Close Menu

    Subscribe to Updates

    Dapatkan informasi terbaru dari mayoritas.com

    Apa yang Viral?

    Lulusan Stanford Terbelah Soal AI: Antara Peluang Emas dan Kekhawatiran Hilangnya Masa Depan Kerja

    24/06/2026

    Fenomena Pemain Lahir di Luar Negeri Meningkat Tajam di Piala Dunia, Identitas Timnas Jadi Sorotan Global

    24/06/2026

    Ingin Lebih Bahagia di Tempat Kerja? Studi Ungkap Jalan Kaki 5 Menit Setiap Jam Jadi Kunci Produktivitas

    24/06/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • POLITIK
      • Politik Amerika
      • Politik Asia
      • Politik Dunia
      • Politik Eropa
      • Politik Nasional
      • Politik Timur Tengah
    • Nasional

      Lulusan Stanford Terbelah Soal AI: Antara Peluang Emas dan Kekhawatiran Hilangnya Masa Depan Kerja

      24/06/2026

      Fenomena Pemain Lahir di Luar Negeri Meningkat Tajam di Piala Dunia, Identitas Timnas Jadi Sorotan Global

      24/06/2026

      Perempuan Sydney Sadar dari Koma Setelah Serangan Hiu, Jalani Pemulihan Panjang Usai Luka Parah

      24/06/2026

      Gelombang Panas Mematikan Landa Eropa, Puluhan Tewas Tenggelam di Prancis Saat Suhu Pecahkan Rekor

      24/06/2026

      DPR AS Tegur Trump, Loloskan Resolusi Perang Iran untuk Pertama Kalinya di Tengah Ketegangan Politik

      24/06/2026
    • TEKNOLOGI

      Lulusan Stanford Terbelah Soal AI: Antara Peluang Emas dan Kekhawatiran Hilangnya Masa Depan Kerja

      24/06/2026

      Kunal Shah Ditunjuk Pimpin WhatsApp, Pendiri Startup India Ini Naik ke Panggung Global Meta

      24/06/2026

      Masa Depan Harga Minyak Dunia Bisa Bergantung pada China

      23/06/2026

      100 Rumah Sakit di Rumania Beralih ke Pena dan Kertas untuk Melawan Serangan Siber Nasional

      23/06/2026

      Penipuan “Cinta Palsu” hingga Paket Tidak Terkirim: Cara Melindungi Diri dari Tiga Modus Scam Paling Umum

      22/06/2026
    • Hiburan
    • Belanja Sekarang
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    Mayoritas.com
    Langganan Sekarang
    TOPIK PANAS
    • Olahraga
    • Ekonomi & Pasar
      • Bisnis
      • Ekonomi
      • Keuangan
    • Wisata & Kuliner
    • Belanja Sekarang
    Mayoritas.com
    Home»Ekonomi & Pasar»Bisnis»Viral di India, Jasa Pembawa Belanja Picu Perdebatan: Solusi Praktis atau Simbol Privilege Kelas Menengah?
    Bisnis

    Viral di India, Jasa Pembawa Belanja Picu Perdebatan: Solusi Praktis atau Simbol Privilege Kelas Menengah?

    joveBy jove03/06/2026No Comments6 Mins Read2 Views
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Bayangkan ada seseorang yang siap membawa semua kantong belanja Anda saat berpindah dari satu toko ke toko lain. Atau mendorong kereta bayi Anda selama berbelanja.

    Itulah layanan yang kini ditawarkan sebuah perusahaan rintisan (start-up) baru di salah satu pasar tersibuk di ibu kota India, Delhi.

    Diluncurkan pada April lalu, CarryMen menyediakan pendamping pria maupun wanita yang membantu pengunjung berbelanja di Pasar Lajpat Nagar selama maksimal empat jam. Tarifnya dimulai dari 79 rupee (sekitar 0,83 dolar AS atau 0,62 pound sterling) untuk 30 menit, sementara satu jam dikenakan biaya 149 rupee.

    Layanan tersebut mendapat sambutan positif dari banyak pelanggan yang merasa kehadiran CarryMen membuat aktivitas belanja mereka jauh lebih mudah.

