Setahun setelah konflik empat hari antara India dan Pakistan membawa Asia Selatan ke ambang eskalasi berbahaya, kawasan itu kini terjebak dalam keseimbangan rapuh yang dipenuhi ketegangan.
Krisis tersebut dipicu oleh serangan militan mematikan terhadap wisatawan di Kashmir yang dikelola India, lalu memuncak dengan serangan militer India dan aksi balasan dari Pakistan. Konflik itu berlangsung kurang dari 90 jam.
Namun dampaknya memperkeras keterasingan politik dan diplomatik antara kedua negara, hingga hampir tidak menyisakan ruang bahkan untuk normalisasi terbatas.
Diplomasi formal kini nyaris tidak ada. Perbatasan ditutup, perdagangan dihentikan, hubungan kriket tetap terputus, dan Perjanjian Perairan Indus masih dibekukan.
“Hubungan tetap berada dalam pembekuan mendalam,” kata Husain Haqqani, mantan diplomat Pakistan yang kini menjadi peneliti senior di Anwar Gargash Diplomatic Academy dan Hudson Institute,
“Memang sebelumnya pernah ada periode hubungan buruk di masa damai, tetapi ini menjadi salah satu masa pembekuan hubungan terpanjang,” ujarnya.
Dampak konflik meluas jauh melampaui Garis Kontrol (LoC), perbatasan de facto yang memisahkan dua negara bertetangga bersenjata nuklir tersebut.
“Konflik ini secara signifikan mengubah persepsi luar mengenai keseimbangan kekuatan regional,” kata Daniel Markey.
“Sebelum Mei 2025, banyak pengamat luar percaya India memiliki keunggulan mutlak atas Pakistan. Banyak warga India juga percaya demikian.”
“Kemampuan Pakistan bertahan dari serangan awal India justru memberikan keuntungan strategis bagi Islamabad, meski masih belum jelas apa yang akan terjadi jika konflik berlanjut lebih lama,” katanya
Pakistan Kembali Jadi Pemain Penting
Yang paling mencolok, konflik tersebut tampaknya mengembalikan sesuatu yang lama hilang dari Pakistan: relevansi geopolitik.
Kemunculan Pakistan sebagai mediator dalam perang Iran mengejutkan banyak pihak.
“Pakistan berhasil membangun kembali relevansinya,” kata Christopher Clary.
“Para pemimpin Pakistan kini menjalankan diplomasi bolak-balik di seluruh Timur Tengah. Pertanyaannya adalah apakah ini hanya sementara dan sekadar hasil preferensi pribadi presiden AS.”
Kebangkitan itu terjadi di tengah gejolak geopolitik yang lebih luas.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali mengklaim berjasa dalam memediasi gencatan senjata India-Pakistan dan menawarkan diri menjadi mediator untuk Kashmir — wilayah sengketa yang diklaim kedua negara.
Pernyataan tersebut membuat New Delhi kesal, karena India sejak lama menolak mediasi pihak ketiga, sekaligus memicu ketegangan baru dalam hubungan India-AS.
Clary menilai “kedekatan yang tampak jelas” antara Trump dan kepala angkatan darat Pakistan yang kini bergelar Marsekal Lapangan, Asim Munir, sangat memengaruhi situasi pasca-konflik.
“Presiden AS memiliki dorongan kuat yang tidak selalu mudah dijelaskan melalui strategi besar geopolitik,” ujar Clary. “Keinginannya untuk dipandang sebagai pembawa damai memengaruhi cara ia menangani konflik Mei 2025.”
Sementara itu, analis dari Atlantic Council, Michael Kugelman, mengatakan Trump tampaknya melihat performa Pakistan dalam perang sebagai kisah “David melawan Goliath”, yang sebagian menjelaskan “kekagumannya terhadap Munir”.
Di saat bersamaan, Pakistan memanfaatkan krisis Iran dan ketegangan Teluk untuk memosisikan diri sebagai perantara penting antara Washington, Teheran, dan negara-negara Arab.
Meski begitu, para analis memperingatkan agar tidak melebih-lebihkan keuntungan Pakistan.
Sebagian besar peningkatan pengaruh Islamabad kemungkinan bergantung pada gaya diplomasi Trump yang sangat personal dan pentingnya sementara krisis Iran secara strategis.
“Ini juga sebuah perjudian bagi Munir,” kata Markey. “Perubahan cepat politik Timur Tengah adalah permainan berbahaya, dan bekerja dengan pemerintahan Trump sering kali membawa kejutan.”
India Mulai Mengubah Kalkulasi Strategis
Konflik tersebut juga mengguncang asumsi diplomatik India.
Selama bertahun-tahun, New Delhi percaya bahwa kemitraan strategisnya dengan Washington telah mengubah keseimbangan regional. Namun kedekatan Trump dengan Pakistan, klaim mediasi berulang, dan ketegangan perdagangan dengan India menciptakan ketidakpastian baru.
“Kredibilitas AS yang dibangun sejak konflik Kargil sebagai perantara terpercaya saat krisis kini menurun drastis,” kata Ajay Bisaria.
Clary menilai memburuknya hubungan itu mempercepat penyesuaian strategis yang sebenarnya sudah berlangsung di India.
“Sejak Mei 2025, ditambah perang dagang mini antara AS dan India setelahnya, India mulai menyeimbangkan ulang portofolio hubungan globalnya agar tidak terlalu bergantung pada Amerika Serikat,” katanya.
Hal itu mencakup mendekatkan diri ke Uni Eropa, mempercepat pemulihan hubungan diplomatik dengan China, dan menolak tekanan AS untuk memutus hubungan dengan Rusia.
Meski demikian, arah strategis besar India dinilai tetap utuh.
