Iran memperingatkan bahwa pihaknya akan menyerang pasukan Amerika Serikat jika mereka memasuki Selat Hormuz, menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan Washington akan membantu “mengawal” kapal-kapal yang terjebak di jalur pelayaran strategis tersebut.
Iran Peringatkan AS Agar Tidak Masuk Selat Hormuz
Iran secara tegas memperingatkan Angkatan Laut Amerika Serikat agar tidak memasuki Selat Hormuz. Pernyataan ini disampaikan oleh komando terpadu angkatan bersenjata Iran, seperti dilaporkan media pemerintah.
Peringatan tersebut muncul setelah Donald Trump mengumumkan bahwa AS akan memulai upaya pada Senin untuk membebaskan kapal-kapal yang terjebak di perairan tersebut.
Dalam pernyataannya, Iran menegaskan:
“Kami telah berulang kali menyatakan bahwa keamanan Selat Hormuz berada di tangan kami, dan bahwa pelayaran yang aman harus dikoordinasikan dengan angkatan bersenjata.”
Tingkat Ancaman Keamanan di Hormuz ‘Kritis’
Pusat Informasi Maritim Gabungan (Joint Maritime Information Centre) menyatakan bahwa tingkat ancaman keamanan di Selat Hormuz tetap berada pada level kritis akibat operasi militer yang sedang berlangsung di kawasan.
Dalam nota peringatan yang dipublikasikan di platform X oleh United Kingdom Maritime Trade Operations pada Senin, para pelaut disarankan untuk berkoordinasi dengan otoritas Oman melalui kanal VHF 16. Mereka juga dianjurkan mempertimbangkan jalur melalui perairan teritorial Oman di selatan skema pemisahan lalu lintas, di mana Amerika Serikat telah menetapkan area keamanan yang diperketat.
Peringatan tersebut menyebutkan:
“Transit melalui atau di dekat Skema Pemisahan Lalu Lintas harus dianggap sangat berbahaya karena adanya ranjau yang belum sepenuhnya disurvei dan dinetralisir.”
Kapal Tanker Dilaporkan Terkena Proyektil
Sebuah kapal tanker dilaporkan terkena “proyektil tak dikenal” di Selat Hormuz tak lama setelah pengumuman Trump terkait bantuan AS bagi kapal-kapal yang terjebak.
Badan United Kingdom Maritime Trade Operations menyatakan seluruh awak kapal dilaporkan selamat dalam insiden tersebut, yang terjadi sekitar 78 mil laut di utara Fujairah, Uni Emirat Arab.
Otoritas terkait saat ini tengah melakukan penyelidikan, sembari mengimbau kapal-kapal lain untuk “melintas dengan kewaspadaan tinggi”.
AS Siapkan Operasi ‘Kemanusiaan’ di Tengah Ketegangan
Dalam perkembangan sebelumnya, Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan memulai operasi pada Senin pagi untuk membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz sebagai “gestur kemanusiaan” bagi negara-negara netral di tengah konflik AS-Israel melawan Iran.
Trump tidak merinci secara detail rencana tersebut, namun menyebut operasi ini bertujuan membantu kapal dan awak yang “terkunci” di selat dan mulai kehabisan makanan serta pasokan lainnya akibat blokade Iran di jalur vital tersebut.
“Kami telah memberi tahu negara-negara ini bahwa kami akan mengawal kapal mereka keluar dari jalur terbatas ini dengan aman, sehingga mereka dapat melanjutkan aktivitas mereka dengan bebas,” tulis Trump melalui platform Truth Social pada Minggu.
Ia juga memperingatkan bahwa setiap upaya mengganggu operasi AS akan “ditanggapi dengan kekuatan”.
Belum jelas negara mana saja yang akan dibantu dalam operasi tersebut maupun bagaimana mekanismenya. Komando Pusat AS menyebut dukungan akan mencakup kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, serta sekitar 15.000 personel militer.
Namun, laporan Axios menyebut Angkatan Laut AS belum tentu akan mengawal kapal secara langsung melewati selat tersebut.
Perkembangan Lain di Kawasan
Iran pada Minggu menyatakan telah menerima respons dari Amerika Serikat atas tawaran terbaru untuk pembicaraan damai, sehari setelah Trump mengatakan kemungkinan besar akan menolak proposal tersebut karena “harga yang dibayar belum cukup besar”.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Washington menyampaikan tanggapannya terhadap proposal 14 poin Iran melalui Pakistan, dan saat ini sedang ditinjau oleh Teheran.
“Pada tahap ini, kami tidak memiliki negosiasi nuklir,” ujar juru bicara kementerian luar negeri Iran, Esmaeil Baghaei, seperti dikutip media pemerintah. Pernyataan ini tampaknya merujuk pada usulan Iran untuk menunda pembahasan isu nuklir hingga perang berakhir serta adanya kesepakatan pencabutan blokade pengiriman di Teluk.
Iran diketahui telah memblokir hampir seluruh pengiriman dari Teluk—kecuali miliknya sendiri—selama lebih dari dua bulan. Bulan lalu, Amerika Serikat juga memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal dari pelabuhan Iran.
Sementara itu, Israel pada Minggu memerintahkan ribuan warga Lebanon untuk meninggalkan 11 kota dan desa di Lebanon selatan. Langkah ini menandai eskalasi konflik antara Israel dan sekutu Iran, Hizbullah, yang berlangsung paralel dengan perang Iran dan berpotensi semakin memperumit upaya perdamaian di kawasan.
