“Selamat siang, Bu. Saya menelepon dari FedEx. Kami mendapat laporan dari polisi bahwa paket yang Anda kirim ke Irak berisi narkoba.”
Kalimat itulah yang didengar Ankita Shrivastav, seorang komika tunggal asal Mumbai, dari seorang pria di ujung telepon pada suatu siang di Oktober 2024. Apa yang terjadi setelahnya menjadi salah satu pengalaman paling mengerikan dalam hidupnya, kata Shrivastav. Namun ia baru membicarakannya secara publik pada April lalu lewat sebuah materi stand-up comedy berdasarkan pengalaman tersebut.
Dalam video berdurasi hampir 30 menit yang diunggah di kanal YouTube miliknya, Shrivastav menceritakan bagaimana penelepon itu memintanya melakukan panggilan video dan menghubungkannya dengan dua pria berseragam polisi yang kemudian menempatkannya dalam “penahanan digital” hingga identitasnya dapat diverifikasi dan dipastikan bahwa dirinya bukan pengirim paket tersebut.
Selama delapan jam berikutnya, para “polisi” itu mengawasi Shrivastav melalui aplikasi panggilan video di laptopnya. Ia tidak diizinkan mematikan kamera, meninggalkan rumah, ataupun bertemu dan berbicara dengan siapa pun.
Mereka mengajukan banyak pertanyaan, termasuk soal rekening bank dan riwayat transaksi, sambil terus mengingatkan betapa seriusnya kasus tersebut dan seberapa besar masalah hukum yang bisa menimpanya.
“Tekanannya sangat besar dan lama-lama saya merasa bingung serta kelelahan secara psikologis. Saya hanya ingin semua ini cepat selesai,” kata Shrivastav
Ia akhirnya menyetujui transaksi senilai 900.000 rupee (sekitar US$9.300 atau £6.700) atas permintaan para “polisi” itu, sebelum kemudian menyadari bahwa seluruh operasi tersebut hanyalah penipuan dan uangnya telah raib.
“‘Kamu kan terdidik, kok bisa tertipu?’ — itu yang dikatakan hampir semua orang saat mendengar pengalaman saya,” ujar Shrivastav. “Dan itu juga pertanyaan yang terus saya tanyakan pada diri sendiri.”
Shrivastav bukan satu-satunya korban.
Menurut laporan terbaru National Crime Records Bureau (NCRB) untuk periode 2023-2024, terjadi kenaikan hampir 18% kasus kejahatan siber dibanding tahun sebelumnya, dengan kerugian masyarakat India akibat penipuan digital mencapai lebih dari 220 miliar rupee.
Pada 2024, tercatat 101.928 kasus kejahatan siber — meningkat hampir 50% dibanding 2021.
“Penahanan digital” — ketika pelaku menyamar sebagai aparat penegak hukum atau pejabat pemerintah untuk menuduh korban melakukan kejahatan dan menakut-nakuti mereka agar tetap berada dalam panggilan video sambil memeras uang — kini menjadi salah satu modus penipuan yang paling sering dilaporkan di India.
Para pelaku juga menggunakan aplikasi investasi palsu, email dan pesan singkat tipu daya untuk mencuri atau mengelabui korban agar membagikan informasi sensitif seperti kode OTP dan kata sandi. Mereka bahkan memanfaatkan AI untuk meniru suara seseorang atau membuat permintaan emosional guna memeras uang.
Para ahli mengatakan bahwa meningkatnya jumlah kasus mungkin mencerminkan sistem pelaporan yang semakin baik, tetapi juga menunjukkan perubahan pola kriminalitas.
Sebuah editorial di surat kabar The Telegraph menyebut laporan NCRB memetakan “kecemasan baru dalam masyarakat yang dibentuk ulang oleh teknologi, urbanisasi, dan perubahan ekonomi”, serta menambahkan bahwa bentuk kriminalitas baru menantang sistem peradilan pidana India.
Shrivastav setuju dengan penilaian itu. Ia mengatakan berbagai upaya mendatangi lembaga penegak hukum demi membantu mengembalikan uangnya tidak membuahkan hasil.
