Polisi di Sydney tengah menyelidiki kematian seorang remaja perempuan berusia 16 tahun dalam kasus yang diduga melibatkan pencekikan saat berhubungan seksual, menurut laporan media setempat.
Pada Minggu sekitar pukul 17.45 waktu setempat, layanan darurat dipanggil ke sebuah rumah di Elanora Heights, kawasan Northern Beaches, Sydney, tempat remaja tersebut ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Polisi mengonfirmasi bahwa korban mendapat pertolongan medis di lokasi sebelum diterbangkan menggunakan helikopter ke Royal North Shore Hospital dalam kondisi kritis. Namun, ia meninggal pada Selasa malam. Menurut informasi yang beredar, korban kehilangan kesadaran setelah diduga dicekik saat berhubungan seksual.
Para ahli mengatakan praktik pencekikan saat aktivitas seksual semakin banyak terjadi di kalangan anak muda di Australia, meskipun tindakan tersebut dapat menimbulkan dampak serius, termasuk sakit kepala, kehilangan ingatan, kerusakan otak, dan dalam kasus yang jarang terjadi, kematian.
Polisi belum mengungkap penyebab pasti kematian korban maupun jenis luka yang dialaminya. Namun, sejumlah sumber kepolisian mengatakan kepada beberapa media lokal, termasuk lembaga penyiaran nasional ABC dan Sydney Morning Herald, bahwa korban diyakini dicekik saat berhubungan seksual.
Aktivis edukasi persetujuan seksual Chanel Contos mengatakan kematian remaja tersebut “kemungkinan dapat dicegah” dan menuding perusahaan pornografi “memiliki darah di tangan mereka”.
“Pornografi arus utama secara rutin menampilkan kekerasan terhadap perempuan, seperti menampar, mencekik, dan bentuk kekerasan lainnya, sembari menggambarkan perempuan seolah-olah menikmati atau menerimanya,” ujarnya.
“Ini bukan tragedi pertama semacam ini dan juga tidak akan menjadi yang terakhir.”
Contos, 28 tahun, mendirikan organisasi Teach Us Consent pada 2021 setelah ia memicu pembicaraan nasional mengenai persetujuan seksual, menyusul pengakuan dari ratusan anak muda yang mengatakan mereka pernah mengalami kekerasan seksual selama masa sekolah.
Ia mengatakan tidak ada cara yang benar-benar aman untuk melakukan pencekikan saat berhubungan seksual, meskipun penelitian terbaru menunjukkan sebagian anak muda menganggap tindakan tersebut berisiko tetapi tetap aman dilakukan.
“Meski anak muda merasa telah memberikan persetujuan, mereka sering kali tidak memiliki informasi yang cukup mengenai konsekuensi yang mungkin terjadi. Dampaknya dalam kondisi terburuk dapat berakibat fatal dan bahkan dapat menyebabkan kerusakan otak permanen meskipun tidak terlihat adanya tanda-tanda cedera.”
Laporan yang diterbitkan pada 2024 oleh University of Melbourne dan University of Queensland menemukan bahwa lebih dari separuh, atau 57 persen, warga Australia berusia 18 hingga 35 tahun pernah mengalami pencekikan saat berhubungan seksual setidaknya sekali.
Survei terhadap 4.700 anak muda tersebut juga menemukan bahwa sepertiga dari mereka yang pernah dicekik saat berhubungan seksual mengalaminya pertama kali ketika berusia antara 19 dan 21 tahun.