“India adalah kekuatan yang cukup besar,” kata Clary, “sehingga ketidakseimbangan ini tidak mengancam kebangkitannya.”
Perang Modern dan Ambang Eskalasi Baru
Jika dampak diplomatik masih diperdebatkan, pelajaran militernya dianggap lebih jelas.
Para analis dari kedua negara menggambarkan konflik tersebut sebagai bentrokan pertama di Asia Selatan yang benar-benar berbasis jaringan, dipenuhi drone, dan berteknologi tinggi.
“Apa yang kita lihat adalah medan perang yang sangat berbeda secara teknologi,” kata Bisaria. “Tidak ada pesawat berawak yang melintasi perbatasan.”
Kedua negara sejak itu meningkatkan anggaran pertahanan, mempercepat modernisasi militer, dan memperdalam hubungan dengan mitra pertahanan asing.
Namun Clary memperingatkan agar tidak menganggap konflik itu secara fundamental mengubah keseimbangan kekuatan regional.
“Konflik ini memang memicu perubahan organisasi, doktrin, dan teknologi penting di kedua militer,” katanya, “tetapi saya tidak percaya salah satu pihak secara substansial mengubah pandangan mengenai keseimbangan kekuatan relatif dengan musuh di seberangnya.”
Yang mungkin berubah justru ambang batas eskalasi di masa depan.
Bisaria menyebut lingkungan pasca-konflik sebagai “normal baru dengan tingkat ambiguitas strategis tertentu”.
“Ambiguitas itu menunjukkan bahwa setiap aksi terorisme akan dianggap sebagai tindakan perang,” ujarnya. “Konflik akan kembali pecah jika ada lagi aksi teror melampaui ambang tertentu.”
New Delhi sebelumnya menuduh kelompok militan berbasis di Pakistan berada di balik serangan terhadap wisatawan, tuduhan yang dibantah Islamabad.
Sinyal India setelah konflik menunjukkan bahwa balasan di masa depan bisa saja tidak hanya menargetkan kelompok militan, tetapi juga militer Pakistan secara langsung.
“Teroris dan para pendukungnya akan diperlakukan dengan cara yang sama,” kata Bisaria, menggemakan posisi pemerintah India.
Penangguhan Perjanjian Perairan Indus menjadi simbol lain dari sikap keras tersebut.
“Darah dan air tidak bisa berjalan bersama,” katanya. “Tidak ada kemungkinan perjanjian itu kembali.”
Pakistan: Percaya Diri, Tapi Rentan
Dari perspektif Pakistan, konflik tersebut justru memperkuat keyakinan terhadap strategi eskalasi mereka sendiri.
Haqqani mengatakan durasi konflik yang singkat menguntungkan Pakistan.
“Strategi Pakistan adalah bergerak cepat menaiki tangga eskalasi sehingga ancaman perang nuklir memaksa komunitas internasional turun tangan,” katanya.
Keyakinan itu tampaknya cukup luas di komunitas strategis Pakistan.
Umer Farooq, analis yang berbasis di Islamabad dan mantan koresponden Jane’s Defence Weekly, mengatakan terdapat keyakinan berkembang di Pakistan bahwa Washington dan negara-negara Teluk akan bergerak cepat dalam setiap krisis mendatang.
“Di Pakistan, ada keyakinan bahwa Amerika Serikat pernah memaksa Pakistan dan India kembali ke meja perundingan sebelumnya dan bisa melakukannya lagi,” katanya
Namun di saat bersamaan, menurut Farooq, elite militer dan politik Pakistan juga sangat sadar terhadap rapuhnya kondisi internal negara itu.
“Ekonomi kami kacau, masyarakat sangat terpecah, dan kami menghadapi dua pemberontakan,” katanya. “Ada pemikiran utama di kalangan elite politik dan militer bahwa kami tidak boleh terlibat konflik dengan India.”
Ketegangan antara rasa percaya diri dalam deterrence dan kerentanan ekonomi itulah yang dinilai menjelaskan sinyal-sinyal hati-hati dari Rawalpindi dalam beberapa bulan terakhir.
Tanpa menyebut India secara langsung, para komandan korps Pakistan baru-baru ini menekankan pentingnya “menahan diri dan menghindari eskalasi”, seraya menyatakan stabilitas kawasan bergantung pada “pengendalian kolektif, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap kedaulatan”.
Farooq menyebut pernyataan itu sebagai “kelanjutan dari pandangan yang sudah lama ada di militer — bahwa dialog harus terus berjalan”.
Harapan Diplomasi Masih Ada
Meski hubungan tetap membeku, hanya sedikit yang percaya kedua negara mampu mempertahankan kebuntuan diplomatik total tanpa batas waktu.
“Kedua negara memiliki sejarah panjang dialog jalur belakang,” kata Markey, “dan terkadang jalur itu efektif untuk meredakan permusuhan bahkan membuka jalan bagi dialog formal.”
Bisaria juga melihat “secercah harapan” jika kawasan berhasil menghindari serangan militan besar lainnya.
Menurutnya, Pakistan pada akhirnya mungkin melihat manfaat “bukan dalam normalisasi, tetapi stabilisasi front India”.
Kugelman menilai bahwa untuk saat ini, “hasil terbaik yang mungkin dicapai adalah memastikan situasi tidak semakin buruk”.
Pada akhirnya, masa depan hubungan kedua negara mungkin lebih bergantung pada kalkulasi dua tokoh kuat: Narendra Modi dan Asim Munir.
“Marsekal Lapangan Munir dan Perdana Menteri Modi memiliki pengaruh luar biasa di ibu kota masing-masing,” kata Clary. “Mereka memiliki kekuatan untuk menghidupkan kembali diplomasi jika salah satu dari mereka menginginkannya.”
Untuk saat ini, tampaknya belum ada yang siap melakukannya.