“Para penipu selalu selangkah lebih maju dibanding polisi dan pihak bank,” katanya.
Menurut laporan NCRB terbaru, hingga akhir 2024 sekitar 100.000 kasus kejahatan siber masih menunggu penyelidikan dan sekitar 75.000 lainnya belum disidangkan di pengadilan.
Meski demikian, bukan berarti India tinggal diam menghadapi masalah ini. Pada 2020, pemerintah federal meluncurkan Indian Cybercrime Coordination Centre (I4C), yang bekerja sama dengan lembaga nasional dan internasional untuk memerangi kejahatan siber di seluruh negeri.
Pemerintah juga meluncurkan hotline 1930 dan portal pelaporan serta pemblokiran penipuan siber, menjalankan kampanye kesadaran publik, serta menerapkan teknologi baru dan undang-undang perlindungan data untuk menghadapi deepfake dan penipuan suara berbasis AI.
Baru-baru ini, Menteri Dalam Negeri India Amit Shah mengumumkan bahwa I4C bekerja sama dengan Reserve Bank Innovation Hub untuk menggunakan AI dalam mendeteksi dan menutup rekening “mule” tersembunyi — rekening bank atau dompet digital yang digunakan pelaku kejahatan siber untuk menerima, memindahkan, dan mencuci uang hasil kejahatan sambil menyamarkan asal-usulnya.
Bank sentral India juga sedang mempertimbangkan langkah-langkah tambahan untuk melawan penipuan digital.
Namun data menunjukkan kejahatan siber belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Soumya Gupta, jurnalis sekaligus penulis buku Bharat Bluff: Inside the cons of India’s internet revolution, mengatakan ledakan penggunaan internet dan smartphone membuat masyarakat semakin rentan menjadi korban penipuan digital. Menurut data pemerintah, lebih dari 86% rumah tangga di India kini terhubung ke internet.
Namun, tingkat literasi digital belum berkembang secepat itu, kata Gupta, meski ia menambahkan bahwa situasi perlahan membaik berkat kampanye kesadaran publik dan pemberitaan media.
“Pada akhirnya, seni menipu lebih bersifat psikologis daripada teknologi,” ujar Gupta.
Dalam bukunya, Gupta menulis bahwa penipuan memanfaatkan rasa takut, keserakahan, keyakinan, atau ideologi seseorang. Ketika sudah terjebak, korban sering kali tidak tahu bagaimana keluar, terlalu malu untuk bercerita, atau terus melanjutkan karena merasa sudah terlanjur banyak berkorban.
Gupta juga mengatakan para penipu memantau perilaku online masyarakat dengan sangat cermat dan menggunakan informasi itu untuk memilih target serta menyusun modus yang paling efektif.
Shrivastav mengaku rasa takutnya terhadap polisi dimanfaatkan oleh para penipu, begitu pula popularitasnya sebagai komika.
“Sejak kecil kita diajarkan untuk takut pada polisi dan patuh pada otoritas. Ketakutan yang tertanam itu mengalahkan alarm di kepala saya,” katanya, seraya menambahkan bahwa ia juga ingin mencegah munculnya skandal yang dapat merusak reputasinya di mata penggemar.
Membawakan materi komedi berdasarkan pengalaman tersebut juga membuatnya gugup karena ia takut terlihat rentan dan dianggap bodoh oleh penonton.
“Tapi saya ingin orang tahu bahwa kalau saya — perempuan terdidik dari kota besar yang merasa dirinya cukup pintar menghadapi kehidupan jalanan — bisa tertipu, maka ini bisa terjadi pada siapa saja,” ujar Shrivastav.
Gupta mengatakan sangat penting bagi masyarakat untuk berhati-hati terhadap apa yang mereka bagikan secara online dan mengambil langkah yang cukup untuk melindungi data pribadi mereka.
“Namun selain itu, aturan emasnya adalah: jika sesuatu terdengar terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, kemungkinan besar memang tidak nyata. Dan jika ada sesuatu yang terasa tidak beres, berhentilah dan minta bantuan.”