    Namun, kemunculannya juga memicu perdebatan mengenai apakah kelas menengah India sudah terlalu dimanjakan dan apakah para pendamping ini sebenarnya hanyalah “kuli” versi modern yang bekerja dalam sistem yang eksploitatif.

    Berawal dari Kesulitan Dua Ibu Saat Berbelanja

    CarryMen didirikan oleh dua sahabat, Ritu Kandari Srivastava dan Kanishka Malhotra, yang sama-sama merupakan ibu dari anak balita.

    “Ide ini muncul tahun lalu ketika saya dan Kanishka pergi ke Lajpat Nagar bersama anak-anak kami yang masih kecil. Kami sangat kesulitan mendorong kereta bayi sambil membawa banyak kantong belanja,” kata Ritu

    “Kami juga melihat seorang perempuan lanjut usia yang kesulitan membawa barang-barangnya dan ingin membantunya. Namun kami sendiri bahkan tidak mampu mengurus barang bawaan kami. Situasi itu sangat membuat frustrasi.”

    “Kami kemudian berpikir, andai ada layanan yang bisa kami bayar untuk mendapatkan bantuan, kami tidak perlu terus-menerus meminta anggota keluarga menemani kami berbelanja.”

    Lajpat Nagar dan banyak pasar lain yang sering dikunjungi jutaan warga India bukanlah pusat perbelanjaan modern dengan lantai rata, eskalator, dan pendingin udara.

    Sebaliknya, kawasan tersebut merupakan pasar terbuka yang padat dengan trotoar yang rusak, tidak rata, atau bahkan dipenuhi pedagang kaki lima, sehingga menyulitkan pengguna kereta bayi dan terkadang bahkan pejalan kaki biasa.

    Pada malam yang sama, kedua pendiri itu mendiskusikan ide tersebut bersama keluarga mereka, dan CarryMen mulai terbentuk.

    Dalam beberapa bulan berikutnya, mereka mendaftarkan perusahaan, memperoleh izin dari pemerintah kota dan kepolisian, serta mendirikan kios di Pasar Lajpat Nagar.

    Mereka kemudian merekrut lima pria muda—yang belakangan ditambah dua pekerja perempuan—dan meluncurkan layanan tersebut setelah satu bulan pelatihan intensif.

    Viral dan Memecah Opini Publik

    Tak lama setelah diluncurkan, CarryMen menjadi viral. Ribuan orang membagikan kabar tersebut di media sosial dan memunculkan berbagai pendapat yang saling bertentangan.

    Banyak pihak memuji ide tersebut sebagai inovasi cerdas yang berpotensi menciptakan ribuan lapangan kerja di negara yang masih menghadapi tingkat pengangguran perkotaan di atas 5 persen dan jutaan pencari kerja.

    Namun para kritikus menyebut layanan itu sebagai bentuk puncak dari mentalitas serba dilayani di kalangan masyarakat kaya India yang terbiasa menyerahkan pekerjaan-pekerjaan sederhana kepada asisten rumah tangga.

    Sebagian kritik muncul setelah beredar gambar-gambar buatan kecerdasan buatan (AI) yang menggambarkan calon pelanggan CarryMen sebagai perempuan kaya berpakaian mewah.

    “Layanan ini terdengar seperti ditujukan untuk perempuan super kaya yang baru selesai manicure dan tidak ingin kukunya rusak,” kata aktivis hak buruh sekaligus sosiolog, Akriti Bhatia.

    Sebagian pihak juga menyebut para CarryMen hanyalah “kuli” yang diberi nama baru dan akan menambah jumlah pekerja dalam ekonomi gig yang dinilai eksploitatif. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai bentuk perbudakan modern.

    Tuduhan tersebut ditolak tegas oleh para pendirinya.

    “Pertama-tama, tidak ada perbudakan di sini. Kami tidak memaksa siapa pun bekerja untuk kami. Semua pekerja kami adalah karyawan tetap bergaji, bukan pekerja gig,” kata Ritu.

    “Ini juga bukan soal hak istimewa. Kami hanya menyediakan bantuan bagi orang-orang yang kesulitan bergerak sendiri di jalanan dan pasar yang padat.”

    Menurutnya, mayoritas pelanggan selama enam minggu terakhir adalah perempuan hamil, ibu dengan anak kecil, lansia, dan penyandang disabilitas.

