Peraih medali Olimpiade Matthew Wells mendayung sekuat tenaga saat tubuhnya mulai melayang tanpa gravitasi selama 22 detik.
Alih-alih berada di atas perahu di permukaan air, ia berada di ketinggian 8.500 meter di dalam pesawat yang bermanuver untuk menciptakan kondisi tanpa bobot seperti di luar angkasa.
Ia menjadi bagian dari perlombaan berbeda — perlombaan menciptakan peralatan olahraga yang mampu menjaga kebugaran astronaut masa depan selama menjalankan misi luar angkasa.
Penemuan asal Inggris yang sedang ia uji coba itu menjadi salah satu dari berbagai teknologi yang kini dikembangkan di seluruh dunia, bersaing untuk mendapatkan tempat di pangkalan bulan dan stasiun luar angkasa generasi mendatang.
Astronaut harus berlatih keras di luar angkasa untuk menjaga massa otot dan kepadatan tulang. Namun, mesin olahraga saat ini mengharuskan mereka meluangkan banyak waktu setiap hari demi mempertahankan kondisi fisik tertentu.
“Bukankah menjadi astronaut adalah impian setiap anak?” kata Wells. “Ini kesempatan untuk melakukan sesuatu yang benar-benar berbeda.”
Wells, yang meraih medali perunggu pada Olimpiade Beijing, mengatakan bisa berkontribusi pada proyek yang mungkin akan digunakan di luar angkasa terasa “luar biasa”.
European Space Agency, NASA, Canadian Space Agency, dan UK Space Agency semuanya terlibat dalam pengembangan dan pengujian alat tersebut, termasuk ESA yang menyediakan fasilitas uji penerbangan parabola.
Dalam pengujian ini, pesawat akan menanjak lalu menukik untuk menciptakan kondisi tanpa gravitasi seperti di luar angkasa, memberikan waktu 22 detik bagi para peneliti mengumpulkan data sebelum manuver diulang kembali untuk memperkuat analisis mereka.
HIFIm, Alat Latihan Masa Depan untuk Astronaut
Perangkat tersebut bernama HIFIm atau High-Frequency Impulse for Microgravity. Sebelumnya alat ini telah melewati tahap pengujian untuk berbagai jenis latihan lain, termasuk mode “melompat”.
Ide perangkat ini muncul dari kompetisi antara tiga konsorsium di Eropa untuk menciptakan alat olahraga bagi Gateway Space Station, stasiun luar angkasa orbit bulan, jelas Meganne Christian — astronaut cadangan ESA sekaligus Senior Exploration Manager di UK Space Agency.
Meski proyek Gateway praktis mulai disisihkan oleh NASA, Christian mengatakan dunia kini berada pada “momen yang sangat menarik dalam eksplorasi antariksa”, di mana perangkat seperti ini dapat digunakan untuk stasiun luar angkasa baru maupun di “permukaan bulan” dalam misi Artemis yang bertujuan kembali ke bulan “kali ini untuk menetap”.
Persaingan Global Ciptakan Alat Kebugaran Antariksa
Penemuan Inggris itu bukan satu-satunya perangkat yang sedang dikembangkan dan diuji.
Tim lain di berbagai negara juga mengerjakan proyek serupa, termasuk perangkat yang dipesan ESA dan dikembangkan oleh Danish Aerospace Company.
Perangkat bernama European Enhanced Exploration Exercise Device atau E4D itu kini sedang diuji astronaut dan memiliki empat mode latihan: latihan resistensi, bersepeda, mendayung, dan menarik tali. Perangkat tersebut juga dilengkapi teknologi penangkap gerakan agar astronaut dapat memantau performa mereka.
Meski alat-alat ini dirancang untuk misi luar angkasa jangka panjang, misi Artemis II yang baru-baru ini mengorbit bulan juga membawa perangkat olahraga khusus bernama flywheel.
NASA menyebut pengembangan alat tersebut serta riset terhadap generasi baru perangkat olahraga akan memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan astronaut.
Tantangan Tubuh Manusia di Luar Angkasa
Sama seperti toilet yang sempat bermasalah selama misi Artemis II, penelitian ini mengingatkan bahwa astronaut yang bekerja di lingkungan ekstrem tetaplah manusia biasa.
Kerangka dan otot manusia dirancang untuk menghadapi gravitasi — bahkan saat kita sekadar bergerak di Bumi, tubuh sebenarnya sedang menghadapi berbagai gaya.
“Di luar angkasa kita tidak mengalami gaya apa pun. Otot dan tulang langsung mulai melemah karena tidak lagi mendapat beban dari gaya tersebut,” kata Dan Cleather.
Ia merancang teknologi yang memungkinkan HIFIm memantau efektivitas latihan penggunanya.
Jika astronaut tidak berolahraga, mereka juga akan kehilangan koordinasi dan kebugaran kardiovaskular, sehingga kemampuan menjalankan tugas fungsional menjadi menurun.
Namun, berolahraga di luar angkasa juga memiliki tantangan tersendiri, mulai dari bobot alat olahraga yang berat, keterbatasan variasi latihan, hingga waktu latihan yang sangat panjang.
“Di International Space Station misalnya, astronaut menghabiskan sekitar dua jam setiap hari untuk berolahraga… dan itu memakan banyak waktu,” kata Christian.
Menurutnya, jika waktu latihan dapat dikurangi, astronaut akan memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan penelitian dan eksperimen ilmiah “yang bisa menghasilkan berbagai terobosan besar”.
Tim pengembang HIFIm yakin perangkat mereka mampu memangkas waktu latihan harian menjadi hanya sekitar 30 menit.
Penemunya, John Kennett, menyebut alat kecil tersebut sebagai generasi berikutnya dari perangkat olahraga astronaut untuk misi luar angkasa jangka panjang. Ia mengklaim HIFIm dapat digunakan untuk 300 jenis latihan.
Kennett mengatakan alat itu bekerja tanpa tenaga listrik dan dirancang agar getarannya terisolasi sehingga tidak mengganggu eksperimen sensitif maupun struktur pesawat luar angkasa.
Mantan insinyur pesawat sekaligus pemilik studio pilates itu mendapatkan ide tersebut saat membantu seorang klien penyintas kanker yang memiliki kepadatan tulang sangat rendah.
Dari situ ia menghubungkannya dengan dunia antariksa dan merasa International Space Station “melewatkan peluang besar”.
Dari Studio Film ke Simulasi Tanpa Gravitasi
Perangkat tersebut dibuat di Pinewood Studios oleh para insinyur efek khusus pemenang Oscar untuk film 1917, yang juga mengerjakan waralaba Star Wars, James Bond, dan Mission Impossible.
Namun, untuk benar-benar menguji performanya, perangkat itu harus diuji dalam kondisi mirip luar angkasa melalui penerbangan parabola.
Pengujian terbaru melibatkan alat tambahan untuk mendayung yang tidak dapat diuji dengan baik di Bumi. Di situlah Matthew Wells ikut terlibat.
“Setiap tahun sejak Olimpiade saya selalu melakukan tantangan fisik,” katanya. “Saya pernah bertinju, mengikuti Ironman, berenang 6 kilometer, bermain rugby semusim penuh.”
“Ini level yang benar-benar berbeda. Di luar nalar. Tantangan paling gila sejauh ini.”
