Steven Scholtysek, 36 tahun, sudah terbiasa menghadapi gelombang panas di Eropa. Insinyur asal Jerman itu telah mengalami musim panas yang menyengat sejak masa kecilnya.
Namun, menurutnya, suhu panas tahun ini jauh lebih sulit ditoleransi. Eropa Barat mencatat bulan Juni terpanas sepanjang sejarah pencatatan, sementara sejumlah kota di Jerman mengalami suhu yang melampaui 40 derajat Celsius. Kawasan tersebut juga diperkirakan masih akan menghadapi gelombang panas lainnya sebelum musim panas berakhir.
Situasi semakin berat setelah beberapa bulan lalu Scholtysek pindah ke apartemen loteng, jenis hunian yang dikenal mudah menyerap dan menyimpan panas.
“Hampir mustahil menjalani kehidupan normal di apartemen tepat di bawah atap saat musim panas,” kata Scholtysek, yang tinggal di Kota Hamelin, Jerman bagian utara-tengah.
Ia kemudian menemukan PortaSplit, pendingin udara portabel tipe split buatan raksasa peralatan rumah tangga asal China, Midea. Produk tersebut dirancang agar memenuhi regulasi di Eropa dan kini menjadi salah satu perangkat yang paling diburu konsumen di kawasan itu pada musim panas ini.
“Perangkat ini benar-benar mengubah segalanya,” ujarnya.
Pengalaman Scholtysek kini semakin banyak dirasakan warga Eropa lainnya. Di kawasan yang selama ini memiliki tingkat kepemilikan pendingin udara relatif rendah, kebutuhan akan perangkat penyejuk ruangan meningkat seiring gelombang panas yang semakin sering dan ekstrem.
Penjualan Melonjak di Tengah Gelombang Panas
Midea, yang sebelumnya kurang dikenal di Eropa, mendadak menjadi nama yang akrab di banyak rumah berkat kesuksesan PortaSplit.
Dalam beberapa pekan terakhir, produk tersebut habis terjual di berbagai toko. Bahkan, unit bekas mulai bermunculan di situs jual beli dengan harga yang melonjak hingga dua atau tiga kali lipat dari harga resmi sekitar 750 euro (sekitar Rp14,2 juta).
Popularitasnya bahkan melahirkan situs khusus bernama MideaFinder, yang membantu pengguna melacak ketersediaan PortaSplit di berbagai toko.
Salah satu alasan utama tingginya permintaan adalah desain PortaSplit yang mampu mengatasi berbagai kendala bangunan di Eropa, termasuk aturan pelestarian bangunan bersejarah yang melarang pemasangan unit pendingin udara permanen pada dinding luar.
PortaSplit dilengkapi unit luar ruangan yang ringan sehingga pengguna dapat meletakkannya sendiri di luar jendela tanpa perlu melakukan pengeboran. Midea mengklaim perangkat ini kompatibel dengan sebagian besar jenis jendela di Eropa.
“Midea menyelesaikan masalah ini dengan cara yang sangat menarik,” kata Denis Yurchak, warga Wina, Austria
Yurchak pertama kali mengenal PortaSplit beberapa pekan lalu saat mencari pendingin udara untuk menghadapi gelombang panas.
Dari ulasan positif di internet hingga forum-forum yang membahas pendingin udara, pria berusia 27 tahun itu segera menyadari bahwa “ada semacam kultus penggemar Midea.”
Setelah mengunggah pengalaman positifnya menggunakan PortaSplit di platform X, ia mengaku hampir setiap hari menerima pesan dari orang-orang yang penasaran dengan perangkat tersebut.
Saat gelombang panas mencapai puncaknya, Yurchak mengatakan pendingin udara itu menyala hampir tanpa henti selama 24 jam sehari.
Merek China Kuasai Pasar Pendingin Udara Eropa
Menurut Midea kepada media pemerintah China Global Times, penjualan pendingin udaranya di Prancis, Spanyol, Jerman, dan Inggris meningkat lebih dari 70 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, kantor Midea di Eropa menolak mengonfirmasi angka tersebut
Lonjakan serupa juga dialami perusahaan China lainnya.
TCL Technology mengungkapkan kepada Global Times bahwa penjualan pendingin udaranya di Prancis melonjak lebih dari 300 persen.
Sementara itu, Gree, salah satu produsen pendingin udara terbesar di dunia, mengatakan bahwa permintaan terhadap produknya meningkat signifikan sepanjang musim panas ini.
