Presiden Amerika Serikat dan Iran telah menandatangani kesepakatan perdamaian awal yang bertujuan mengakhiri perang, sehingga perjanjian tersebut langsung berlaku.
Kesepakatan itu mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, rencana “rekonstruksi” Iran senilai 300 miliar dolar AS (224 miliar pound sterling), serta penghentian “semua jenis sanksi” terhadap Iran oleh Amerika Serikat.
Namun, persoalan program nuklir Iran, yang menjadi alasan utama yang dikemukakan Washington untuk memulai konflik, masih akan dinegosiasikan dalam periode 60 hari yang dapat diperpanjang.
Presiden AS Donald Trump, yang menandatangani kesepakatan tersebut di Prancis dalam rangkaian KTT G7, membela proposal itu dengan mengatakan bahwa langkah tersebut akan mencegah terjadinya “bencana ekonomi”. Meski demikian, ia memperingatkan bahwa AS akan “membombardir habis-habisan” Iran jika tidak tercapai kesepakatan final.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menandatangani dokumen tersebut pada Rabu, sebagaimana dikonfirmasi Teheran.
Ketua parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan kepada media pemerintah bahwa ketidakpercayaannya terhadap AS tetap ada dan bahwa Iran masih “siap menarik pelatuk”.
“Jika musuh tidak memahami bahasa logika, kami akan kembali menggunakan bahasa kekuatan,” katanya kepada penyiar pemerintah Fars.
Isi Kesepakatan AS-Iran yang Kini Berlaku
AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari dengan membunuh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah pejabat militer senior pada hari pertama konflik.
Namun sejak saat itu, konflik terus meluas, mendorong kenaikan harga energi dan memicu kembali tekanan inflasi setelah Iran secara de facto menutup Selat Hormuz, jalur perdagangan penting yang biasanya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Trump mengatakan kepada wartawan di resor tepi danau Evian-les-Bains, lokasi berlangsungnya KTT G7, bahwa rencana tersebut akan mencegah “depresi ekonomi global”.
“Saya tidak ingin melihat bencana ekonomi,” kata Trump kepada wartawan. “Jika situasi ini terus berlanjut, itu bisa saja terjadi.”
“Yang saya tahu, setiap kali kami membicarakan kemungkinan perdamaian, pasar saham langsung melonjak seperti roket,” tambahnya.
“Setiap kali kami mengatakan sesuatu yang negatif, seperti bahwa kami mungkin tidak bisa mencapai penyelesaian, pasar turun sangat tajam.”
Harga minyak turun setelah kesepakatan diumumkan.
Dalam perdagangan awal Asia pada Kamis, minyak mentah Brent turun sekitar 1 persen menjadi 78,79 dolar AS (59,21 pound sterling) per barel. Namun, harga tersebut masih sekitar 8 dolar AS lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik dimulai.
Trump menandatangani salinan fisik kesepakatan awal yang berbentuk memorandum of understanding atau nota kesepahaman saat jamuan makan malam kenegaraan yang diselenggarakan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Versailles.
Teks perjanjian menyatakan bahwa AS dan Iran akan “berkomitmen untuk merundingkan dan mencapai kesepakatan final dalam waktu maksimal 60 hari, yang dapat diperpanjang atas persetujuan bersama”.
Kesepakatan itu juga menyebut bahwa “Iran menegaskan kembali bahwa mereka tidak akan memperoleh maupun mengembangkan senjata nuklir”, yang merupakan syarat utama Trump sejak awal perang.
Nota tersebut juga menyatakan bahwa uranium yang telah diperkaya milik Iran akan “diencerkan kembali” atau diturunkan tingkat pengayaannya di dalam negeri di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), lembaga pengawas nuklir PBB.
Sebelumnya, AS menuntut agar material nuklir tersebut sepenuhnya dipindahkan keluar dari Iran.
Terkait Selat Hormuz, kesepakatan menyebutkan tidak akan ada biaya yang dikenakan kepada kapal-kapal yang melintas selama 60 hari. Sebelum konflik pecah, tidak ada biaya semacam itu.
Namun, memorandum tersebut membuka kemungkinan penerapan biaya di masa depan.
