Spanyol berhasil menjuarai Piala Dunia untuk kedua kalinya setelah mengalahkan Argentina dengan skor 1-0 melalui babak tambahan waktu dalam final yang berlangsung mengecewakan dan dipenuhi pelanggaran serta penghentian pertandingan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump hadir langsung menyaksikan laga tersebut. Selain itu, jeda babak pertama diperpanjang menjadi 27 menit karena untuk pertama kalinya dalam sejarah final Piala Dunia digelar pertunjukan paruh waktu yang menampilkan Shakira, Madonna, dan Justin Bieber.
Argentina harus bermain dengan 10 orang setelah Enzo Fernandez menerima kartu kuning kedua pada masa injury time akibat pelanggaran terhadap Pau Cubarsi.
Gol semata wayang pertandingan tercipta pada menit ke-106 ketika Ferran Torres memanfaatkan sundulan pemain pengganti Nico Williams sebelum melepaskan tembakan keras dari jarak dekat yang gagal diantisipasi kiper Argentina, Emiliano Martinez.
Spanyol tampil sebagai juara dengan penuh kepantasan setelah mendominasi final Piala Dunia yang jauh dari ekspektasi. Sang juara Eropa menciptakan peluang-peluang terbaik menghadapi juara bertahan Argentina, yang lebih banyak mengandalkan permainan keras dan upaya mengganggu ritme lawan. Situasi semakin sulit bagi Argentina setelah Enzo Fernandez diusir keluar lapangan sesaat sebelum pertandingan memasuki babak tambahan.
Torres menjadi pahlawan kemenangan Spanyol lewat gol yang akhirnya mematahkan perlawanan Argentina setelah 106 menit pertandingan berlangsung.
Laga final gagal menghadirkan tontonan spektakuler sebagaimana diharapkan. Pertandingan lebih menyerupai perang fisik yang menguras tenaga, sementara di luar lapangan justru kemeriahan dan kehadiran para bintang hiburan menjadi sorotan utama.
Menjelang kick-off, Presiden Donald Trump tiba di Stadion New York New Jersey menggunakan salah satu dari rombongan helikopter kepresidenan. Di sela pertandingan, Shakira, Madonna, dan Justin Bieber tampil dalam pertunjukan paruh waktu pertama sepanjang sejarah Piala Dunia, sehingga jeda pertandingan berlangsung selama 27 menit.
Di atas lapangan, pertandingan berlangsung membosankan dengan banyak pelanggaran dan interupsi sehingga permainan nyaris tidak pernah mengalir. Meski demikian, Lamine Yamal dan Mikel Oyarzabal sempat memaksa Emiliano Martinez melakukan penyelamatan penting pada babak pertama.
Para pemain Spanyol beberapa kali memprotes keputusan wasit Slavko Vincic yang dinilai terlalu longgar dalam memberikan hukuman. Salah satunya terjadi ketika Alexis Mac Allister melakukan tekel terlambat terhadap Dani Olmo. Kartu kuning pertama baru keluar pada menit ke-40 saat Lisandro Martinez menjatuhkan Oyarzabal. Bek Manchester United itu kemudian harus meninggalkan lapangan karena mengalami cedera.
Ketegangan memuncak pada masa injury time ketika Fernandez, yang sebelumnya telah mengantongi kartu kuning, menerima kartu kuning kedua akibat tekel keras terhadap bek Spanyol, Pau Cubarsi.
Emiliano Martinez menjadi penyelamat Argentina sepanjang pertandingan. Pada detik-detik terakhir waktu normal, ia menggagalkan tendangan bebas Lamine Yamal lewat penyelamatan gemilang yang memaksa laga berlanjut ke babak tambahan.
Martinez kembali menunjukkan kualitasnya dengan menggagalkan sundulan Nico Williams. Williams bahkan sempat mencetak gol, tetapi dianulir karena pemain pengganti Mikel Merino lebih dulu melakukan pelanggaran terhadap Nicolas Otamendi.
