Close Menu

    Subscribe to Updates

    Dapatkan informasi terbaru dari mayoritas.com

    Apa yang Viral?

    Bus Wisata Terguling di Pegunungan Alpen Swiss, Sejumlah Orang Tewas

    11/09/2026

    Rekor Musim Badai Baru Terancam Tercipta saat El Niño Bersejarah Membuat Atlantik Sunyi

    11/09/2026

    Pria di Prancis Dipenjara karena Ancam Bunuh Guru Anaknya

    11/09/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • POLITIK
      • Politik Amerika
      • Politik Asia
      • Politik Dunia
      • Politik Eropa
      • Politik Nasional
      • Politik Timur Tengah
    • Nasional

      Bus Wisata Terguling di Pegunungan Alpen Swiss, Sejumlah Orang Tewas

      11/09/2026

      Rekor Musim Badai Baru Terancam Tercipta saat El Niño Bersejarah Membuat Atlantik Sunyi

      11/09/2026

      Pria di Prancis Dipenjara karena Ancam Bunuh Guru Anaknya

      11/09/2026

      Lima Orang Tewas dan 67 Terluka dalam Serangan Rusia ke Pusat Perbelanjaan Ukraina

      11/09/2026

      Penelitian Ungkap Penggunaan Zat Psikoaktif Mungkin Sudah Ada 25.000 Tahun Lalu di Indonesia

      11/09/2026
    • TEKNOLOGI

      Lima Orang Tewas dan 67 Terluka dalam Serangan Rusia ke Pusat Perbelanjaan Ukraina

      11/09/2026

      Anthropic Blokir Penyalahgunaan AI yang Berpotensi Mendukung Pengembangan Senjata Biologis

      11/09/2026

      iPhone Duo Resmi Meluncur, Layar Lipat Jadi Perubahan Terbesar Apple dalam Hampir 20 Tahun

      10/09/2026

      Peneliti Anthropic Sebut Ada Risiko Lebih dari 10 Persen AI Memusnahkan Umat Manusia

      10/09/2026

      AI Makin Sulit Dikendalikan, Akankah Manusia Tetap Memegang Kendali?

      10/09/2026
    • Hiburan
    • Belanja Sekarang
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    Mayoritas.com
    Langganan Sekarang
    TOPIK PANAS
    • Olahraga
    • Ekonomi & Pasar
      • Bisnis
      • Ekonomi
      • Keuangan
    • Wisata & Kuliner
    • Belanja Sekarang
    Mayoritas.com
    Home»Gaya Hidup»Wabah Diare Parah di AS Masih Menjadi Misteri, Otoritas Kesulitan Menemukan Sumber Penularan
    Gaya Hidup

    Wabah Diare Parah di AS Masih Menjadi Misteri, Otoritas Kesulitan Menemukan Sumber Penularan

    joveBy jove15/07/2026No Comments5 Mins Read2 Views
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Upaya melacak asal-usul wabah penyakit yang menyebabkan diare parah di Amerika Serikat masih menjadi tantangan besar bagi para ahli kesehatan masyarakat. Hingga kini, mereka belum berhasil memastikan bagaimana wabah itu bermula maupun bagaimana penyebarannya terjadi.

    Penyakit cyclosporiasis, infeksi parasit yang menyebar melalui makanan atau air yang terkontaminasi dan umumnya muncul pada musim panas, kini telah ditemukan di 34 negara bagian dengan hampir 7.000 kasus, menurut data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC).

    Gejala utama penyakit yang jarang berakibat fatal tersebut adalah diare cair yang sangat sering dan berat.

    Sejumlah pakar mengatakan bahwa parasit penyebab cyclosporiasis memang dikenal sangat sulit dilacak. Mereka menilai proses penyelidikan kemungkinan semakin rumit akibat pemangkasan anggaran dan sumber daya di sejumlah lembaga kesehatan federal.

    “Ini bukan seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Ini seperti mencari serpihan mikroskopis dari sebuah jarum di dalam tumpukan jerami,” kata Direktur Eksekutif Association of Food and Drug Officials, Steven Manderach.

    Masa Inkubasi Menyulitkan Penelusuran

    Salah satu alasan parasit tersebut sulit ditelusuri adalah karena gejala baru muncul satu hingga dua minggu setelah seseorang terinfeksi, kata Jodie Guest, Wakil Ketua Senior Bidang Epidemiologi di Rollins School of Public Health, Emory University.

    Menurutnya, pada sebagian besar penyakit akibat makanan, gejala biasanya muncul hanya beberapa jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi sehingga sumber penyebabnya lebih mudah diidentifikasi.

