Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa AS akan membantu mengawal kapal-kapal yang terjebak keluar dari Selat Hormuz mulai Senin.
“Demi kebaikan Iran, Timur Tengah, dan Amerika Serikat, kami telah memberi tahu negara-negara tersebut bahwa kami akan memandu kapal mereka keluar dengan aman dari jalur perairan terbatas ini,” tulis Trump di media sosial, tanpa merinci negara mana saja yang akan menerima bantuan.
Trump menegaskan bahwa setiap upaya mengganggu proses tersebut—yang ia sebut sebagai “Project Freedom”—akan “ditangani dengan tegas menggunakan kekuatan”.
Iran telah membatasi secara signifikan lalu lintas di jalur pelayaran vital itu sejak perang dimulai pada Februari. Di sisi lain, AS juga menerapkan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Anggota parlemen senior Iran, Ebrahim Azizi—mantan komandan Garda Revolusi Iran—menyatakan di media sosial bahwa “setiap campur tangan Amerika” akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata.
Dalam unggahannya, Trump juga menyebut perwakilan AS tengah melakukan pembicaraan yang “sangat positif” dengan Iran, dan bahwa dialog tersebut “dapat menghasilkan sesuatu yang sangat baik bagi semua pihak”.
Ia menambahkan bahwa operasi ini merupakan “gestur kemanusiaan” yang dilakukan atas nama AS, Iran, dan negara-negara Timur Tengah lainnya, meski tidak merinci negara yang dimaksud. Trump juga tidak menjelaskan lebih lanjut bagaimana kerja sama dengan Teheran akan dijalankan.
“Dalam semua kasus, mereka mengatakan tidak akan kembali hingga wilayah tersebut aman untuk navigasi, dan hal lainnya… Pergerakan kapal ini semata-mata dimaksudkan untuk membebaskan orang, perusahaan, dan negara yang sama sekali tidak melakukan kesalahan apa pun,” lanjutnya.
Komando Pusat AS menyatakan sekitar 15.000 personel, kapal perusak berpeluru kendali, serta lebih dari 100 pesawat akan terlibat dalam “Project Freedom”.
Diperkirakan sekitar 20.000 pelaut telah terjebak di kawasan Teluk sejak pecahnya perang dengan Iran. Kekhawatiran meningkat terkait menipisnya pasokan serta dampaknya terhadap kesehatan fisik dan mental para pelaut.
Sekitar 20% pasokan minyak dunia dan gas alam cair (LNG) biasanya melewati selat tersebut, sehingga konflik yang berlangsung telah mendorong lonjakan harga energi global.
Pada Minggu malam, United Kingdom Maritime Transportation Operation melaporkan sebuah kapal tanker terkena “proyektil tak dikenal” di selat itu, namun seluruh awak dilaporkan selamat.
Pengumuman Trump muncul setelah media yang terkait dengan pemerintah Iran menyebut Teheran telah menerima respons AS atas proposal perdamaian terbaru mereka.
Menurut kantor berita semi-resmi Tasnim, Iran menyatakan respons tersebut—yang disampaikan melalui Pakistan—sedang ditinjau.
Hingga kini, AS belum secara resmi mengonfirmasi telah memberikan balasan. Namun, Trump dilaporkan mengatakan kepada media Israel bahwa proposal tersebut tidak dapat diterimanya.
Media pemerintah Iran menyebut rencana perdamaian 14 poin dari Teheran mencakup tuntutan agar Washington menarik pasukannya dari dekat perbatasan Iran dan mengakhiri blokade laut terhadap pelabuhan Iran, serta menghentikan seluruh permusuhan—termasuk ofensif Israel di Lebanon.
Proposal itu juga menyerukan kesepakatan antara kedua negara dicapai dalam waktu 30 hari.
Selain itu, rencana tersebut mendesak kedua pihak yang bertikai untuk fokus pada “mengakhiri perang” alih-alih memperpanjang gencatan senjata yang sedang berlangsung.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dikutip media pemerintah mengatakan bahwa “pada tahap ini, kami tidak memiliki negosiasi nuklir”—yang merupakan tuntutan utama dari Washington.
Iran berulang kali membantah tengah mengembangkan senjata nuklir dan menegaskan programnya hanya untuk tujuan damai, meskipun negara tersebut merupakan satu-satunya negara non-pemilik senjata nuklir yang telah memperkaya uranium hingga mendekati tingkat senjata.
Pada Sabtu, Trump mengonfirmasi bahwa Washington telah menerima proposal perdamaian terbaru dari Iran.
Dalam unggahan di Truth Social, ia menyatakan akan meninjau rencana tersebut, namun meragukan dapat menerimanya karena Iran “belum membayar harga yang cukup besar atas apa yang telah mereka lakukan terhadap kemanusiaan dan dunia selama 47 tahun terakhir”.
Kepada wartawan, ia menambahkan bahwa dirinya telah diberi gambaran awal mengenai konsep kesepakatan tersebut, dan menunggu rincian final.
Ketika ditanya apakah serangan militer terhadap target di dalam Iran dapat kembali dilakukan, Trump menjawab bahwa hal itu “merupakan kemungkinan”.
“Jika mereka berperilaku buruk. Jika mereka melakukan sesuatu yang buruk,” ujarnya. “Namun untuk saat ini, kita lihat saja.”
Presiden AS itu juga tampak enggan menarik diri sepenuhnya dari konflik, dengan menyatakan bahwa “kami tidak akan pergi” dan “kami akan menyelesaikannya, sehingga tidak perlu kembali lagi dalam dua atau lima tahun ke depan”.
Media yang terkait dengan pemerintah Iran menyebut proposal terbaru Teheran merupakan respons terhadap rencana sembilan poin dari AS yang membayangkan gencatan senjata selama dua bulan.