Argentina sebelumnya mampu bangkit untuk menyingkirkan Mesir dan Inggris pada fase gugur. Namun, mereka gagal mengulang skenario tersebut di final sehingga harus rela menyerahkan gelar juara kepada Spanyol.
Keberhasilan ini juga membuat Spanyol mencatat sejarah sebagai negara pertama yang secara bersamaan menyandang gelar juara dunia sepak bola putra dan putri.
Analisis Spanyol: Bangkit dari Awal Lambat Menuju Gelar Juara
Perjalanan Spanyol di Piala Dunia diawali dengan hasil imbang tanpa gol melawan Tanjung Verde, namun berakhir dengan keberhasilan meraih trofi paling bergengsi dalam sepak bola untuk kedua kalinya.
Kesuksesan tersebut sepenuhnya layak diraih. Seiring berjalannya turnamen, performa Spanyol terus meningkat. Mereka tampil dominan saat menyingkirkan Prancis, yang lebih difavoritkan, di semifinal dan tetap berusaha memainkan sepak bola menyerang meski final berlangsung keras dan minim kualitas permainan.
Pelatih Luis de la Fuente kembali menunjukkan ketenangannya. Setelah sukses membawa Spanyol menjuarai Euro 2024 dengan mengalahkan Inggris di Berlin, ia kembali membimbing timnya menghadapi tekanan dan provokasi dari para pemain Argentina.
Keunggulan jumlah pemain setelah kartu merah Fernandez membuat Spanyol semakin nyaman mengendalikan pertandingan. Lini pertahanan mereka nyaris tidak mendapat ancaman, sementara masuknya Nico Williams sebagai pemain pengganti memberikan dimensi serangan yang lebih tajam.
Final ini memang tidak menghadirkan drama dan hiburan seperti sejumlah pertandingan sebelumnya di turnamen. Namun pada akhirnya, Piala Dunia dimenangkan oleh tim yang paling pantas menjadi juara.
Analisis Argentina: Perpisahan Pahit Lionel Messi?
Jika ini benar-benar menjadi pertandingan terakhir Lionel Messi di Piala Dunia, maka penutup kariernya di ajang tersebut berlangsung dengan sangat pahit. Argentina gagal mempertahankan gelar juara, sementara sang ikon tidak mampu memberikan pengaruh besar dalam pertandingan.
Messi, yang kini berusia 39 tahun, memang lebih banyak berjalan selama pertandingan. Namun, ia tetap mencetak delapan gol sepanjang turnamen dan kembali menjadi pemimpin sekaligus inspirasi Argentina, terutama saat kemenangan 2-1 atas Inggris di semifinal ketika ia menciptakan kedua gol timnya.
Di final, Messi berhasil diredam pertahanan Spanyol. Ia hanya melepaskan satu tembakan yang tidak mengarah ke gawang dan dijauhkan dari area-area berbahaya.
Messi juga tidak banyak terbantu oleh pendekatan permainan Argentina. Timnya tampak lebih fokus merusak ritme permainan Spanyol daripada mengandalkan kualitas sepak bola yang sebenarnya mereka miliki.
Argentina memang menyuguhkan banyak pertandingan menarik sepanjang upaya mempertahankan gelar juara dunia. Namun, mereka tidak memiliki alasan untuk membantah bahwa Spanyol memang layak keluar sebagai pemenang.
Pemain Terbaik Pertandingan
Lamine Yamal (Spanyol) dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan dengan nilai rata-rata 7,94.
Rating pemain Spanyol
- Lamine Yamal: 7,94
- Rodri: 7,77
- Nico Williams: 7,72
- Ferran Torres: 7,68
- Marc Cucurella: 7,56
- Dani Olmo: 7,52
- Pedro Porro: 7,44
- Mikel Merino: 7,31
- Pedri: 7,26
- Pau Cubarsi: 7,18
- Martín Zubimendi: 7,16
- Mikel Oyarzabal: 7,13
- Eric García: 7,07
- Aymeric Laporte: 7,06
- Fabián Ruiz: 7,04
- Unai Simón: 7,04
- Álex Baena: 6,98