    Pelatihan Khusus dan Tugas Lebih dari Sekadar Membawa Tas

    Anand Kumar, salah satu CarryMen, mengatakan pelanggan pertama mereka adalah seorang perempuan hamil.

    Selama masa pelatihan, ia diajarkan untuk selalu bersikap sopan dan memperlakukan pelanggan seperti anggota keluarga sendiri.

    Para CarryMen tidak hanya membawa kantong belanja. Mereka juga membawa kereta bayi, payung, kursi lipat, botol air minum, hingga pengisi daya portabel.

    Mereka dilatih membuka dan mengunci kereta bayi dengan aman serta memahami tata letak pasar agar dapat mengarahkan pelanggan ke toko yang dituju dengan cepat.

    “Kami juga antre di gerai makanan untuk pelanggan sementara mereka duduk dan menunggu,” kata Anand.

    Pemuda berusia 18 tahun itu sebelumnya pernah bekerja sebagai pembantu toko sari dan kurir layanan pesan-antar makanan serta bahan makanan berbasis aplikasi.

    Menurutnya, penghasilan di CarryMen lebih baik dan ia merasa lebih dihargai dalam pekerjaan barunya.

    Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah ketika membantu seorang pria pengguna lengan prostetik.

    “Dia menyerahkan seluruh uang tunainya kepada saya dan meminta saya menghitung serta membayarkan belanjaannya. Saya sangat tersentuh dengan kepercayaan yang dia berikan,” ujarnya.

    Pelanggan Merasa Terbantu

    Pada minggu pertama setelah peluncuran, CarryMen belum menerima satu pun pemesanan.

    “Namun kami berhasil menarik perhatian orang,” kata Ritu.

    “Banyak yang datang ke kios untuk bertanya dan mencari tahu tentang layanan kami. Sekarang kami menerima hampir enam pemesanan per hari, dan pada akhir pekan jumlahnya bisa mencapai delapan atau sembilan.”

    Saat mengunjungi kios berwarna oranye-putih milik CarryMen pada suatu siang yang panas dan lembap, pasangan Jatinder dan Anita Sabharwal datang untuk menyewa pendamping.

    Jatinder, yang akan berusia 60 tahun dalam beberapa bulan ke depan, membawa tas bahu yang cukup berat. Anita juga membawa dua tas, sementara mereka masih memiliki beberapa keperluan lain yang harus dibeli.

    Ini merupakan pengalaman pertama mereka menggunakan layanan tersebut meskipun tinggal di lingkungan yang sama.

    Jatinder mengatakan bahwa ia mengetahui CarryMen dari istrinya yang melihat informasi layanan itu melalui Instagram.

    Anand yang mendampingi mereka langsung mengantar ke tujuan pertama, yaitu apotek, karena Anita mengalami migrain dan ingin membeli obat pereda nyeri.

    Saat pasangan itu masuk ke dalam toko, Anand menunggu di luar sambil menjaga barang-barang mereka.

    Setelah mereka keluar, Anand menyerahkan botol air agar Anita dapat meminum obatnya.

    “Dia juga membantu kami menemukan arah. Kami bahkan tidak tahu di mana apotek berada. Menurut saya ini layanan yang sangat baik. Dengan adanya bantuan seperti ini, kami bisa berbelanja dengan lebih nyaman,” kata Jatinder.

    “Kami bisa bergerak bebas tanpa terbebani barang bawaan,” tambah Anita.

    Pasangan tersebut mengaku tidak sepakat dengan tuduhan bahwa layanan itu mencerminkan sikap manja atau eksploitasi pekerja.

    “Menurut saya, orang yang mampu membawa tasnya sendiri seharusnya melakukannya. Tetapi mereka yang tidak mampu bisa memanfaatkan layanan ini. Ini sangat bermanfaat bagi orang-orang seperti kami. Seharusnya tersedia di setiap pasar,” ujar Jatinder.

    Tantangan Saat Bisnis Berkembang

    Ritu mengatakan CarryMen berencana memperluas operasinya.

    Pada Juli mendatang, perusahaan akan membuka layanan di Pasar Chandni Chowk yang terkenal ramai. Setelah itu, ekspansi akan dilakukan ke pasar-pasar lain di Delhi dan berbagai kota di India.

