Uji klinis baru diluncurkan di Inggris dengan harapan dapat memangkas waktu bertahun-tahun dalam pencarian pengobatan baru untuk penyakit Alzheimer.
Penelitian ini akan menguji beberapa obat secara bersamaan, dimulai dengan dua obat yang penggunaannya dialihkan untuk menangani penyakit lain. Keduanya selama ini telah digunakan untuk mengobati diabetes tipe 2 dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD).
Studi tersebut akan meneliti apakah obat-obatan itu dapat mengurangi gejala, seperti gangguan memori dan kemampuan berpikir, sekaligus membantu pasien mempertahankan kualitas hidup mereka.
Angela Bucksey, 67 tahun, asal Cambridgeshire, didiagnosis menderita Alzheimer pada Januari dan menjadi orang pertama yang memulai pengobatan dalam uji klinis bernama AD-SMART tersebut.
“Keluarga kami memiliki riwayat Alzheimer,” katanya.
“Ibu saya dan bibi-bibi saya mengidap penyakit ini. Jadi, ketika saya didiagnosis, saya merasa kecewa, tetapi tidak terkejut, karena saya tahu penyakit ini akan membatasi kehidupan saya.”
“Namun, saya bertekad untuk tidak membiarkan penyakit ini menentukan siapa diri saya.”
Angela mengatakan bahwa keikutsertaannya dalam uji klinis tersebut memberinya rasa berdaya karena “setidaknya saya melakukan sesuatu”.
“Daripada hanya duduk diam, Anda bangkit dan mengatakan bahwa saya akan melawan.”
Alzheimer merupakan jenis demensia yang paling umum dan memengaruhi sekitar 600.000 orang di Inggris.
Pengobatan Mutakhir
Perdana Menteri Andy Burnham, yang ayahnya meninggal akibat Alzheimer bulan lalu, mengatakan bahwa dirinya memahami bagaimana rasanya kehilangan orang terkasih karena demensia. Ia juga menyaksikan secara langsung dampak penyakit tersebut yang menghancurkan kehidupan keluarga.
“Itulah sebabnya saya bangga melihat uji klinis ini diluncurkan di Inggris, sehingga pengobatan mutakhir dapat menjangkau pasien di sini sesegera mungkin,” katanya.
Studi AD-SMART menggunakan metode yang dikenal sebagai uji klinis platform multi-lengan dan multi-tahap. Dalam pendekatan ini, beberapa jenis pengobatan diuji secara bersamaan, kemudian hasilnya dibandingkan dengan kelompok peserta yang menerima plasebo atau obat tiruan.
Metode ini meningkatkan kemungkinan peserta memperoleh pengobatan aktif dibandingkan dengan uji klinis konvensional.
Jika suatu obat tidak menunjukkan manfaat, pengujiannya dapat dihentikan dengan cepat dan digantikan oleh pengobatan baru. Pendekatan ini telah berhasil digunakan dalam penelitian kanker dan penyakit neuron motorik.
Dua obat pertama yang diuji adalah metformin, yang digunakan untuk mengobati diabetes tipe 2, serta atomoxetine, yang digunakan untuk menangani ADHD. Keduanya dipilih oleh panel ahli internasional.
Kedua obat tersebut berpotensi membantu mengurangi peradangan di otak, yang menjadi salah satu faktor pendorong neurodegenerasi atau kerusakan sel saraf. Hal itu disampaikan peneliti utama studi, Profesor Paresh Malhotra, pemimpin kelompok penelitian di Pusat Penelitian Perawatan dan Teknologi Institut Penelitian Demensia Inggris di Imperial College London.
“Selama ini, penelitian Alzheimer bergerak dengan pola satu obat, satu uji klinis, dan satu jawaban. Terkadang dibutuhkan waktu satu dekade atau lebih sebelum kita mengetahui apakah suatu pengobatan benar-benar efektif,” katanya.
“Kami menerapkan kemajuan yang telah dicapai dalam penelitian kanker dan penyakit lainnya untuk mempercepat pengujian pengobatan bagi penderita Alzheimer.”
Membantu Pasien Bangkit dari Keputusasaan
Agar dinyatakan berhasil, penelitian tersebut harus menunjukkan bahwa obat-obatan yang diuji memberikan dampak positif terhadap kemampuan berpikir pasien dan kemampuan mereka menjalani aktivitas sehari-hari.
“Itulah yang menjadi perhatian pasien dan orang-orang yang merawat mereka,” kata Profesor Malhotra.
Sekitar 1.200 peserta dengan Alzheimer ringan hingga sedang akan direkrut di lebih dari 30 lokasi di seluruh Inggris. Pusat penelitian di Cambridgeshire, Surrey, London, Southampton, dan Edinburgh telah mulai beroperasi.
Para ilmuwan memperkirakan evaluasi terhadap obat-obatan pertama akan selesai pada 2030. Selama periode tersebut, kemungkinan akan ada pengobatan tambahan yang dimasukkan ke dalam penelitian.
Seluruh peserta akan menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala, termasuk tes kognitif. Pemeriksaan ini akan membantu para peneliti menilai efektivitas pengobatan yang diberikan.
Steve, suami Angela Bucksey sekaligus pendampingnya selama mengikuti penelitian, mengatakan, “Keikutsertaan dalam uji klinis ini telah membantu kami bangkit dari keputusasaan setelah menerima diagnosis yang dipahami semua orang sebagai kondisi yang tidak dapat dipulihkan.”
“Orang-orang yang mengetahui bahwa kami mengikuti uji coba obat memahami bahwa kami sedang melakukan sesuatu untuk menghadapinya. Jadi, alih-alih sekadar merasa kasihan kepada kami, mereka dapat memberikan dukungan dan semangat.”
Dr. Sheona Scales, direktur penelitian di Alzheimer’s Research UK, mengatakan bahwa “waktu sangat berharga” bagi orang-orang yang hidup dengan penyakit Alzheimer. Ia menegaskan bahwa pilihan pengobatan tambahan sangat dibutuhkan sesegera mungkin.
Orang yang telah menerima diagnosis Alzheimer dan ingin berpartisipasi dapat mendaftarkan minat mereka melalui situs web resmi AD-SMART.
Uji klinis ini dipimpin oleh Institut Penelitian Demensia Inggris dan Alzheimer’s Research UK.
Mitra penelitian tersebut mencakup Institut Nasional untuk Penelitian Kesehatan dan Perawatan, Dewan Penelitian Medis, serta Health Data Research UK. Pendanaan penelitian berasal dari pemerintah Inggris.
