Para penyelidik yang menelusuri penyebab kecelakaan pesawat Air India yang menewaskan 250 orang mengatakan mereka masih belum siap merilis laporan akhir investigasi.
Biro Investigasi Kecelakaan Pesawat India (AAIB) pada Jumat, bertepatan dengan peringatan satu tahun tragedi tersebut, merilis pembaruan yang menyatakan bahwa telah dicapai “kemajuan signifikan” dalam analisis bukti terkait kecelakaan, namun proses tersebut masih berlangsung.
AAIB tidak memberikan banyak rincian tambahan, termasuk kapan laporan akhir akan diterbitkan.
Penyebab pasti jatuhnya pesawat Boeing 787 Dreamliner sesaat setelah lepas landas dari Ahmedabad menuju London pada 12 Juni 2025 telah menjadi bahan spekulasi luas.
Pesawat itu jatuh sekitar 6 kilometer dari bandara dan menghantam sebuah bangunan yang digunakan sebagai tempat tinggal dokter di Byramjee Jeejeebhoy Medical College and Civil Hospital, sehingga memicu ledakan.
Sebanyak 19 orang tewas di darat, sementara 241 orang di dalam pesawat juga kehilangan nyawa. Dari para penumpang dan awak yang meninggal, 169 merupakan warga negara India dan 53 warga negara Inggris.
Hanya satu orang yang selamat, yakni Viswashkumar Ramesh, warga Leicester.
“Selama setahun terakhir, tim investigasi telah melakukan pemeriksaan yang luas dan menyeluruh terhadap seluruh faktor teknis, operasional, organisasi, dan manusia yang terkait dengan kecelakaan ini,” kata AAIB dalam pernyataan terbarunya.
“Kemajuan signifikan telah dicapai dalam pemeriksaan dan analisis sistem pesawat, data perekam penerbangan, komponen terkait mesin, catatan perawatan dan operasional, serta bukti lain yang relevan dengan investigasi.
“Bukti yang telah dikumpulkan dan hasil berbagai pemeriksaan saat ini sedang dianalisis secara komprehensif dan terintegrasi.”
AAIB menambahkan, “Laporan Akhir akan dirilis setelah seluruh kegiatan investigasi dan proses peninjauan serta konsultasi internasional yang diperlukan selesai dilakukan,” seraya menegaskan bahwa “setiap aspek kecelakaan akan diperiksa dengan tingkat kehati-hatian dan ketelitian tertinggi.”
Pernyataan tersebut, yang juga menyampaikan belasungkawa kepada “keluarga dan orang-orang terkasih” para korban, menekankan bahwa “satu-satunya tujuan investigasi kecelakaan adalah meningkatkan keselamatan penerbangan melalui identifikasi pelajaran yang dapat dipetik dan rekomendasi keselamatan, bukan untuk menentukan kesalahan atau tanggung jawab hukum.”
AAIB diwajibkan memberikan pembaruan pada peringatan satu tahun kecelakaan sesuai dengan aturan penerbangan internasional.
Sebelumnya, telah muncul keraguan luas bahwa laporan terbaru ini akan memberikan kesimpulan yang pasti. Pada Mei lalu, Menteri Penerbangan Sipil India memperkeruh situasi ketika mengatakan kepada wartawan bahwa investigasi kecelakaan telah memasuki “tahap akhir” dan laporan final “kemungkinan besar akan terbit dalam waktu sekitar satu bulan”.
Sorotan terhadap Pilot
Pada 12 Juli tahun lalu, laporan pendahuluan dipublikasikan. Laporan itu menemukan bahwa hanya beberapa detik setelah lepas landas, sakelar kontrol bahan bakar tiba-tiba berpindah ke posisi “cut-off”, menghentikan pasokan bahan bakar ke mesin dan menyebabkan hilangnya tenaga secara total.
Rekaman audio dari kokpit menangkap percakapan ketika salah satu pilot bertanya kepada rekannya mengapa ia melakukan hal tersebut, dan pilot lainnya menjawab bahwa dirinya tidak melakukannya. Para penyelidik tidak mengungkapkan pilot mana yang mengucapkan masing-masing pernyataan tersebut.
Dalam beberapa hari setelah laporan itu dirilis, perhatian publik mulai tertuju kepada para pilot. The Wall Street Journal dan kantor berita Reuters melaporkan bahwa rincian baru dalam investigasi mengarahkan sorotan kepada pilot senior di kokpit, Kapten Sumeet Sabharwal.
Menurut laporan Reuters yang mengutip sumber anonim, “rekaman percakapan di kokpit antara dua pilot penerbangan Air India” yang jatuh tahun lalu mendukung pandangan bahwa “kapten memutus aliran bahan bakar ke mesin pesawat”.
Laporan media tersebut memicu reaksi keras dari asosiasi pilot di India. Mereka mengkritik pemberitaan tersebut dan menolak dugaan bahwa pilot senior menjadi penyebab kecelakaan, sekaligus mengkritik AAIB.
Pekan ini, ayah Sabharwal mengatakan bahwa dirinya bertekad terus membela reputasi putranya di tengah berbagai tuduhan yang beredar.
“Setiap kali kecelakaan terjadi, pilot selalu disalahkan. Mengapa? Karena itu cara paling mudah untuk menutup kasus. Putra saya sudah tiada dan tidak bisa membela dirinya sendiri,” kata Pushkar Raj, yang kini berusia lebih dari 90 tahun.
