Mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte hadir secara langsung di Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) di Den Haag, Belanda, tempat ia akan menjalani persidangan atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Ia menghadapi dakwaan terkait perang berdarah terhadap narkoba yang dilancarkannya dan diduga menyebabkan puluhan ribu pengedar narkoba skala kecil dieksekusi tanpa proses hukum.
Duterte yang berusia 81 tahun mengenakan setelan jas gelap dan kemeja putih pada Rabu. Ini merupakan kali pertama ia terlihat secara langsung sejak ditangkap di Manila 18 bulan lalu. Ia tidak berbicara, tetapi melambaikan tangan kepada anggota keluarganya yang berada di balkon pengunjung setelah persidangan berakhir.
Sebelumnya, Duterte mengikuti persidangan melalui sambungan video dan kemudian beberapa kali tidak menghadiri sidang.
ICC menggelar sidang status pada Rabu setelah pengacara Duterte berargumen bahwa kondisi kesehatan mantan pemimpin tersebut yang memburuk membuatnya tidak layak menjalani persidangan.
Persidangan perdana dijadwalkan berlangsung pada 30 November.
Perang terhadap narkoba menjadi program utama selama masa kepresidenan Duterte, yang berlangsung dari 2016 hingga 2022. Ia berpendapat bahwa perdamaian dan ketertiban diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
ICC menyelidiki kasus pembunuhan yang terjadi sejak 1 November 2011, ketika Duterte menjabat sebagai wali kota Davao, kota metropolitan luas di Filipina selatan, hingga 16 Maret 2019, ketika Filipina menarik diri dari keanggotaan ICC.
Pengacara Duterte, Peter Haynes, baru-baru ini mengatakan kepada pengadilan bahwa kliennya mengalami “gangguan memori yang signifikan” sehingga tidak mampu berkomunikasi dan bekerja sama dengan tim hukumnya. Jaksa membantah hal tersebut.
Para hakim saat ini mempertimbangkan apakah Duterte secara mental layak menjalani persidangan dan telah memerintahkan pemeriksaan medis oleh tiga spesialis.
Hasil pemeriksaan tersebut belum dipublikasikan. Namun, menurut AFP, pengacara pembela mengatakan pemeriksaan menunjukkan Duterte meyakini dirinya hidup pada 2007 atau 2008, mengira usianya 84 atau 85 tahun, serta tidak mampu mengingat nama Donald Trump.
Kerabat orang-orang yang tewas dalam kampanye anti-narkoba Duterte menyaksikan persidangan melalui siaran langsung di Manila.
Llore Pasco, yang kehilangan dua putranya, mengatakan kepada Reuters, “Kami senang akhirnya dia muncul dan terlihat baik-baik saja. Bahkan, dia terlihat bertambah berat badan.”
Randy Delos Santos, yang kehilangan keponakannya yang masih remaja pada 2017, mengatakan kepada AFP bahwa dirinya senang melihat Duterte berada di ruang sidang. “Kami berharap kondisi fisiknya yang baik dapat membantu mempercepat persidangan,” katanya.
Pada 2019, ketika masih menjabat sebagai presiden, Duterte mengungkapkan bahwa dirinya menderita myasthenia gravis, penyakit autoimun yang menyebabkan gangguan pada fungsi saraf. Saat terpilih pada 2016 dalam usia 71 tahun, Duterte merupakan presiden Filipina tertua yang terpilih pada saat itu.
Keluarga Duterte saat ini terlibat dalam persaingan politik tingkat tinggi untuk mempertahankan pengaruh atas Filipina. Putrinya, Wakil Presiden Sara Duterte, terlibat perseteruan terbuka dengan Presiden Ferdinand “Bongbong” Marcos.
Retaknya aliansi Duterte-Marcos, yang membantu keduanya memenangkan pemilu 2022 dengan kemenangan telak, membuka jalan bagi penangkapan Rodrigo Duterte di bandara Manila pada Maret 2025.
Sara Duterte disebut sebagai salah satu kandidat utama untuk menggantikan Marcos dalam pemilu 2028. Berdasarkan konstitusi, Marcos tidak dapat mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua.
Namun, Sara Duterte juga tengah berjuang mempertahankan karier politiknya dalam proses pemakzulan. Jika dinyatakan bersalah, ia akan dilarang mencalonkan diri untuk jabatan publik.
Ia didakwa menyalahgunakan dana publik serta mengancam akan membunuh Marcos, ibu negara Liza Araneta-Marcos, dan sepupu Marcos yang juga anggota Kongres, Ferdinand Martin Romualdez.