    Namun, menurut aktivis buruh Akriti Bhatia, keberlanjutan model bisnis tersebut akan sangat bergantung pada pendanaan yang berhasil diperoleh perusahaan.

    Saat ini CarryMen masih merupakan usaha berskala kecil dengan tujuh karyawan tetap.

    “Pertanyaannya adalah, apakah mereka bisa mempertahankan sistem yang sama ketika berkembang lebih besar?” kata Bhatia.

    “Banyak pekerjaan berbasis platform dan ekonomi gig awalnya menawarkan bayaran tinggi serta berbagai manfaat. Namun seiring waktu, janji-janji itu sering kali menghilang.”

    Menurutnya, melimpahnya tenaga kerja murah dan lemahnya tingkat serikat pekerja di India membuat banyak perusahaan mampu terus menekan pekerja demi keuntungan.

    “Ke arah mana CarryMen akan berkembang, kita masih harus menunggu dan melihatnya,” ujarnya.

    bisnis ekonomi India trend
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    jove
    • Website

    Related Posts

    Ekonomi & Pasar

    Lulusan Stanford Terbelah Soal AI: Antara Peluang Emas dan Kekhawatiran Hilangnya Masa Depan Kerja

    24/06/2026
    Lain Lain

    Fenomena Pemain Lahir di Luar Negeri Meningkat Tajam di Piala Dunia, Identitas Timnas Jadi Sorotan Global

    24/06/2026
    Gaya Hidup

    Ingin Lebih Bahagia di Tempat Kerja? Studi Ungkap Jalan Kaki 5 Menit Setiap Jam Jadi Kunci Produktivitas

    24/06/2026
    Ekonomi & Pasar

    PBB Siapkan Evakuasi Ribuan Pelaut yang Terjebak di Selat Hormuz di Tengah Ketegangan AS-Iran

    24/06/2026
    Bencana

    Perempuan Sydney Sadar dari Koma Setelah Serangan Hiu, Jalani Pemulihan Panjang Usai Luka Parah

    24/06/2026
    Internet

    Kunal Shah Ditunjuk Pimpin WhatsApp, Pendiri Startup India Ini Naik ke Panggung Global Meta

    24/06/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Langganan Berita

    Dapatkan berita olahraga terkini dari NewsSite tentang dunia, olahraga, dan politik.

    Pilihan Editor

    Lulusan Stanford Terbelah Soal AI: Antara Peluang Emas dan Kekhawatiran Hilangnya Masa Depan Kerja

    24/06/2026

    Fenomena Pemain Lahir di Luar Negeri Meningkat Tajam di Piala Dunia, Identitas Timnas Jadi Sorotan Global

    24/06/2026

    Ingin Lebih Bahagia di Tempat Kerja? Studi Ungkap Jalan Kaki 5 Menit Setiap Jam Jadi Kunci Produktivitas

    24/06/2026

    PBB Siapkan Evakuasi Ribuan Pelaut yang Terjebak di Selat Hormuz di Tengah Ketegangan AS-Iran

    24/06/2026
    Info Terbaru

    Apa Itu Lifestyle Sedentary? Menimbulkan Banyak Penyakit Hingga Dapat Terkena Kanker

    20/01/2021

    Pebasket Zhang Ziyu Setinggi 220M Menarik Perhatian Usai Mengalahkan Tim U-18 Indonesia

    15/01/2021

    Kronologi Atlet Bulu Tangkis China Zhang Zhi Jie Meninggal Di Ajang AJC 2024

    15/01/2021
    Advertisement
    LOGO_FOOTER_MAYORITAS
    Facebook X (Twitter) Pinterest Vimeo WhatsApp TikTok Instagram

    News

    • Ekonomi & Pasar
    • Olahraga
    • Opini
    • Otomotif
    • Wisata Kuliner
    • Video Unggulan
    • Kesehatan

    Company

    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Hak Cipta
    • Disclaimer
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Panduan Kebijakan

    Layanan

    • Toko
    • Customer Support
    • Karir
    • Tentang kami
    • Hubungi Kami
    • Akses login

    Langganan Updates

    Dapatkan informasi terkinni seputar fakta informasi dunia, anda bisa berlangganan melalui email anda

    © 2026 Mayoritas.com
    • Privacy Policy
    • Term of Service
    • Contact us

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.