Pelaksana Tugas Jaksa Agung Amerika Serikat, Todd Blanche, menggelar pertemuan yang berlangsung tegang dengan para penyintas kejahatan seksual Jeffrey Epstein pada Kamis sore waktu setempat. Pertemuan itu dilakukan di tengah upayanya mengamankan dukungan bagi pencalonannya sebagai jaksa agung.
Senator Thom Tillis dari Partai Republik, yang suaranya dibutuhkan untuk meloloskan pencalonan Blanche di Komite Kehakiman Senat, sebelumnya menyatakan bahwa pertemuan dengan para korban harus dilakukan sebelum ia bersedia memberikan suara mendukung calon yang diajukan Presiden Donald Trump tersebut.
Namun, pertemuan itu berakhir tanpa memberikan kepuasan penuh bagi kedua belah pihak.
“Suasananya tidak sepenuhnya bersahabat karena ada sesuatu yang mereka inginkan, yang menurut saya tidak bisa saya berikan, yaitu semacam bentuk keadilan,” kata Blanche seusai pertemuan yang berlangsung lebih dari satu jam di Departemen Kehakiman.
Keluarga Virginia Giuffre, salah satu korban paling dikenal dalam jaringan perdagangan seks Jeffrey Epstein yang meninggal akibat bunuh diri pada 2025, mengatakan dalam program The Lead with Jake Tapper bahwa pertemuan tersebut dipenuhi pengalihan pembahasan.
“Tidak ada pengakuan yang benar-benar nyata. Tidak ada komitmen yang benar-benar diberikan,” kata Amanda Roberts, ipar Giuffre. “Pembicaraan hanya berputar-putar dan rasanya sangat mengecewakan.”
Menanggapi pernyataan Blanche mengenai pertemuan tersebut, Roberts mengatakan bahwa sejak awal mereka memang datang dengan ketidakpuasan terhadap Blanche dan secara terbuka menyampaikan penolakan terhadap pencalonannya.
“Kami sudah lama meminta pertemuan ini, dan rasanya ia hanya melakukannya karena terpaksa,” tambah Roberts.
Jennifer Plotkin, pengacara yang mewakili para penyintas Epstein dan mengikuti pertemuan secara virtual, juga menyampaikan penilaian serupa
“Pertemuan itu mengecewakan. Jelas hanya sekadar memenuhi formalitas, dan Tuan Blanche tidak berkomitmen melakukan apa pun untuk membantu para penyintas,” ujarnya.
Usai pertemuan, Blanche mengatakan telah mendorong para penyintas untuk memberikan informasi apa pun kepada FBI yang dapat membantu penyelidikan. Ia juga berjanji akan kembali bertemu dengan mereka.
Namun, bagi penyintas Epstein, Dani Bensky, pesan tersebut belum cukup.
Bensky, yang sebelumnya memberikan kesaksian di Capitol Hill pada Kamis, mengatakan para penyintas merasa frustrasi karena berulang kali diminta kembali melaporkan pengalaman mereka kepada FBI sekaligus menyertakan bukti pendukung.
“Ia terus menghindari jawaban, berulang kali memotong pembicaraan kami, dan tidak mampu berkomitmen pada apa pun yang menunjukkan itikad baik ataupun mulai memulihkan kepercayaan,” kata Bensky dalam sebuah pernyataan seraya mendesak para senator menolak pencalonan Blanche.
Penyintas lainnya, Annie Farmer, juga meminta Senat menolak konfirmasi Blanche. Dalam pernyataannya setelah pertemuan, ia menulis, “Saya menilai dia kasar, merendahkan, dan sengaja tidak memberikan komitmen kepada para penyintas. Sikap itu sangat berbeda dengan kesaksiannya saat sidang konfirmasi.”
Nasib pencalonan bergantung pada dua senator Republik
Peluang Blanche lolos dari Komite Kehakiman Senat kini bergantung pada dua senator Partai Republik, Thom Tillis dari North Carolina dan John Cornyn dari Texas.
Cornyn baru-baru ini kalah dalam pemilihan pendahuluan Partai Republik di negaranya dari kandidat yang didukung Trump, sementara Tillis telah mengumumkan tidak akan mencalonkan diri kembali pada pemilu berikutnya.
“Ini merupakan bagian yang sangat penting agar saya bisa memberikan suara mendukung,” kata Tillis mengenai pertemuan Blanche dengan para penyintas Epstein dalam sidang Komite Kehakiman Senat pada Kamis pagi waktu setempat.
“Saya berharap pertemuan itu berlangsung sebelum saya bersedia memberikan suara di komite ini, dan saya sedang berupaya menuju keputusan mendukung,” ujar senator dari North Carolina yang beberapa kali mengkritik Trump tersebut.
Setelah pertemuan selesai, Tillis memuji Blanche melalui media sosial karena telah bersedia bertemu dengan para penyintas. Namun, ia belum menyatakan apakah sikapnya mengenai pencalonan tersebut berubah.
Sehari sebelumnya, Blanche menghadapi berjam-jam pertanyaan dari anggota komite. Dalam sidang itu, ia mengakui adanya sejumlah kesalahan dalam proses peninjauan dokumen terkait Epstein, tetapi tetap membela cara Departemen Kehakiman menangani perkara tersebut.
Sky Roberts, saudara laki-laki Virginia Giuffre, mengatakan bahwa ia tidak merasakan empati dari Blanche, meskipun mengapresiasi Tillis karena telah memfasilitasi pertemuan itu.
“Yang diinginkan Senator Tillis adalah pembahasan yang lebih substansial,” kata Roberts.
Menurutnya, substansi yang dimaksud adalah adanya komitmen mengenai penyelidikan ataupun kejelasan mengenai langkah selanjutnya.
