Kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah, sebuah langkah yang dikhawatirkan akan semakin memperburuk situasi keamanan yang sudah sangat rapuh di Timur Tengah.
Dengan memaksa kapal-kapal berbalik arah dari Selat Bab el-Mandeb yang sempit, kelompok tersebut mengancam jalur pelayaran utama yang menghubungkan Eropa dan Asia.
Perkembangan ini terjadi ketika serangan antara Amerika Serikat dan Iran masih terus berlangsung, di saat kesepakatan pengembangan industri nuklir Arab Saudi juga memicu kekhawatiran akan perlombaan senjata di kawasan.
Lantas, apakah Timur Tengah kini semakin berbahaya?
Sejauh ini, tahun 2026 menjadi salah satu periode paling penuh kekerasan bagi sejumlah wilayah di Timur Tengah.
Selama 13 malam berturut-turut, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (Centcom) melancarkan serangan udara terhadap Iran.
Dalam pernyataannya pada Kamis malam waktu setempat, Centcom mengatakan serangan tersebut menyasar “pusat komando militer Iran, fasilitas penyimpanan drone, jaringan komunikasi, lokasi pengawasan pesisir, serta kemampuan maritim untuk semakin mengurangi ancaman Iran terhadap pelaut sipil dan kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.”
Negara-negara Arab di kawasan Teluk, yang selama masa damai dikenal sebagai wilayah dengan tingkat kriminalitas rendah dan pajak yang minim, kini harus beradaptasi dengan serangan yang terus-menerus datang dari tetangganya di seberang Teluk, yakni Republik Islam Iran.
Kini, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran juga kembali terlibat dalam konflik, setelah gencatan senjata dengan Arab Saudi yang tercapai pada 2022 tampaknya mulai runtuh.
Dua kapal Arab Saudi dilaporkan terkena serangan rudal di Laut Merah pekan ini. Sementara itu, Houthi mengklaim telah memaksa 10 kapal lainnya berbalik arah setelah memperingatkan kapal-kapal agar tidak berlabuh di pelabuhan Arab Saudi. Tindakan tersebut mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis yang menghubungkan bagian selatan Laut Merah dengan Samudra Hindia.
Situasi ini menjadi penting karena, di tengah gangguan pasokan energi dan pupuk dunia akibat penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran, hambatan baru di Bab el-Mandeb berpotensi semakin mengganggu perdagangan maritim internasional dan pada akhirnya memengaruhi perekonomian global.
Arab Saudi selama ini berupaya menjaga jarak dari konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Negara itu juga relatif terhindar dari serangan drone dan rudal balistik Iran yang sepanjang bulan ini menghantam Bahrain, Kuwait, dan Yordania.
Dengan tertutupnya Selat Hormuz, Arab Saudi masih mampu mengurangi sebagian gangguan ekspor minyaknya melalui East-West Pipeline, jaringan pipa yang membentang dari ladang minyak di Provinsi Timur menuju terminal ekspor Laut Merah di Yanbu’ al-Bahr.
Dari pelabuhan tersebut, minyak kemudian dikirim dalam jumlah besar ke pelanggan di Asia menggunakan kapal tanker yang berlayar ke selatan melewati Yaman dan Selat Bab el-Mandeb sebelum memasuki Samudra Hindia.
Namun kini jalur itu juga terancam, setidaknya selama Houthi masih mengancam kapal-kapal yang melintasi perairan di dekat wilayah mereka.
Presiden AS Donald Trump berjanji akan “mengatasi Houthi”. Namun, pendekatan tersebut dinilai belum pernah berhasil sebelumnya dan diperkirakan tidak akan berhasil kali ini tanpa adanya kesepakatan politik.
Houthi merupakan kelompok suku Syiah yang berasal dari wilayah utara Yaman, terutama di sekitar Kota Saada.
Pada 2014, dengan memanfaatkan kekacauan setelah gelombang protes Arab Spring yang mengguncang Timur Tengah, mereka bergerak ke selatan dan menguasai ibu kota Yaman, Sanaa. Sejak saat itu, Houthi menguasai sebagian besar wilayah berpenduduk di negara tersebut, termasuk pelabuhan strategis Hodeidah.
Arab Saudi memulai perang melawan Houthi pada 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang sah namun telah digulingkan, karena Riyadh tidak menginginkan kelompok bersenjata yang didukung Iran berkuasa di perbatasan selatannya.
