Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio tiba di India pada Sabtu untuk kunjungan selama empat hari di tengah ketegangan geopolitik dan krisis energi global yang dipicu perang Iran.
Ia tiba di kota Kolkata, India timur, pada pagi hari waktu setempat. Agenda padatnya juga mencakup kunjungan ke Delhi, Jaipur, dan Agra.
Rubio juga dijadwalkan bertemu Perdana Menteri India Narendra Modi, dengan isu energi diperkirakan menjadi salah satu agenda utama pembahasan.
Pengiriman energi melalui Selat Hormuz — jalur pelayaran sempit yang menjadi titik panas sejak Israel dan Amerika Serikat menyerang Iran pada Februari — nyaris berhenti total.
Iran menggunakan penutupan selat tersebut sebagai alat tekanan dalam negosiasi damai yang rapuh dengan Amerika Serikat.
India, yang mengimpor lebih dari 80% kebutuhan energinya, menjadi salah satu negara yang paling terdampak. Populasi besar yang mencapai lebih dari 1,4 miliar jiwa bergantung pada pasokan bahan bakar dari luar negeri, termasuk gas memasak dan produk minyak bumi, untuk menopang kehidupan sehari-hari.
Rubio sebelumnya telah mengakui tantangan yang dihadapi ekonomi terbesar ketiga di Asia tersebut.
“Kami ingin menjual kepada India energi sebanyak yang mereka mau beli. Dan jelas, seperti yang Anda lihat, produksi dan ekspor AS saat ini berada di level historis,” katanya.
Di Delhi terdapat keinginan kuat untuk meningkatkan impor energi dari AS karena langkah itu juga dapat membantu mengurangi defisit perdagangan yang selama ini lebih menguntungkan India — sesuatu yang terus membuat Presiden AS Donald Trump kesal.
Defisit perdagangan barang Amerika Serikat dengan India mencapai 58,2 miliar dolar AS pada 2025, naik 27,1% dibandingkan 2024.
Namun solusi tersebut tidak sesederhana itu. Jalur pengiriman energi dari AS ke India jauh lebih panjang dan mahal.
Para analis juga menilai tidak logis bagi India untuk menutupi kekurangan impor energinya saat ini hanya dari pasokan AS.
“Keamanan energi akan menjadi tema utama kunjungan ini karena situasi Iran tidak akan selesai dalam waktu dekat. AS memang sudah memberikan pengecualian kepada India untuk membeli minyak Rusia, tetapi Delhi kemungkinan akan meminta lebih banyak konsesi,” kata Vineet Prakash.
Kunjungan Rubio juga dibayangi ketegangan berkepanjangan antara Delhi dan Washington terkait negosiasi perdagangan serta klaim yang saling bertentangan mengenai siapa yang berhasil meredakan konflik singkat India-Pakistan tahun lalu.
Trump berulang kali mengklaim dirinya menjadi penengah perdamaian antara kedua negara bertetangga itu, tetapi Delhi secara konsisten membantah klaim tersebut dengan menegaskan kebijakannya yang menolak mediasi pihak ketiga antara dua negara bersenjata nuklir di Asia Selatan.
Hal lain yang tampaknya membuat Delhi tidak senang adalah kedekatan terbuka Trump dengan kepala angkatan darat Pakistan, Asim Munir, yang disebut Trump sebagai “field marshal favorit saya”.
Upaya Pakistan menjadi mediator perdamaian antara Iran dan AS tampaknya juga membuat hubungan Islamabad dan Washington semakin dekat.
Prakash mengatakan hal itu tidak mengejutkan karena Pakistan berbatasan langsung dengan Iran dan memiliki posisi strategis penting bagi Amerika Serikat.
Namun Rubio diperkirakan tidak akan membuat pernyataan terbuka mengenai Pakistan selama kunjungan ini.
“Pembicaraan terkait Pakistan kemungkinan hanya akan dilakukan secara tertutup saat Rubio bertemu para pemimpin di Delhi,” tambah Prakash.
Dalam beberapa bulan terakhir, Washington dan Delhi juga mulai menunjukkan pendekatan yang lebih lunak satu sama lain.
Keputusan Trump menurunkan tarif resiprokal terhadap India awal tahun ini dari 50% menjadi 18% setelah kebuntuan selama 10 bulan disambut lega oleh Delhi.
Setelah putusan Mahkamah Agung AS yang menentang kebijakan tarif besar-besaran Trump, tarif tersebut kembali dipangkas menjadi 10%, sehingga tekanan terhadap eksportir India semakin berkurang.
Penurunan tarif terjadi setelah India berkomitmen membeli lebih banyak produk Amerika, termasuk energi, pesawat, teknologi, dan produk pertanian senilai 500 miliar dolar AS dalam perjanjian perdagangan sementara pada Februari.