“Saya bisa mengatakan dengan sepenuh hati bahwa kami tidak meninggalkan pertemuan itu dengan perasaan seperti itu.”
Perdebatan soal dana “anti-weaponization”
Tillis dan Cornyn juga termasuk di antara senator Partai Republik yang paling vokal mengkritik usulan Departemen Kehakiman mengenai pembentukan dana “anti-weaponization” senilai hampir US$1,8 miliar, atau sekitar Rp29,2 triliun.
Blanche sebelumnya mengatakan usulan dana tersebut sudah dibatalkan.
Namun, Cornyn mengatakan pada Kamis bahwa setelah mendengar kesaksian Blanche, ia justru menilai dana tersebut masih mungkin dihidupkan kembali.
“Saya justru semakin yakin bahwa dana anti-weaponization itu masih bisa dihidupkan kembali. Jadi anggapan bahwa usulan itu sudah benar-benar hilang menurut saya tidak tepat,” katanya.
Sementara itu, Tillis mengatakan ia membutuhkan bukti konkret bahwa gagasan tersebut tidak akan kembali muncul.
“Saya membutuhkan hasil kerja yang sangat jelas dan terukur, bukan sekadar anggukan atau jabat tangan, tetapi kesepakatan yang dapat didefinisikan, diratifikasi, dan dilaksanakan sehingga saya benar-benar yakin bahwa gagasan buruk ini sudah mati,” ujarnya
Di hadapan Komite Kehakiman, Blanche juga harus berhati-hati menjaga keseimbangan. Di satu sisi ia meyakinkan senator Partai Republik bahwa dirinya akan mempertahankan pendekatan tegas Departemen Kehakiman. Di sisi lain, ia juga berupaya menunjukkan bahwa Presiden Trump tidak akan mencampuri proses hukum demi kepentingan politik.
Departemen Kehakiman bergerak cepat
Tak lama setelah Tillis menyatakan Blanche harus bertemu para penyintas Epstein, seorang pejabat Departemen Kehakiman menemui Dani Bensky dan menawarkan pertemuan.
Bensky mengatakan ia diberi tahu bahwa Alessandra Serano, koordinator nasional untuk eksploitasi anak dan perdagangan manusia, bersedia menemui para penyintas pada hari itu.
Namun tawaran tersebut ditolak. Bensky dan para penyintas lainnya menegaskan bahwa mereka hanya bersedia bertemu langsung dengan Blanche, sesuai permintaan Tillis.
Rencana pertemuan itu memicu kesibukan di kalangan komunitas penyintas Epstein karena sebagian dari mereka telah meninggalkan Washington, DC.
Salah satu kekhawatiran mereka adalah memastikan sebanyak mungkin penyintas memperoleh kesempatan bertemu langsung dengan Blanche, terutama jika pertemuan Kamis itu menjadi satu-satunya kesempatan yang tersedia.
Blanche pada Rabu juga membela langkah Departemen Kehakiman dalam merilis dokumen-dokumen Epstein. Ia mengatakan bahwa dari sekitar tiga juta dokumen yang dipublikasikan memang terdapat sejumlah kesalahan dalam penyuntingan informasi sensitif (redaction), tetapi kesalahan tersebut telah diperbaiki.
“Kami berupaya keras menerapkan penyuntingan yang tepat. Memang ada kesalahan, sehingga sekitar satu persen hasil penyuntingan harus diperbaiki setelah dokumen Epstein dirilis,” kata Blanche.
“Itu bukan alasan untuk membenarkan kesalahan tersebut, yang saya tanggung jawab sepenuhnya. Namun, kami memang berusaha memperbaikinya.”
Para korban Epstein, termasuk Bensky, menilai perbaikan itu dilakukan terlambat karena informasi pribadi mereka telanjur tersebar ke publik.
Sidang konfirmasi diwarnai perdebatan
Dalam sidang Komite Kehakiman Senat pada Kamis, Partai Republik menghadirkan mantan Jaksa Agung John Ashcroft, yang menjabat pada era Presiden George W. Bush, Presiden Federal Law Enforcement Officers Association Foundation Jon Adler, serta Jennifer Bos, ibu dari seorang perempuan asal Illinois yang jasadnya diduga dilecehkan oleh imigran tanpa dokumen.
Sementara itu, Partai Demokrat menghadirkan Elizabeth Oyer, mantan pengacara karier bidang grasi di Departemen Kehakiman yang diberhentikan oleh Blanche tahun lalu.
Oyer, yang menggugat pemecatannya, mengklaim dirinya dipecat karena menolak tekanan dari pejabat politik pemerintahan Trump yang menginginkan pemulihan hak kepemilikan senjata aktor Mel Gibson, yang dicabut setelah vonis kasus kekerasan dalam rumah tangga pada 2011.
Para senator Partai Republik kemudian mempertanyakan apakah Oyer pernah merekomendasikan pemberian grasi atau perubahan hukuman kepada sejumlah narapidana kasus pembunuhan massal, termasuk Dylann Roof dan Robert Bowers, kepada Gedung Putih pada masa Presiden Joe Biden.
Oyer menjawab bahwa percakapannya dengan Gedung Putih dilindungi hak istimewa eksekutif (executive privilege). Namun, ia menegaskan seluruh narapidana yang disebutkan memang telah dikeluarkan dari hukuman mati, tetapi tetap akan menjalani hukuman penjara dengan pengamanan maksimum hingga akhir masa hukumannya.
“Saya tidak akan mengomentari rekomendasi yang saya berikan, tetapi saya dapat memastikan bahwa Roof akan meninggal di penjara,” kata Oyer dalam dialog dengan Senator Josh Hawley dari Missouri.
“Dia akan hidup di penjara untuk waktu yang sangat lama, karena Anda,” balas Hawley.
