Duduk di rumahnya yang sempit di Delhi, Ishamuddin Khan masih mampu membuat seutas tali seolah-olah melayang naik ke udara.
Pesulap berusia 55 tahun itu menghabiskan puluhan tahun mempertunjukkan trik yang dahulu dianggap hanya legenda. Ia masih menyimpan foto dan potongan surat kabar dari masa ketika dirinya terkenal hingga ke mancanegara.
Kini, ia lebih banyak mengenang masa-masa tersebut daripada mempertunjukkan trik itu.
“Zaman sudah berubah,” katanya. “Sulap jalanan sedang sekarat perlahan. Kini kondisinya seperti berada di ventilator.”
Kisah Khan mencerminkan perubahan yang lebih luas di India, ketika para seniman jalanan tradisional semakin kesulitan mencari nafkah dari keahlian mereka.
Pesulap, pemain juggling, dalang, dan akrobat dahulu mencari penghasilan dari kerumunan orang di ruang-ruang publik. Perubahan kebiasaan hiburan dan semakin ketatnya pembatasan membuat penonton semakin sulit ditemukan, sehingga banyak dari mereka meninggalkan profesi tersebut.
Khan, salah satu pesulap paling dikenal di India, berasal dari komunitas Madari yang memiliki tradisi panjang mempertunjukkan keahlian mereka di ruang publik.
Tidak ada angka resmi, tetapi Khan mengatakan catatan komunitas menunjukkan terdapat sekitar 400 keluarga Madari di Delhi, dengan ratusan keluarga lainnya tersebar di Uttar Pradesh, Rajasthan, dan Telangana.
Meski jumlah mereka kini relatif sedikit, masyarakat Madari menelusuri akar tradisinya hingga berabad-abad lalu.
Sejarawan Ashok Mathur mengatakan tradisi Madari berakar pada cerita rakyat, mitologi India, serta sejarah panjang para seniman pengembara.
“Selama beberapa generasi, keterampilan ini diwariskan di dalam keluarga,” jelasnya.
Khan mengikuti jalur yang sama. Ia belajar sulap dari ayah dan paman-pamannya serta mulai tampil sejak berusia 12 tahun. Pada awal usia 20-an, ia telah menguasai trik tali yang kelak membuatnya terkenal.
Dalam trik tersebut, seutas tali tampak naik ke udara sebelum seorang anak memanjatnya. Trik ini telah lama dikaitkan dengan mitologi sulap jalanan India dan secara luas dianggap mustahil dilakukan, hingga Khan mempertunjukkannya.
Ia mengatakan membutuhkan waktu enam tahun untuk menguasai trik tersebut. Khan pertama kali mempertunjukkannya di depan publik pada 1995 di luar Qutub Minar, salah satu ikon Delhi. Dua tahun kemudian, ia mempertunjukkannya di hadapan 30.000 orang di sebuah pantai di Karnataka.
Triknya menarik perhatian internasional dan membawanya melakukan tur ke Inggris, Prancis, Jerman, dan Jepang.
Khan berharap ketenaran tersebut dapat membuat dunia lebih memperhatikan para seniman tradisional India. Untuk sementara waktu, harapan itu terwujud. Namun, perhatian tersebut kemudian memudar.
Ketika penonton beralih ke bentuk hiburan baru dan kesempatan tampil di ruang publik semakin berkurang, banyak pesulap semakin kesulitan mencari nafkah dari keterampilan yang diwariskan turun-temurun.
Salah satunya adalah Imam Khan, 40 tahun.
Dahulu seorang pesulap, Imam kini mencari nafkah dengan mengumpulkan botol dan barang-barang yang dapat didaur ulang dari jalanan Delhi. Sebagian besar waktunya dihabiskan memulung di sekitar tempat pembuangan sampah di wilayah barat Delhi, dengan penghasilan sekitar 200 rupee atau sekitar US$2 (sekitar Rp33 ribu) per hari.
Para pakar mengatakan kemunduran pertunjukan jalanan disebabkan oleh berbagai faktor, dengan perubahan karakter ruang publik sebagai salah satu faktor utama.
Anurupa Roy, pendiri Katkatha Puppet Arts Trust, mengatakan para seniman semakin kesulitan menemukan penonton karena ruang publik semakin terbatas.
“Taman yang ditutup dan kawasan perumahan yang melarang orang luar masuk membatasi ruang untuk pertunjukan.”
Peneliti sekaligus seniman Komita Dhanda mengatakan perubahan sikap terhadap ruang publik juga turut mendorong kemunduran tersebut.
