Sekitar selusin keluarga Palestina di sebuah desa di Tepi Barat yang diduduki diperintahkan meninggalkan rumah mereka dalam operasi militer Israel untuk membubarkan pemukim Israel.
Para pemukim telah mengepung warga di tiga rumah di kawasan tersebut sejak Minggu, serta memutus aliran listrik dan pasokan air mereka.
Wali Kota Qusra, Abdel Azim Wadi, mengatakan bahwa desanya telah dinyatakan sebagai zona militer tertutup dan pasukan Israel menggunakan sejumlah rumah warga Palestina yang telah dikosongkan sebagai barak. Militer Israel mengatakan operasi tersebut bertujuan “melindungi warga”.
Seorang juru bicara Israel mengatakan bahwa tindakan para pemukim tersebut “tercela” dan “tidak dapat diterima”, serta pemerintah akan menyelidiki dan menangkap pihak yang bertanggung jawab.
“Militer Israel bertindak terhadap hal ini, dan kami sedang menyelidikinya. Kami akan menangkap mereka yang bertanggung jawab dan menuntut mereka,” kata David Mencer.
Para pemukim semakin berani seiring ekspansi permukiman yang berlangsung cepat di bawah pemerintahan Israel saat ini. Kondisi tersebut memicu peningkatan tajam kekerasan oleh pemukim ketika mereka berupaya mengusir warga Palestina dari tanah mereka.
Seluruh permukiman tersebut ilegal menurut hukum internasional.
Dari tiga rumah milik keluarga yang dikepung di Qusra, yang dihuni keluarga Abu Ridi dan Hassan, penghuni dua rumah diperintahkan untuk pergi pada Kamis, menurut keterangan mereka. Mereka yang diperintahkan pergi kemudian pindah ke rumah ketiga.
Di bagian lain desa, penghuni 11 rumah lainnya juga diperintahkan meninggalkan rumah mereka oleh tentara.
Sebelumnya, video yang dibagikan dari Qusra pada Kamis dini hari menunjukkan sekitar selusin kendaraan keamanan Israel, termasuk sebuah buldoser.
Dalam rekaman berikutnya yang diambil pada siang hari, terlihat barisan panjang pasukan keamanan Israel di jalan menuju desa Palestina tersebut.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan mereka telah “membongkar dua pos permukiman ilegal”.
IDF menambahkan bahwa mereka menahan seorang warga Israel dan menyita peralatan di pinggiran wilayah Qusra dan Jalud, dekat Nablus.
Salah satu warga yang diminta meninggalkan rumahnya adalah Qaher Odeh. Ia mengatakan lebih dari 20 tentara memasuki rumahnya pada Kamis pagi.
“Saya sedang tidur pada pagi hari bersama saudara laki-laki saya. Mereka masuk dan mendobrak pintu sambil berteriak, ‘Buka, buka pintunya.’ Bahkan sekarang saya masih tidak bisa memahami apa yang saya lihat di depan mata. Ada lebih dari 20 orang, mungkin 30,” katanya.
“Kami pergi dan terus berjalan menuju bagian bawah lingkungan. Tak lama kemudian, mereka menutup seluruh kawasan.”
“Ada orang-orang yang dipaksa keluar dari rumah mereka. Banyak sekali orang,” tambah Odeh.
Setelah sekitar 10 jam, sejumlah keluarga diizinkan kembali ke rumah mereka, tetapi mendapati kondisi rumah telah berantakan. Seorang pria mengatakan bahwa tentara membuang seluruh makanan dari kulkas dan mencuri uang tunai US$1.500, sekitar Rp24,4 juta.
“Para tentara telah diperintahkan bahwa warga Qusra akan tetap berada di rumah mereka,” kata IDF.
IDF menambahkan bahwa para tentara tidak akan melakukan operasi di dalam rumah warga Palestina yang menjadi sasaran pengepungan pemukim.
IDF menegaskan bahwa “petugas penghubung” Israel terus berkomunikasi dengan para pemimpin lokal Qusra dan berupaya mencegah terganggunya kehidupan sehari-hari warga di kawasan tersebut.
Qusay Abu Ridi, salah satu anggota keluarga Palestina yang terjebak dalam pengepungan, mengatakan bahwa rumah tersebut kembali diserang pada Kamis malam dan beberapa pemukim masih berada di kawasan itu dengan bersembunyi dari tentara.
Saudaranya, pemilik rumah tersebut, adalah pengusaha Palestina-Amerika yang telah mengadukan masalah itu kepada Kedutaan Besar Amerika Serikat.