Saat itu, Arab Saudi memperkirakan angkatan udara mereka yang jauh lebih unggul dan didukung persenjataan Barat akan mampu memaksa Houthi kembali ke meja perundingan dalam waktu singkat.
Namun, Houthi tidak pernah menyerah meski serangan udara selama bertahun-tahun menyebabkan jatuhnya banyak korban sipil. Kini, kelompok tersebut justru semakin mengukuhkan kekuasaannya.
Selama dua tahun, yakni dari 2023 hingga 2025, Houthi menyerang kapal-kapal yang mereka sebut memiliki keterkaitan dengan Israel di Laut Merah. Menurut mereka, aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap rakyat Palestina di Gaza.
Kelompok itu juga meluncurkan rudal modern berkekuatan tinggi ke arah kapal perang Amerika Serikat dan Inggris yang berupaya menghentikan operasi mereka.
Seperti wilayah pesisir Iran di sekitar Selat Hormuz, kawasan pegunungan pesisir Laut Merah di Yaman dipenuhi gua, terowongan, dan tempat persembunyian persenjataan yang memungkinkan amunisi dikeluarkan sewaktu-waktu untuk menyerang kapal-kapal yang melintas.
Kampanye Houthi sebelumnya telah memaksa kapal-kapal dunia mengubah rute pelayaran, meningkatkan biaya logistik global, dan mendorong intervensi militer Amerika Serikat serta Inggris demi melindungi perdagangan maritim internasional.
Kini muncul kekhawatiran bahwa situasi serupa akan kembali terulang.
Dampak terhadap Kawasan
Di sisi lain, penting dicatat bahwa dua negara yang sebelumnya dilanda perang saudara berkepanjangan, yaitu Irak dan Suriah, kini relatif lebih damai dan stabil dibandingkan beberapa tahun lalu.
Perang di Gaza secara teknis masih berada dalam masa gencatan senjata, meskipun serangan udara yang menewaskan warga Palestina masih terjadi. Sementara itu, pembangunan permukiman Israel yang dianggap ilegal berdasarkan hukum internasional terus meluas di wilayah Tepi Barat yang diduduki. Konflik Israel dengan Hizbullah di Lebanon juga masih tertahan karena kedua pihak tetap melanjutkan proses negosiasi.
Namun saat ini, kawasan Teluk dan Semenanjung Arab justru menjadi perhatian utama para analis.
Trump dinilai telah membawa Amerika Serikat ke dalam konflik dengan Iran yang hingga kini belum menunjukkan jalan keluar.
Serangan udara AS yang berlangsung hampir setiap malam belum mampu memaksa Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melepaskan kendali atas Selat Hormuz.
Setiap kali AS melancarkan serangan, IRGC membalas dengan menyerang negara-negara Arab tetangga yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Tujuannya adalah menciptakan perpecahan antara negara-negara tersebut dan Washington.
Dari sisi ekonomi, waktu terus berjalan. Setiap hari ketika minyak, gas, pupuk, dan berbagai komoditas penting dari kawasan Teluk tidak dapat melewati Selat Hormuz menuju pasar dunia, tekanan terhadap rantai pasok global semakin meningkat dan pada akhirnya akan mendorong kenaikan harga.
Jika Selat Bab el-Mandeb juga tertutup dalam waktu yang lama, dampaknya terhadap perekonomian dunia diperkirakan akan semakin besar.
Dari sisi militer, ketegangan kembali meningkat setelah diumumkannya kesepakatan pada Rabu yang membuka jalan bagi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat untuk membantu Arab Saudi mengembangkan program pembangkit listrik tenaga nuklir sipil di dalam negeri.
Sejauh ini tidak ada indikasi bahwa Arab Saudi akan menjadikan program tersebut sebagai langkah awal untuk membangun senjata nuklir.
Meski demikian, masih terdapat kekhawatiran bahwa perkembangan itu dapat memicu perlombaan senjata di kawasan pada masa depan, terutama jika Turki dan Mesir juga meningkatkan program nuklir mereka sebagai bentuk pencegahan dan perlindungan.
Timur Tengah telah berkali-kali mengalami lonjakan kekerasan sepanjang sejarah modernnya dan situasi saat ini bukanlah yang paling parah.
Namun, jika berbagai perkembangan tersebut dilihat secara bersamaan, terdapat sejumlah sinyal yang mengkhawatirkan. Tanpa tercapainya kesepakatan yang bersifat menyeluruh dan berkelanjutan antara Amerika Serikat dan Iran, kawasan Timur Tengah berpotensi menghadapi periode ketidakstabilan yang berkepanjangan.
