisis ini membawa keuntungan besar. Lonjakan harga energi dan pelonggaran sementara sanksi atas pembelian minyak Rusia di laut telah menghasilkan keuntungan miliaran dolar, sekaligus memperkuat klaim bahwa upaya Barat untuk mengisolasi negara tersebut gagal.
Gelombang kesepakatan ini juga memunculkan pertanyaan apakah konflik Timur Tengah membuka peluang bagi Rusia untuk memperdalam pengaruhnya di Asia Tenggara.
Dari Jakarta hingga Hanoi, survei menunjukkan Rusia dan pemimpinnya umumnya dipandang positif. Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 disebut hanya berdampak terbatas pada opini publik di kawasan.
Sebuah survei 2024 oleh The Economist menunjukkan lebih dari 50 persen responden di Indonesia dan Vietnam ingin Rusia memenangkan perang. Survei Pew Research Center pada 2025 menemukan 64 persen warga Indonesia memiliki pandangan positif terhadap Rusia, dibandingkan 48 persen terhadap Amerika Serikat.
Menurut Ian Storey dari ISEAS-Yusof Ishak Institute, Putin dipandang sebagai figur kuat yang menantang Barat dan membela nilai-nilai tradisional.
“Citra maskulin itu cukup diterima di banyak negara kawasan,” ujarnya.
Rusia juga memiliki hubungan lama dengan negara-negara seperti Vietnam dan Laos, serta dipandang ramah terhadap dunia Muslim karena dukungannya terhadap Palestina, tambahnya.
Meski demikian, analis menilai kemampuan Rusia memperluas pengaruhnya tetap terbatas, terutama dibandingkan kekuatan ekonomi dan militer Amerika Serikat serta China.
Ketergantungan Rusia yang meningkat terhadap China juga dapat membuat beberapa negara Asia Tenggara berhati-hati, terutama yang memiliki sengketa wilayah dengan Beijing.
Keputusan AS untuk melonggarkan sanksi minyak Rusia pada Maret—yang kemudian diperpanjang selama 30 hari pada pertengahan April—turut memengaruhi dinamika ini. Jika tidak diperpanjang kembali, minat negara-negara Asia untuk membeli minyak Rusia bisa terpengaruh.
Sektor energi nuklir menjadi salah satu peluang utama bagi Rusia.
“Negara-negara kini meninjau ulang hubungan mereka dan fokus pada kedaulatan energi, diversifikasi, serta energi terbarukan,” kata Storey.
Rusia, sebagai pemain besar dalam industri nuklir global, telah menandatangani kontrak dengan Myanmar dan Vietnam. Namun, persaingan dari negara lain tetap ketat.
Secara keseluruhan, perang di Timur Tengah memberi Rusia peluang untuk memposisikan diri sebagai mitra yang “stabil dan dapat diandalkan”, khususnya dalam isu ketahanan pangan dan energi.
Bagi Indonesia, kesepakatan energi dengan Rusia mencerminkan kebijakan luar negeri non-blok.
Profesor Leszek Buszynski dari Australian National University menilai langkah ini juga mengirim sinyal kepada Barat bahwa Indonesia tidak akan selalu mengikuti arah kebijakan mereka.
Di sisi lain, Rusia menghargai peran Indonesia dalam forum internasional seperti PBB, G20, dan BRICS, terutama dalam memperkuat narasi bahwa perang Ukraina adalah “masalah Barat”.
Sebagai simbol kedekatan tersebut, Rusia dan ASEAN dijadwalkan menggelar KTT peringatan 35 tahun hubungan di Kazan pada Juni mendatang. Meski belum tentu menghasilkan kesepakatan besar, pertemuan itu dinilai penting secara simbolis.
“Ini pada dasarnya adalah kesempatan foto besar bagi Putin—bukti bahwa Rusia masih memiliki sekutu di dunia,” ujar Storey.