“Dengan keamanan yang semakin ketat, terutama di pusat-pusat kota dan kawasan perkotaan yang ramai, hanya tersisa sedikit ruang bagi seniman jalanan,” katanya.
Bukan hanya seniman individu yang kesulitan mendapatkan izin. Dhanda mengatakan kelompok teater jalanan yang terkenal, Jana Natya Manch, juga kerap menghadapi hambatan ketika ingin tampil di ruang publik.
Bagi banyak seniman, tantangannya bukan sekadar mencari tempat tampil, tetapi juga menghadapi aturan yang tidak jelas mengenai apa saja yang diperbolehkan.
Sebagian besar seniman jalanan mengandalkan pembayaran sukarela dari penonton, tetapi para pakar mengatakan batas antara mempertunjukkan seni demi mendapatkan uang dan mengemis terkadang menjadi kabur.
Berbeda dengan Inggris, India tidak memiliki kerangka aturan nasional untuk pertunjukan jalanan. Para seniman harus berhadapan dengan aturan di tingkat negara bagian mengenai ketertiban umum, gangguan terhadap ruang publik, kebisingan, dan penggunaan lahan publik.
“Inilah alasan para seniman jalanan sering harus berhadapan dengan peraturan pemerintah daerah dan kepolisian yang mengatur ruang publik, serta undang-undang anti-mengemis yang berlaku secara khusus di masing-masing negara bagian,” kata pengacara Kaushik Mitra.
Bagi banyak seniman, pandemi Covid-19 membuat situasi yang sudah sulit menjadi semakin buruk.
Ketika India memberlakukan lockdown pada 2020, pertunjukan di ruang publik terhenti. Banyak pesulap kembali ke desa mereka dan sebagian tidak pernah kembali.
“Kami melihat penurunan pertunjukan publik setelah periode tersebut,” kata Dhanda. “Dampaknya terutama dirasakan para pesulap dan seniman jalanan, banyak di antaranya tidak kembali ke kota.”
Bagi para seniman yang kembali dan melanjutkan profesinya, tantangan justru semakin besar.
Shahim Khan, 42 tahun, masih mempertunjukkan sulap di jalanan Delhi, terkadang bersama putrinya yang berusia 12 tahun, Alia.
Sebagian besar pertunjukannya kini hanya dilakukan di kawasan industri, jauh dari ruang publik yang ramai tempat ia dahulu tampil. Kondisi tersebut berdampak besar terhadap pendapatannya.
Sebelum pandemi, ia dapat menggelar empat atau lima pertunjukan sehari dengan penghasilan 1.000 hingga 1.200 rupee.
“Sekarang saya hampir tidak mampu melakukan dua pertunjukan dan hanya mendapat 200 hingga 400 rupee,” katanya.
Munculnya hiburan digital berdurasi pendek turut menambah tekanan terhadap para seniman tradisional, kata para pakar. Perubahan pandangan terhadap seni jalanan juga menjadi faktor.
“Beberapa dekade lalu, ada banyak ketertarikan dari Barat terhadap hal-hal seperti trik tali. Namun bentuk dan selera telah berubah, begitu pula dengan apa yang dipilih India untuk ditampilkan,” kata Dhanda.
Bagi Khan, hilangnya tradisi tersebut bukan hanya persoalan uang. Ia khawatir kesenian yang diwariskan dari generasi ke generasi akan menghilang jika tidak ada lagi orang yang mempelajarinya.
“Sebuah trik hanya bisa bertahan jika ada seseorang yang mempelajarinya,” katanya.
Putranya, Altamash, mulai tampil bersamanya ketika masih remaja, tetapi kini bekerja menghias pesta dengan balon. Di usia 30-an, ia sebagian besar telah meninggalkan dunia pertunjukan.
Bertahun-tahun tanpa latihan rutin membuat kemampuannya menurun. Ketika mendemonstrasikan keterampilan juggling , ia kesulitan menemukan kembali ritmenya.
“Saya perlahan melupakan semua trik,” katanya.
Khan berharap putranya dapat meneruskan tradisi keluarga. Altamash juga berharap bisa membangun nama untuk dirinya sendiri, tetapi harapan itu tidak terwujud.
“Saya tahu mungkin tidak akan mencapai ketenaran seperti ayah saya, tetapi saya tidak pernah menyangka akan tiba suatu masa ketika tampil sebagai seniman bukan lagi menjadi sebuah pilihan,” katanya.