“Banyak pelanggan kami adalah pembeli pertama. Gelombang panas musim panas yang semakin sering dan berlangsung lebih lama jelas telah mengubah cara pandang konsumen,” kata Gree dalam sebuah pernyataan.
Manfaat dan Dampak Lingkungan
Meski semakin diminati, penggunaan pendingin udara juga memunculkan kekhawatiran.
Sebuah laporan pada 2024 menyebutkan pendingin udara menyumbang sekitar 7 persen konsumsi listrik dunia dan menghasilkan sekitar 2,7 persen emisi karbon dioksida (COâ‚‚) global yang berasal dari bahan bakar fosil dan sektor industri.
Selama bertahun-tahun, kalangan pegiat lingkungan dan sejumlah politisi di Eropa menentang penggunaan pendingin udara karena konsumsi listriknya yang tinggi. Sebagian juga berpendapat bahwa udara panas yang dibuang ke luar ruangan justru dapat memperburuk suhu di kawasan perkotaan yang padat penduduk.
Sebagian warga menganggap membeli pendingin udara tidak sebanding dengan periode cuaca panas yang biasanya hanya berlangsung satu hingga dua pekan. Namun, bagi sebagian lainnya, perangkat tersebut kini telah menjadi kebutuhan.
Pada akhir Juni, ratusan sekolah di Prancis terpaksa ditutup setelah negara itu mencatat hari terpanas dalam sejarahnya. Beberapa hari kemudian, perusahaan listrik nasional Prancis mengumumkan investasi sebesar 80 juta euro (sekitar Rp1,5 triliun) untuk memasang sistem pendingin, termasuk kipas angin dan pendingin udara, di sekolah serta pusat kegiatan masyarakat.
Kantor Regional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Eropa juga merekomendasikan pendekatan yang lebih seimbang terhadap penggunaan pendingin udara. Menurut WHO, meski bukan solusi berkelanjutan dalam menghadapi suhu ekstrem, pendingin udara tetap penting untuk melindungi kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap dampak panas.
Citra “Made in China” Ikut Terangkat
Fenomena ini dipuji media China sebagai bukti meningkatnya daya saing produk berlabel Made in China, yang selama ini kerap dikaitkan dengan barang murah dan berkualitas rendah.
“Fakta bahwa pendingin udara China telah menjadi kebutuhan masyarakat Eropa bukan sekadar fenomena perdagangan, melainkan gambaran dari ‘pemberdayaan ala China’,” tulis media pemerintah People’s Daily.
Menariknya, sejumlah pemilik PortaSplit di Eropa mengaku baru mengetahui bahwa produk tersebut berasal dari perusahaan China.
“Pemasaran dan desainnya tidak seperti produk-produk China yang saya kenal sebelumnya. Tampilannya jauh lebih modern,” kata Scholtysek.
“Ketika saya mulai menggunakannya, kualitasnya setara dengan produk-produk yang biasa saya pakai dari Eropa atau negara lain.”
PortaSplit mulai dipasarkan di Jerman pada 2024. Dalam materi promosinya, Midea menyebut produk tersebut menggabungkan “rekayasa teknik Jerman” dari pusat risetnya di Stuttgart dengan “desain Italia”.
Menurut Scholtysek, hal itu mencerminkan perubahan citra teknologi China secara umum, mulai dari produsen drone DJI hingga berbagai merek mobil listrik asal China.
Bahkan setelah membeli PortaSplit, ia memutuskan membeli saham Midea karena yakin terhadap prospek perusahaan tersebut.
Kepercayaan serupa juga ditunjukkan pihak Midea.
Manajer Umum Operasi Midea di Eropa, Ralph Kobsik, mengatakan bahwa perusahaan melihat “potensi pertumbuhan jangka panjang yang sangat besar di Eropa.”
Ia menambahkan Midea akan terus berinvestasi dalam teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen Eropa.
Salah satu konsumen yang puas adalah Adrien Olar, 26 tahun, warga Prancis yang baru saja membeli pendingin udara pertamanya, Midea PortaSplit.
“Ini mungkin produk China pertama yang saya beli,” ujarnya sambil menyebut perangkat itu sebagai sebuah “revolusi”.
Sebelum PortaSplit tiba, selama beberapa hari ia hanya bisa menyemprotkan air ke wajahnya agar tetap merasa sejuk di rumah.
Kini kondisinya berubah drastis.
“Rasanya seperti masuk ke dalam lemari es setiap kali saya masuk ke kamar. Perbedaannya benar-benar luar biasa.”
