Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah laporan yang menyebut negaranya mengalami kekurangan amunisi. Dalam unggahan di media sosial pada Kamis waktu setempat, ia juga berjanji akan mengupayakan hukuman penjara jangka panjang bagi pihak-pihak yang diduga membocorkan informasi rahasia.
“Amerika Serikat memiliki persediaan amunisi dalam jumlah sangat besar, terutama untuk jenis-jenis tertentu,” tulis Trump.
Ia menambahkan bahwa sejumlah besar amunisi juga sedang diproduksi dan dikirim ke Amerika Serikat sesuai kebutuhan.
Trump dan Pentagon kini menghadapi pertanyaan yang semakin besar mengenai kondisi persenjataan militer AS. Perang telah memasuki bulan keenam, sementara kesepakatan damai masih belum tercapai.
Menanggapi laporan mengenai menipisnya persediaan senjata Amerika Serikat, Iran menyatakan bahwa kemampuan produksi senjata dalam negeri membuat negaranya mampu menghadapi berbagai ancaman.
“Setiap hari, tanda-tanda melemahnya kemampuan musuh semakin terlihat,” tulis Menteri Pertahanan Iran, Majid Ibn-e-Reza, melalui platform X.
“Namun angkatan bersenjata kami, yang didukung industri pertahanan nasional, sepenuhnya siap menghadapi ancaman apa pun.”
Ia menambahkan bahwa negara-negara yang kini berusaha membeli keamanan dan keunggulan militer melalui sistem persenjataan impor pada akhirnya akan menyadari bahwa teknologi buatan dalam negeri Iran lebih unggul dibandingkan sistem mana pun di kawasan tersebut.
Setelah Amerika Serikat menghabiskan persediaan besar senjata yang sulit diproduksi selama operasi militer yang dikenal sebagai Operation Epic Fury, serta rangkaian serangan balasan yang terjadi setelahnya, pemerintahan Trump berupaya meyakinkan publik bahwa stok rudal negara itu masih berada pada tingkat yang kuat.
AS telah menggunakan sebagian besar cadangan global rudal presisi jarak jauhnya selama konflik berlangsung. Laporan itu mengutip dua sumber anonim yang mengetahui langsung persoalan tersebut.
Sementara itu, The Washington Post pada Rabu malam waktu setempat melaporkan bahwa Trump pekan lalu sempat meminta penjelasan kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengenai kemungkinan kekurangan persenjataan. Laporan tersebut juga mengutip sumber anonim. belum dapat memverifikasi informasi itu.
“Dalam unggahan di Truth Social, Trump mengatakan, “Para pembocor pernyataan yang bersifat pengkhianatan ini sedang diburu. Hukuman penjara jangka panjang akan diupayakan.”
Dalam unggahan lain, Trump secara langsung menanggapi laporan The Washington Post.
“Saya benar-benar yakin laporan palsu mereka merupakan tindakan pengkhianatan,” tulisnya.
Trump juga menegaskan bahwa dirinya sangat puas dengan kinerja Pete Hegseth sebagai Menteri Pertahanan.
Informasi rinci mengenai jumlah persediaan rudal Amerika Serikat masih tergolong rahasia.
Sejak menjabat sebagai menteri pertahanan, Hegseth juga telah menerapkan aturan yang lebih ketat untuk membatasi informasi yang dapat diperoleh wartawan dari Pentagon.
Berdasarkan data yang tersedia untuk publik, lembaga kajian keamanan Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan bahwa hingga akhir Juli, Amerika Serikat masih memiliki sekitar 759 hingga 827 rudal Patriot. Jumlah tersebut setara dengan sekitar sepertiga dari total 2.330 rudal Patriot yang dimiliki sebelum konflik dimulai.
CSIS juga memperkirakan bahwa Amerika Serikat telah menggunakan sekitar 60 persen rudal THAAD (Terminal High Altitude Area Defense), sistem pertahanan yang dirancang untuk mencegat serangan rudal. Hal itu disampaikan Mark Cancian, pensiunan kolonel Korps Marinir AS sekaligus penasihat senior di CSIS, pada Rabu.
Selain konflik dengan Iran, permintaan terhadap persenjataan Amerika Serikat juga datang dari berbagai kawasan lain, sehingga berpotensi semakin menekan ketersediaan stok.
Sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 2022, Amerika Serikat telah memasok sejumlah besar rudal Patriot kepada Kyiv. Namun seiring menipisnya persediaan, Cancian memperkirakan Pentagon akan lebih berhati-hati dalam menyalurkan rudal tersebut.
Dalam rapat kabinet pada Jumat waktu setempat, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa memenuhi permintaan terbaru Ukraina untuk tambahan rudal Patriot akan menjadi “langkah besar”, meski kedua negara masih terus melakukan pembahasan mengenai hal tersebut.
Banyak sistem persenjataan modern membutuhkan waktu yang panjang, mulai dari pendanaan, pemesanan, produksi hingga pengiriman. Akibatnya, persediaan amunisi tidak dapat dengan cepat dipulihkan setelah digunakan.
Meski demikian, pemerintahan Trump secara konsisten menyatakan bahwa Amerika Serikat masih memiliki stok persenjataan yang memadai.
Bulan lalu, Trump mengatakan kepada The Wall Street Journal, “Kami memiliki amunisi jauh lebih banyak daripada negara mana pun di dunia, bahkan jauh melebihi kebutuhan kami.”
Sementara itu, Hegseth menyebut laporan mengenai kekurangan stok persenjataan sebagai “cerita yang dibuat-buat” ketika tampil dalam program Face the Nation di CBS pada 14 Juni.
Namun, di saat yang sama, pemerintahan Trump juga mengakui tengah mempercepat produksi persenjataan. Hegseth mengatakan Amerika Serikat bergerak cepat untuk memproduksi lebih banyak senjata.
Bulan lalu, ia juga mengajukan permintaan dana darurat kepada Senat Amerika Serikat senilai US$87 miliar (sekitar Rp1.420 triliun) untuk membayar personel militer sekaligus “segera mengisi kembali persediaan peralatan dan amunisi.”
