Saat masih remaja, Michelle Huynh, anak sulung dari pasangan imigran yang menetap di Australia, pernah berjanji kepada keluarganya bahwa ia akan menjadi jutawan sebelum berusia 30 tahun.
Perempuan berusia 26 tahun itu kini menganggap janji tersebut sebagai “janji yang agak konyol”, tetapi lahir dari rasa hormat atas pengorbanan kedua orang tuanya yang tidak fasih berbahasa Inggris dalam membesarkan keluarga.
Untuk mewujudkan impian itu, Huynh menginvestasikan tabungannya ke pasar saham.
“Keadaan sekarang sangat berbeda dan investasi sudah menjadi sebuah kebutuhan,” kata Huynh, yang bekerja di bidang penjualan di sebuah perusahaan teknologi. “Daya beli kami terasa terus menurun. Ini satu-satunya cara untuk melawannya.”
Lonjakan saham teknologi sepanjang tahun ini, yang didorong oleh perkembangan kecerdasan buatan (AI), membuatnya semakin dekat dengan target tersebut.
Lebih dari sepertiga portofolio investasinya ditempatkan di saham teknologi. Hingga pertengahan Juli, nilai investasi itu sempat melonjak 50 persen sepanjang tahun ini, atau bertambah sekitar 31.000 dolar Australia (sekitar Rp330 juta).
Namun, keuntungan tersebut kini menyusut menjadi sekitar 22.000 dolar Australia (sekitar Rp234 juta) karena sektor teknologi tengah mengalami apa yang ia sebut sebagai “periode yang sangat liar”.
Meski begitu, Huynh mengaku telah siap menghadapi volatilitas tersebut karena memandang investasinya sebagai strategi jangka panjang.
Kenaikan saham-saham teknologi yang dipimpin perusahaan-perusahaan penerima manfaat dari ledakan AI telah menarik minat banyak investor ritel, terutama mereka yang berusia 20 hingga awal 30-an. Hal ini terjadi meskipun sejumlah analis memperingatkan bahwa antusiasme terhadap AI mungkin sudah berlebihan.
Glenn Tan dari perusahaan penasihat investasi Providend mengatakan investor ritel ikut terbawa euforia yang didorong oleh media sosial dan berbagai kampanye pemasaran yang menyasar investor nonprofesional.
Saham Teknologi Mengalami Lonjakan dan Koreksi Tajam
Indeks Nasdaq di Amerika Serikat, yang didominasi saham teknologi, telah naik sekitar 10 persen sepanjang tahun ini. Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang melonjak lebih dari 20 persen.
Namun, banyak saham teknologi mengalami fluktuasi tajam, baik naik maupun turun.
Kondisi tersebut paling terlihat di Korea Selatan. Indeks Kospi yang berisi perusahaan teknologi besar seperti SK Hynix dan Samsung Electronics melonjak lebih dari 50 persen sejak Januari.
Reli itu menarik gelombang besar investor ritel yang di Korea Selatan dijuluki “semut”, sehingga semakin mendorong tingginya volatilitas perdagangan.
“Saya mungkin bisa menghitung dengan jari orang-orang yang tidak berinvestasi saat ini,” kata investor asal Korea Selatan, U Chan Lee. “Bahkan ibu rumah tangga seperti ibu saya, yang sebelumnya sama sekali tidak tertarik dengan pasar saham, sekarang mulai ikut berinvestasi.”
Namun, Kospi juga mengalami gejolak yang sangat besar. Setelah sempat mencetak rekor di atas 9.000 poin pada Juni, indeks tersebut anjlok ke kisaran 6.500 poin.
Perdagangan di indeks acuan itu bahkan sempat dihentikan sebanyak tujuh kali sepanjang tahun ini melalui mekanisme circuit breaker, yang dirancang untuk meredam kepanikan pasar setelah indeks turun hingga 8 persen.
Penurunan tajam tersebut memicu kekhawatiran terhadap banyak investor yang meminjam uang untuk membeli saham. Akibatnya, otoritas Korea Selatan mengambil langkah untuk membatasi praktik tersebut.
Lee, yang kini berusia 30 tahun, mengatakan dirinya menjual sebagian besar sahamnya tahun lalu ketika Kospi melonjak karena menilai pasar sudah “terlalu panas”. Sejak itu, ia memilih strategi membeli saat harga turun dan menjual kembali beberapa hari kemudian ketika harga naik.
Optimisme AI Belum Tentu Berbanding Lurus dengan Keuntungan
Pergerakan harga yang sangat fluktuatif menunjukkan besarnya risiko investasi di sektor teknologi, menurut sejumlah analis.
Saat pemerintah dan perusahaan di seluruh dunia menggelontorkan ratusan miliar dolar untuk mengembangkan AI, muncul pertanyaan apakah teknologi tersebut benar-benar akan menghasilkan keuntungan yang sepadan dengan nilai investasinya.
Analis dari perusahaan investasi eToro, Lale Akoner, mengatakan investor sering kali bertaruh pada “hasil yang paling optimistis” atau mengejar “pemenang yang paling terlihat”, tanpa benar-benar mempertimbangkan profitabilitas perusahaan.
Menurutnya, investor ritel kerap menganggap penurunan harga saham sebagai peluang membeli. Setiap aksi jual diperlakukan sebagai “ujian keyakinan”, padahal mereka perlu memahami bahwa koreksi valuasi bisa sangat menyakitkan.