Kedua pihak kini sedang merundingkan teks final perjanjian bilateral yang lebih luas, meski detail negosiasinya masih minim.
Para pakar perdagangan juga bersikap hati-hati terhadap angka fantastis yang disebut-sebut karena nilai perdagangan India-AS saat ini masih jauh di bawah angka 500 miliar dolar AS dan pengumuman Trump belum disertai komitmen investasi nyata dari India.
Sebagai contoh, salah satu orang terkaya India, Mukesh Ambani, terlihat belum memberikan tanggapan atas pernyataan Trump bahwa perusahaan miliknya, Reliance Industries, akan mendukung pembangunan kilang minyak senilai 300 miliar dolar AS di Brownsville, Texas — yang disebut sebagai kilang baru pertama di AS dalam 50 tahun terakhir.
Meski masih ada ketidakpastian mengenai isi akhir perjanjian dagang dengan AS, ekspor India ke Amerika Serikat tetap stabil di angka 87,3 miliar dolar AS hingga Maret 2026.
“Ekspor naik 0,9% dibanding tahun sebelumnya meski ada tarif resiprokal tinggi antara Mei 2025 hingga Februari 2026,” kata Ajay Srivastava
Ekspor India bahkan terus meningkat setelah tarif diturunkan, dengan barang senilai 8,5 miliar dolar AS dikirim ke AS pada April.
Lembaga Crisil Research menyebut hal itu mencerminkan “dampak positif berkelanjutan dari penurunan tarif”, namun mengingatkan bahwa ketidakpastian soal tingkat tarif masih membuat prospek ekspor India ke AS perlu terus dipantau.
Di tengah ketidakpastian tersebut, India juga dipaksa melonggarkan kebijakan perdagangan proteksionisnya. Delhi dengan cepat menyelesaikan perjanjian perdagangan bebas tingkat lanjut dengan sejumlah negara dan blok ekonomi, termasuk Inggris, Uni Eropa, Australia, dan Oman.
Meski Trump mengatakan India akan menurunkan seluruh hambatan tarif dan non-tarif terhadap produk AS hingga nol, kesepakatan-kesepakatan itu “memberikan kerangka kerja agar kedua pihak tetap bisa melindungi beberapa sektor”, kata Pranjul Bhandari setelah tarif dicabut.
Hal itu menunjukkan bahwa meski ekonomi India semakin terbuka bagi perusahaan AS, sektor seperti pertanian dan produk susu kemungkinan tetap akan mendapat perlindungan ketat bahkan setelah perjanjian final India-AS ditandatangani.
Di luar perdagangan, perhatian juga tertuju pada pernyataan publik Rubio mengenai peran India dalam perang Iran.
Rubio memahami bahwa India kemungkinan besar enggan mengambil peran di luar diplomasi untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka. Delhi menolak seruan berulang Trump agar negara-negara lain mengerahkan aset militer demi menjamin kebebasan pelayaran di jalur laut tersebut.
Selain itu, ada pula isu mengenai Quad — kelompok yang terdiri dari India, AS, Australia, dan Jepang.
Trump sangat mendukung Quad pada masa jabatan pertamanya karena pemerintahannya saat itu memandang kelompok tersebut sebagai penyeimbang dominasi China di kawasan Indo-Pasifik.
Di Delhi, Rubio akan menghadiri pertemuan menteri luar negeri Quad pada 26 Mei menjelang kemungkinan digelarnya pertemuan puncak para pemimpin Quad di ibu kota India akhir tahun ini.
Sejauh ini belum ada konfirmasi apakah Trump akan menghadiri pertemuan tersebut atau apakah forum itu benar-benar akan berlangsung.
Prakash mengatakan situasi ini menunjukkan bahwa Trump mulai menyadari China “bukan lawan yang mudah”, sehingga ia menginginkan bentuk keterlibatan berbeda dalam Quad. KTT tersebut sebenarnya dijadwalkan tahun lalu, tetapi respons dingin Trump membuat sebagian pihak menyebut Quad berada dalam kondisi “hidup segan mati tak mau”.
Apakah pertemuan menteri luar negeri Quad mampu menghidupkan kembali forum tersebut akan menjadi perhatian banyak pihak.
Bagi Delhi, pertemuan tingkat pemimpin sangat penting untuk memperkuat citranya sebagai kekuatan geopolitik yang terus tumbuh, sehingga India ingin forum itu tetap terlaksana.
Soal bentuk keterlibatan dan nada hubungan ke depan, Delhi kemungkinan akan terlebih dahulu melihat sikap Rubio terhadap Quad sebelum membuat pernyataan tegas.
Faktor China sama pentingnya bagi Delhi maupun Washington. Terlebih lagi, India juga dijadwalkan menjadi tuan rumah KTT BRICS pada September, yang mencakup Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Iran, dan Arab Saudi.