    Pengujian makanan untuk mendeteksi parasit Cyclospora juga jauh lebih rumit dibandingkan pengujian terhadap patogen lainnya, kata Manderach.

    Prosesnya mengharuskan peneliti mencuci makanan yang diduga terkontaminasi dalam jumlah sangat besar untuk memisahkan organisme Cyclospora, kemudian memekatkan cairan hasil pencucian sebelum dilakukan pengujian laboratorium.

    “Anda mungkin membutuhkan truk-truk penuh selada hanya untuk bisa sampai ke tahap itu,” ujar Manderach, yang sebelumnya pernah menangani wabah cyclosporiasis saat bertugas sebagai pejabat keamanan pangan di negara bagian Iowa.

    Diduga Ada Banyak Titik Kontaminasi

    Melihat besarnya skala wabah di Amerika Serikat, para ahli kesehatan masyarakat memperkirakan terdapat lebih dari satu sumber kontaminasi dalam rantai pasok pangan. Hal itu semakin mempersulit proses penyelidikan.

    Michigan menjadi negara bagian dengan jumlah kasus tertinggi, yakni lebih dari 3.300 kasus, disusul Negara Bagian New York.

    Pejabat kesehatan telah mengimbau masyarakat untuk mencuci bersih sayuran dan buah-buahan, menghindari konsumsi buah tertentu seperti raspberry, serta memasak sayuran hingga matang guna membunuh parasit tersebut.

    Meski demikian, hingga kini sumber pasti penyebaran wabah masih belum berhasil diidentifikasi.

    Pemangkasan Anggaran Dinilai Hambat Penyelidikan

    Sejumlah pakar kesehatan masyarakat menilai pencarian sumber wabah juga dipersulit oleh pemangkasan anggaran dan program di bawah Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat (HHS).

    Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr. melakukan berbagai pengurangan anggaran dan pegawai sebagai bagian dari program efisiensi yang diprakarsai miliarder Elon Musk melalui Department of Government Efficiency (DOGE).

    Pemerintah federal juga mengurangi kapasitas Foodborne Diseases Active Surveillance Network (FoodNet), jaringan yang memantau berbagai penyakit bawaan makanan seperti cyclospora, salmonella, dan listeria.

    Sejak tahun lalu, FoodNet hanya melanjutkan pemantauan penuh terhadap dua jenis patogen.

    “Dana yang tersedia tidak lagi sebanding dengan kebutuhan program tersebut,” tulis CDC dalam memo kepada Pemerintah Negara Bagian Connecticut, sebagaimana dikutip NBC News.

    Sebelum pemantauan cyclospora dihentikan, FoodNet mengumpulkan data pasien yang terkonfirmasi positif, meneliti sampel makanan dari berbagai negara bagian dan laboratorium, lalu menggabungkan seluruh data tersebut secara nasional, kata Guest yang sebelumnya pernah bekerja di FoodNet.

    “Ketika terjadi wabah atau klaster kasus, kami kini tidak lagi memiliki data yang biasanya bisa digunakan sebagai acuan. Inilah salah satu dampaknya,” ujarnya.

    “Anda memulai penyelidikan dalam kondisi nyaris tanpa petunjuk.”

    Meski demikian, HHS mengatakan bahwa CDC masih bekerja sama dengan sekitar 3.000 dinas kesehatan di seluruh Amerika Serikat untuk mengumpulkan data dan tetap memantau cyclospora melalui sistem surveilans lain di luar FoodNet.

    Departemen tersebut juga menyatakan bahwa pendanaan untuk penanganan penyakit bawaan makanan “tetap stabil.”

    Di Colorado, yang mencatat sekitar 90 kasus tahun ini atau hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya, dinas kesehatan setempat mengakui mereka menerima dana federal yang lebih kecil dan memiliki lebih sedikit staf untuk memantau kasus.

    “Rekan-rekan kami di CDC tetap bekerja keras membantu negara bagian, tetapi kami harus menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan di tingkat federal,” kata juru bicara Dinas Kesehatan Masyarakat Colorado, Hope Shuler.

    Ia menegaskan bahwa negara bagian tetap melakukan pengujian, pemantauan, dan mengirimkan data kepada CDC.

    Manderach sendiri menilai lembaga-lembaga federal yang menangani keamanan pangan pada dasarnya masih mampu bekerja hampir setara dengan sebelumnya meskipun terjadi perubahan selama pemerintahan Presiden Donald Trump.

    “Memang sempat ada tantangan pada awalnya, tetapi sebagian besar persoalan itu kini tampaknya sudah teratasi,” ujarnya.

    Sementara itu, Profesor Kedokteran, Pediatri, dan Epidemiologi di University of North Carolina at Chapel Hill, David Weber, mengatakan berbagai krisis kesehatan lain, termasuk wabah Ebola yang mematikan di Republik Demokratik Kongo, juga turut menguras sumber daya kesehatan global.