Ketua parlemen Iran, Ghalibaf, dalam wawancara yang disiarkan televisi pemerintah mengatakan bahwa Selat Hormuz “tidak akan kembali ke kondisi sebelum perang”.
Ia mengisyaratkan bahwa Iran akan mulai mengenakan biaya kepada kapal-kapal yang melintasi jalur strategis tersebut setelah periode 60 hari dalam kesepakatan berakhir.
Meski sebelumnya Trump berjanji akan menghancurkan rudal balistik Iran, dalam KTT G7 ia mengatakan bahwa Teheran boleh memiliki senjata semacam itu “jika negara lain juga memilikinya”.
Poin pertama kesepakatan menyatakan “penghentian segera dan permanen operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon”.
Namun Israel menyatakan tidak memiliki rencana menarik pasukannya dari Lebanon, dan pada Rabu melancarkan serangan terhadap kelompok Hezbollah.
Trump semakin khawatir bahwa operasi militer Israel terhadap Hezbollah dapat menggagalkan kesepakatan dengan Iran. Pada Rabu, ia menegur Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam forum G7.
Presiden AS itu mengatakan Netanyahu adalah “orang yang baik”, tetapi menurutnya perlu bersikap “sedikit lebih lunak”.
“Anda tidak harus merobohkan sebuah gedung setiap kali seseorang dari Hezbollah masuk ke dalamnya,” kata Trump.
Setelah jamuan makan malam di Versailles, Trump memulai perjalanan kembali ke Washington. Di dalam negeri, rencana perdamaian dengan Iran telah memicu kegelisahan di kalangan anggota parlemen dari kedua partai, termasuk dari Partai Republik yang menaunginya.
Senator Republik dari Louisiana, Bill Cassidy, yang baru-baru ini kalah dalam pemilihan ulang dari kandidat yang didukung Trump, mengatakan: “Ini adalah kesalahan kebijakan luar negeri terburuk dalam beberapa dekade.”
Senator Republik dari Texas, Ted Cruz, yang dikenal keras terhadap Iran di Kongres, mempertanyakan dana 300 miliar dolar AS yang diperuntukkan bagi Iran.
“Memberikan miliaran dolar kepada kaum teokrat fanatik yang ingin membunuh kita bukanlah ide yang baik,” kata Cruz kepada wartawan. “Menurut saya, sayangnya presiden sedang menerima nasihat yang buruk.”
Sebelumnya pada Rabu, pejabat AS menggelar pengarahan media dan membacakan isi memorandum tersebut secara lengkap. Mereka membantah bahwa AS diwajibkan membayar “satu sen pun” kepada Iran melalui dana 300 miliar dolar AS tersebut.
Sebagai contoh hipotetis, seorang pejabat mengatakan bahwa jika Iran “berperilaku baik”, otoritas Uni Emirat Arab dapat membangun pembangkit listrik di Iran dengan persetujuan AS.
Dalam KTT G7, Trump menyebut laporan bahwa AS akan memberikan uang kepada Iran melalui dana tersebut sebagai “berita palsu”.
“Kami tidak memberi mereka uang,” katanya. “Kami tidak memberikan apa pun dari itu.”
Namun, ia juga mengatakan bahwa aset-aset Iran yang dibekukan selama perang seharusnya dikembalikan.
“Itu bukan uang kami, itu uang mereka, dan kami membekukannya,” kata Trump. “Pada suatu titik, saya kira kami harus mengembalikannya.”
Sebelumnya, Trump pernah mengkritik mantan Presiden AS Barack Obama karena mencairkan aset Iran senilai 1,7 miliar dolar AS, termasuk bunga, dalam kesepakatan nuklir tahun 2015 dengan negara tersebut. Trump kemudian membatalkan perjanjian era Obama itu pada masa jabatan pertamanya di Gedung Putih.
Sementara itu, Partai Demokrat juga melontarkan kritik tajam terhadap rencana Trump.
Senator New Hampshire Jeanne Shaheen mengatakan bahwa kesepakatan tersebut merupakan “perjanjian yang sangat buruk” dan gagal menyentuh isu-isu penting seperti dukungan Iran terhadap kelompok proksi regional, termasuk Hezbollah, maupun program rudalnya.
“Kesepakatan ini tidak mencapai satu pun tujuan yang disampaikan Presiden Trump saat memulai perang,” ujarnya.
