Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan membombardir Oman, sekutu AS, jika negara itu “menghalangi” upaya pemerintahannya dalam melakukan perundingan dengan Iran
Amerika Serikat dan Oman secara terpisah tengah berunding dengan Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur perairan yang sangat penting bagi perekonomian global. Selat tersebut sebagian besar tertutup selama hampir enam bulan sejak perang antara AS dan Iran berlangsung.
Seorang reporter mengatakan Trump melontarkan ancaman tersebut kepada Oman dengan menggunakan kata-kata kasar dalam sebuah wawancara melalui telepon.
Sebelumnya pada hari yang sama, pejabat Iran mengatakan mereka hampir menyelesaikan kesepakatan dengan Oman. Sementara itu, masa depan perundingan antara AS dan Iran masih belum jelas karena Memorandum of Understanding (MoU) selama 60 hari antara kedua pihak akan berakhir.
Saat berbicara kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih pada Senin, Trump ditanya apakah ia menginginkan perpanjangan MoU tersebut. Ia menjawab, “Tidak.”
Sejak AS dan Israel menyerang Iran pada Februari, Teheran sebagian besar memblokade Selat Hormuz, jalur yang biasanya menjadi rute sekitar seperlima minyak dunia dan gas alam cair global. Pembukaan kembali selat tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan utama.
Oman berbatasan dengan sisi selatan Selat Hormuz dan menyatakan diri sebagai negara netral dalam konflik ini. Namun, Oman telah mengalami sejumlah serangan dari Iran dan kini memainkan peran penting dalam perundingan dengan Teheran untuk membuka kembali jalur perairan tersebut.
Washington juga menjalankan upayanya sendiri untuk memastikan pembukaan kembali Selat Hormuz. Reporter , Trey Yingst, mengutip pernyataan Trump: “Jika Oman menghalangi, kami akan menghajar mereka habis-habisan.”
Belum jelas apa yang dimaksud Trump sebagai tindakan Oman yang dianggap menghambat ambisinya untuk mencapai kesepakatan.
Dalam wawancara yang sama, Trump juga mengatakan bahwa AS memiliki jalur komunikasi rahasia langsung dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang merupakan kekuatan militer, ekonomi, dan politik utama di Iran.
Seorang juru bicara IRGC membantah klaim Trump tersebut.
Juru bicara itu mengatakan kepada kantor berita Iran semi-resmi Tasnim News, “Tidak ada pembicaraan yang berlangsung antara pejabat IRGC dan pihak Amerika, dan kebohongan Trump ini hanyalah fantasi yang disebabkan oleh delusi dan mimpi buruk yang dialaminya akibat kekalahan dan keputusasaan dalam perang.”
Trump melontarkan ancaman terhadap Oman beberapa jam setelah Iran mengatakan kedua negara telah mencapai kesepakatan agar kapal-kapal dapat melintasi Selat Hormuz.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan kepada wartawan bahwa “telah tercapai kesepahaman mengenai peta rute transit”.
Ia menambahkan bahwa kedua pihak akan menyelesaikan rinciannya sebelum mengeluarkan pernyataan bersama. Oman sebelumnya menggambarkan perundingan tersebut sebagai proses yang positif.
Awal bulan ini, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pembukaan penuh Selat Hormuz bergantung pada Iran yang menerima kompensasi dari AS atas apa yang disebut Teheran sebagai pelanggaran terhadap MoU.
Reuters, dengan mengutip seorang pejabat Iran, sebelumnya melaporkan bahwa Teheran meminta biaya sebesar 5% hingga 7% dari nilai muatan kepada kapal-kapal yang melintasi selat tersebut.
Trump Sebut Tak Terburu-buru Mengakhiri Perang
Meski dalam pembicaraannya dengan reporter Trump mengatakan memiliki jalur komunikasi rahasia langsung dengan IRGC, ia menyatakan tidak terburu-buru mengakhiri perang.
“Mereka pemain poker yang hebat, tetapi mereka sedang sekarat,” demikian Trump dikutip mengatakan. “Saya tidak punya jadwal. Saya tidak terburu-buru.”
Memorandum of Understanding antara AS dan Iran, yang ditandatangani pada 18 Juni, dirancang untuk menghasilkan gencatan senjata dan setidaknya membuka kembali sebagian Selat Hormuz. Namun, kesepakatan itu runtuh tak lama kemudian ketika kedua pihak kembali melancarkan serangan.
Pada 8 Juli, Trump mengatakan gencatan senjata telah “berakhir” dan mengecam kepemimpinan Iran sebagai “sampah” dan “gila” setelah terjadi kembali pertukaran serangan.
Ketika masa berlaku MoU mendekati berakhir secara resmi pada Senin, Trump menulis di jejaring sosial Truth Social miliknya: “Tujuan nomor satu adalah, dan akan selalu menjadi, memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir dalam bentuk, cara, atau keadaan apa pun.”
