Militer Amerika Serikat mengatakan telah melancarkan serangan yang disebutnya sebagai tindakan “pertahanan diri” terhadap Iran serta menembak jatuh rudal balistik dan drone yang ditembakkan ke arah kapal-kapal dan negara-negara Teluk.
Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) menyatakan bahwa serangan di Pulau Qeshm, yang terletak di Selat Hormuz, dilakukan sebagai respons atas upaya serangan Iran di berbagai wilayah Timur Tengah.
Iran menyatakan telah menyerang pangkalan militer dan helikopter Amerika Serikat di sebuah “negara kawasan” menggunakan rudal dan drone sebagai aksi balasan. Sementara itu, Centcom mengatakan Teheran menembakkan dua rudal ke Kuwait dan tiga rudal ke Bahrain, namun seluruhnya hancur di udara atau berhasil dicegat.
Serangan terbaru ini terjadi di tengah mandeknya negosiasi gencatan senjata, setelah pembicaraan mengenai kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama berbulan-bulan gagal mencapai kemajuan pada akhir pekan lalu.
Centcom menambahkan bahwa serangan di Pulau Qeshm menargetkan stasiun kendali darat militer Iran. Militer AS juga mengklaim telah menembak jatuh tiga drone serang yang diluncurkan Iran menuju “pelaut sipil yang secara sah melintas di perairan kawasan”.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa “mengganggu keamanan Selat Hormuz akan menimbulkan konsekuensi yang sangat berat bagi militer agresif Amerika Serikat”.
Centcom juga menyebut Iran telah meluncurkan “beberapa” rudal balistik ke arah negara-negara di kawasan tersebut.
“Dua rudal Iran yang ditembakkan ke Kuwait gagal mencapai sasaran atau hancur dalam perjalanan, sementara tiga rudal yang diluncurkan ke Bahrain segera dicegat oleh sistem pertahanan udara Amerika Serikat dan Bahrain,” kata Centcom.
Iran telah beberapa kali menyerang target di Bahrain dan Kuwait, lokasi yang menjadi tempat berdirinya pangkalan militer Amerika Serikat.
Sebelumnya, Centcom menyatakan telah menyerang dan melumpuhkan sebuah kapal tanker minyak tanpa muatan yang sedang berlayar menuju Iran sebagai bagian dari blokade laut Washington di Selat Hormuz yang dimulai pada 13 April.
Sebuah pesawat militer AS menembakkan rudal Hellfire ke ruang mesin kapal tanker berbendera Botswana tersebut setelah awak kapal disebut “mengabaikan peringatan berulang kali”, menurut pernyataan Centcom.
Centcom juga merilis rekaman yang diklaim menunjukkan momen ketika kapal tanker itu terkena serangan pada Selasa lalu.
Eskalasi terbaru ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada pekan ini meminta para pengkritiknya untuk “tenang dan santai”. Ia mengatakan bahwa Iran “sangat ingin mencapai kesepakatan, dan itu akan menjadi kesepakatan yang baik bagi Amerika Serikat”.
Sebelumnya, media-media AS melaporkan bahwa Trump meminta perubahan terhadap syarat-syarat dalam rancangan kesepakatan damai setelah mengadakan pertemuan dengan para penasihat senior guna membahas perluasan kerangka gencatan senjata.
perubahan tersebut berkaitan dengan Selat Hormuz, pemindahan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi dari Iran, serta kerangka kerja untuk membuka kembali negosiasi mengenai program nuklir Iran.
Pada Senin, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, membantah bahwa isu tersebut pernah menjadi bagian dari pembahasan. Ia menuduh Washington “terus-menerus mengubah pandangannya dan mengajukan tuntutan baru atau yang saling bertentangan”.
Dalam pernyataan terbarunya, Centcom mengatakan pasukan AS “menerapkan langkah-langkah blokade terhadap kapal M/T Lexie berbendera Botswana ketika kapal tersebut melintasi perairan internasional menuju Pulau Kharg”.
Menurut Centcom, awak kapal gagal “mematuhi instruksi pasukan AS beberapa kali selama periode 24 jam”.
Secara keseluruhan, Centcom menyebut enam kapal komersial telah dilumpuhkan dan 122 kapal lainnya dialihkan sejak blokade mulai diberlakukan.
Bentrokan terbaru ini terjadi ketika Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio untuk pertama kalinya tampil di hadapan Kongres sejak perang dimulai.
Diplomat tertinggi AS itu bersaksi bahwa para negosiator Amerika tidak pernah menawarkan pelonggaran sanksi kepada Iran sebagai imbalan atas pembukaan kembali Selat Hormuz.
“Saat ini, semua yang dibahas dengan mereka adalah bahwa setiap pelonggaran sanksi bersifat berbasis syarat. Artinya, hal itu harus diberikan sebagai imbalan atas alasan utama sanksi tersebut diterapkan sejak awal, yaitu program nuklir mereka,” ujarnya.
Dalam pertukaran pendapat yang berlangsung tegang dengan seorang senator, Rubio juga menegaskan bahwa strategi Washington bertujuan mengakhiri konflik.
“Perang sudah berakhir,” katanya, ketika para anggota komite mempertanyakan pendekatan Amerika Serikat dalam menyelesaikan konflik tersebut.