Duta Besar AS Mike Huckabee, yang telah lama mendukung permukiman Israel, menyebut intimidasi terhadap keluarga di Qusra oleh para pemukim sebagai “tindakan teror yang mengerikan”.
“Tindakan mereka yang melakukan aksi teror mengerikan ini untuk mengintimidasi dan melecehkan keluarga tersebut sangat menjijikkan. Tidak ada alasan untuk perilaku seperti preman itu,” tulisnya di X.
Situasi di Qusra pertama kali dimulai pada Minggu ketika para pemukim memblokir jalan menuju gerbang rumah keluarga Palestina dan memutus pasokan listrik serta air mereka. Tentara Israel pertama yang tiba di lokasi kemudian berdoa bersama para pemukim, tindakan yang belakangan dinyatakan oleh militer Israel akan dikenai sanksi disipliner.
Keluarga Abu Ridi dan Hassan meminta bantuan melalui media sosial setelah pasokan air dan listrik mereka diputus pada Minggu.
Pada Rabu, upaya pasukan keamanan Israel untuk membubarkan para pemukim memicu bentrokan dengan kelompok pemukim yang lebih besar.
Rekaman kamera keamanan Palestina yang dibagikan menunjukkan bentrokan antara tentara Israel dan polisi perbatasan dengan kerumunan besar pemukim. Pasukan keamanan menggunakan gas air mata dan granat kejut.
Dalam rekaman lain, pasukan Israel terlihat menyita kanopi tempat para pemukim berlindung, sementara peralatan mereka lainnya dibiarkan.
Belum jelas apa sebenarnya yang diinginkan para pemukim di Qusra. Pada masa lalu, para pemukim telah memaksa warga Palestina keluar dari rumah mereka dan mengambil alih properti mereka.
Tujuan yang dinyatakan para pemukim adalah mengosongkan kawasan tersebut dari penduduk Palestina.
Permukiman Israel ilegal menurut hukum internasional, tetapi pemerintah Israel telah mendorong ekspansi permukiman secara cepat dalam beberapa waktu terakhir.
Kasus ini menjadi kejadian terbaru yang kembali menyoroti impunitas relatif yang dinikmati para pemukim serta kesulitan pasukan Israel dalam menangani meningkatnya kekerasan oleh pemukim.
Wali Kota Qusra sebelumnya mengatakan bahwa warga setempat melihat “pola penargetan yang jelas dan terus berlangsung terhadap Qusra”. Bulan lalu, sebuah masjid yang baru selesai dibangun dibakar dan grafiti berbahasa Ibrani disemprotkan di dekatnya.
Serangan pemukim tersebut merupakan salah satu dari banyak aksi yang terjadi setelah insiden di desa Palestina Tal. Setelah pemukim Israel menyerang Tal, terjadi eskalasi yang menewaskan enam orang, yakni empat warga Palestina dan dua tentara Israel. Salah satu tentara tersebut bertugas sebagai koordinator keamanan untuk sebuah permukiman Israel di dekatnya.
Pada Juli, para pemukim juga mengepung sebuah rumah warga Palestina di desa Jalud, dekat Qusra, selama lebih dari dua pekan. Setelah itu, pemilik rumah melarikan diri dan para pemukim mengambil alih properti tersebut dan masih mendudukinya hingga kini.
Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), 76 warga Palestina, termasuk 18 anak-anak, telah tewas di Tepi Barat tahun ini akibat tindakan pasukan Israel atau pemukim. Pada saat yang sama, tiga warga Israel, termasuk seorang warga sipil, tewas dalam bentrokan dengan warga Palestina dan dalam dugaan serangan tabrak kendaraan oleh seorang warga Palestina di Tepi Barat.
Sejak Januari 2023, sebanyak 127 komunitas Palestina di Tepi Barat mengalami pengungsian secara keseluruhan atau sebagian, termasuk 47 komunitas yang seluruh penduduknya telah terusir. Kondisi tersebut berdampak terhadap lebih dari 6.390 warga Palestina, menurut PBB.
PBB mencatat bahwa pada 2026, sekitar 3.800 warga Palestina, hampir setengahnya merupakan anak-anak, telah mengungsi akibat kekerasan oleh pemukim, penghancuran bangunan, dan pengusiran.
Dalam pertemuan PBB, Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon menolak anggapan bahwa permukiman merupakan hambatan bagi perdamaian. Ia mengatakan permukiman tersebut akan tetap ada dan terus berkembang karena Israel memiliki hak berdasarkan Alkitab, sejarah, dan hukum atas wilayah tersebut.
Ia mengatakan Dewan Keamanan PBB “harus memahami satu kebenaran sederhana: kami tidak akan pergi ke mana pun.”