    Keterbatasan tersebut membuat pemerintah negara bagian harus mengambil tanggung jawab yang lebih besar dalam menangani penyakit bawaan makanan, kata Nancy Glick dari National Consumers League.

    “Negara-negara bagian memang sudah melakukannya sekarang, tetapi mereka tidak memiliki sumber daya sebesar yang dimiliki CDC,” ujarnya.

    Ribuan Wawancara untuk Menelusuri Makanan yang Dikonsumsi

    Saat ini, para epidemiolog mewawancarai setiap orang yang dinyatakan positif cyclosporiasis mengenai seluruh makanan yang mereka konsumsi selama satu hingga dua minggu sebelum jatuh sakit.

    Tujuannya adalah menemukan kesamaan, baik berupa jenis makanan maupun lokasi tertentu tempat penularan terjadi, sehingga wabah dapat dihentikan.

    Namun, proses wawancara tersebut membutuhkan waktu lama dan tenaga yang besar, sesuatu yang menjadi tantangan bagi banyak dinas kesehatan daerah yang memiliki sumber daya terbatas.

    “Secara teknis prosesnya cukup sederhana, tetapi membutuhkan sangat banyak tenaga manusia,” kata Weber.

    Sementara itu, masyarakat Amerika Serikat masih harus melakukan berbagai langkah pencegahan untuk mengurangi risiko tertular penyakit yang sangat mengganggu tersebut.

    “Saat ini, daftar hal yang perlu diwaspadai sayangnya cukup panjang, sehingga terasa sangat sulit untuk benar-benar mengendalikan risiko tersebut,” kata Guest.

    amerika kesehatan makanan penyakit wabah
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    jove
    • Website

    Related Posts

    Bencana

    Bus Wisata Terguling di Pegunungan Alpen Swiss, Sejumlah Orang Tewas

    11/09/2026
    Bencana

    Rekor Musim Badai Baru Terancam Tercipta saat El Niño Bersejarah Membuat Atlantik Sunyi

    11/09/2026
    Hukum Kriminal

    Pria di Prancis Dipenjara karena Ancam Bunuh Guru Anaknya

    11/09/2026
    Budaya

    Penelitian Ungkap Penggunaan Zat Psikoaktif Mungkin Sudah Ada 25.000 Tahun Lalu di Indonesia

    11/09/2026
    Hukum Kriminal

    Mahkamah Agung Sri Lanka Batalkan Pengampunan Presiden untuk Biksu Kontroversial

    11/09/2026
    Hukum Kriminal

    Houthi Dilaporkan Merebut Pelabuhan Strategis Mokha di Laut Merah

    11/09/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Langganan Berita

    Dapatkan berita olahraga terkini dari NewsSite tentang dunia, olahraga, dan politik.

    Pilihan Editor

    Bus Wisata Terguling di Pegunungan Alpen Swiss, Sejumlah Orang Tewas

    11/09/2026

    Rekor Musim Badai Baru Terancam Tercipta saat El Niño Bersejarah Membuat Atlantik Sunyi

    11/09/2026

    Pria di Prancis Dipenjara karena Ancam Bunuh Guru Anaknya

    11/09/2026

    Lima Orang Tewas dan 67 Terluka dalam Serangan Rusia ke Pusat Perbelanjaan Ukraina

    11/09/2026
    Info Terbaru

    Apa Itu Lifestyle Sedentary? Menimbulkan Banyak Penyakit Hingga Dapat Terkena Kanker

    20/01/2021

    Pebasket Zhang Ziyu Setinggi 220M Menarik Perhatian Usai Mengalahkan Tim U-18 Indonesia

    15/01/2021

    Kronologi Atlet Bulu Tangkis China Zhang Zhi Jie Meninggal Di Ajang AJC 2024

    15/01/2021
    Advertisement
    LOGO_FOOTER_MAYORITAS
    Facebook X (Twitter) Pinterest Vimeo WhatsApp TikTok Instagram

    News

    • Ekonomi & Pasar
    • Olahraga
    • Opini
    • Otomotif
    • Wisata Kuliner
    • Video Unggulan
    • Kesehatan

    Company

    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Hak Cipta
    • Disclaimer
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Panduan Kebijakan

    Layanan

    • Toko
    • Customer Support
    • Karir
    • Tentang kami
    • Hubungi Kami
    • Akses login

    Langganan Updates

    Dapatkan informasi terkinni seputar fakta informasi dunia, anda bisa berlangganan melalui email anda

    © 2026 Mayoritas.com
    • Privacy Policy
    • Term of Service
    • Contact us

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.