Tak Ingin Kehilangan Peluang
Jacqueline Choi dari Korea Selatan mengaku menyesal tidak menginvestasikan lebih banyak uang sebelum reli besar Kospi terjadi. Ia juga sempat terpaksa menjual saham Hyundai Motor dan Samsung Electronics ketika membutuhkan dana.
“Sekarang saya terus bertanya-tanya, kenapa dulu saya tidak membeli lebih banyak saham SK Hynix atau Samsung dengan seluruh tabungan saya?” ujar perempuan berusia 28 tahun itu.
Awal bulan ini, produsen cip SK Hynix resmi melantai di Bursa Efek New York dengan menghimpun dana sebesar 26,5 miliar dolar AS (sekitar Rp431 triliun), menjadikannya pencatatan saham terbesar yang pernah dilakukan perusahaan asing di Amerika Serikat.
Sebagian teman Choi bahkan menginvestasikan tabungan mereka hingga ribuan dolar ke pasar saham.
“Saya merasa seharusnya berinvestasi lebih banyak karena hasilnya jauh lebih besar dibandingkan penghasilan dari pekerjaan sehari-hari,” katanya.
Anak Muda Berani Mengambil Risiko
Mahasiswa bisnis asal Singapura, Shyan Lim, merupakan salah satu investor yang sangat yakin terhadap prospek saham-saham berbasis AI. Sekitar tiga perempat tabungannya kini ditempatkan di saham teknologi.
Pria berusia 24 tahun itu mengaku beberapa kali mengalami hari-hari yang membuatnya cemas ketika nilai investasinya anjlok hingga 10 persen. Namun, ia tetap bersedia mengambil risiko.
Sejauh ini, strategi tersebut membuahkan hasil. Pada Oktober, ia menginvestasikan 23.000 dolar Singapura (sekitar Rp292 juta) di saham produsen cip Intel dan Micron. Kini nilai investasinya telah meningkat menjadi sekitar 100.000 dolar Singapura (sekitar Rp1,27 miliar).
“Rasanya seperti selangkah lebih dekat menuju masa pensiun,” ujar Lim. “Selagi masih muda, saya rasa saya bisa mengambil risiko. Mungkin nanti ketika lebih tua saya tidak akan berani mengambil posisi sebesar ini.”
George Lee, lulusan baru yang juga berasal dari Singapura, menempatkan lebih dari separuh investasinya di sektor teknologi. Ia menyadari investor ritel memiliki keterbatasan sumber daya dibandingkan investor profesional.
“Investasi memang tidak hanya bergantung pada keberuntungan, meskipun faktor itu tetap ada,” katanya.
“Selama fundamental perusahaan tidak berubah, saya siap menghadapi gejolak harga karena saya masih punya waktu untuk menunggu investasi saya berkembang.”
Tidak Semua Berani Bertaruh Besar
Berbeda dengan investor lainnya, mahasiswa asal Singapura Ayush Deb hanya mengalokasikan sekitar sepertiga investasinya ke saham teknologi.
Pria berusia 23 tahun itu mengaku sektor tersebut tetap sulit diprediksi. Ia masih mengingat bagaimana pada Juni lalu investasinya di saham produsen cip memori anjlok lebih dari 10 persen hanya dalam satu hari.
Pada hari yang sama, berbagai forum investasi dipenuhi diskusi mengenai siapa saja yang mengalami kerugian besar.
“Saya sudah merasakan naik turunnya saham teknologi, tetapi sektor ini memang sulit dibaca,” ujar Deb, yang mulai berinvestasi sejak akhir masa remajanya. “Saya berusaha mengabaikan banyak kebisingan di industri ini dan fokus memilih saham berdasarkan analisis.”
Deb juga mengaku sempat mengalami fear of missing out (FOMO), yaitu rasa takut kehilangan peluang, ketika gagal membeli saham SpaceX saat perusahaan milik Elon Musk yang bergerak di bidang antariksa dan AI itu melantai di bursa pada Juni.
Meski sempat melonjak hingga 225 dolar AS per saham, kini harga saham SpaceX telah turun di bawah harga penawaran perdananya sebesar 135 dolar AS.
Penurunan itu terjadi setelah sejumlah analis mulai mempertanyakan prospek keuntungan perusahaan tersebut.
Meski antusiasme terhadap SpaceX sangat tinggi, Lim mengaku lebih memilih menghindari saham-saham yang baru melantai di bursa agar memiliki waktu untuk mempelajari operasional perusahaan terlebih dahulu.
Ia mengatakan akan menerapkan pendekatan serupa terhadap Anthropic maupun OpenAI ketika kedua perusahaan pengembang AI tersebut nantinya melakukan penawaran saham perdana yang diperkirakan dapat menghasilkan valuasi hingga 1 triliun dolar AS (sekitar Rp16.300 triliun).
Sementara itu, Michelle Huynh yang juga aktif membuat konten edukasi keuangan di media sosial mengatakan banyak anak muda merasa takut berinvestasi karena keterampilan mengelola keuangan masih jarang diajarkan di sekolah.
Menurutnya, kemampuan mengikuti perkembangan berita ekonomi dan bisnis merupakan keterampilan yang sering diremehkan. Belakangan ini, ia mulai mengalihkan sebagian investasinya ke saham sektor energi dan logam setelah membaca bahwa kedua sektor tersebut berpotensi diuntungkan oleh besarnya investasi dalam industri manufaktur cip.
“Saya rasa banyak anak muda takut berinvestasi, dan itu wajar. Jika tidak memahami apa yang sedang terjadi di pasar, investasi memang bisa terasa seperti berjudi,” katanya.
