Rekaman terbaru yang memperlihatkan sejumlah perempuan muda mengumpat saat mengikuti aksi protes di India memicu perdebatan yang tidak biasa: apakah kata-kata kasar menjadi lebih buruk ketika diucapkan oleh perempuan?
Tokoh terbaru yang ikut menanggapi persoalan tersebut adalah anggota parlemen dari oposisi, Rahul Gandhi, yang mengkritik pernyataan Perdana Menteri Narendra Modi yang menyebut melihat perempuan muda mengumpat sebagai sebuah “kejutan budaya”.
“Jika laki-laki mengumpat, tidak ada masalah dan hal itu diperbolehkan. Tetapi jika seorang perempuan mengumpat, itu dianggap sebagai kejutan budaya,” kata Gandhi.
Para demonstran melampiaskan kemarahan mereka kepada pemerintah dan sebagian kata-kata kasar ditujukan kepada perdana menteri. Hal itu memicu kemarahan para pendukung Modi, sementara bahkan banyak pengkritik politik Modi menilai para perempuan tersebut telah melewati batas.
Aksi protes itu berakhir sebulan lalu, tetapi pernyataan Rahul Gandhi kembali menghidupkan perdebatan mengenai bagaimana aktivisme perempuan dan keberanian perempuan menyampaikan pandangan mereka secara tegas, bahkan dengan menggunakan kata-kata kasar, dipandang di India.
Persoalan ini bermula bulan lalu ketika sejumlah perempuan muda menggunakan kata-kata kasar terhadap perdana menteri selama aksi protes Cockroach Janta Party (CJP) yang berlangsung selama berminggu-minggu di Delhi dan sejumlah kota lain untuk menuntut reformasi pendidikan.
Modi sendiri menanggapi persoalan tersebut melalui sebuah video swafoto. Ia mengatakan bahwa melihat perempuan muda menggunakan kata-kata kasar merupakan “kejutan budaya”, tetapi menambahkan bahwa ia memaafkan mereka.
Namun, perdana menteri tidak mengomentari tindakan keras polisi terhadap para demonstran maupun memberikan dukungan kepada perempuan yang mengatakan mereka menjadi sasaran perundungan daring dan menerima ancaman pemerkosaan karena mengikuti aksi protes CJP.
Pada akhir pekan, Rahul Gandhi, yang menjabat sebagai pemimpin oposisi di majelis rendah parlemen India, mengkritik pernyataan Modi mengenai “kejutan budaya” tersebut dalam sebuah pertemuan dengan para mahasiswa di Pune, India bagian barat.
Menunjukkan bahwa demonstran laki-laki maupun perempuan sama-sama menggunakan kata-kata kasar dalam aksi protes terkait kebocoran soal ujian, Gandhi mempertanyakan mengapa Modi hanya membicarakan perempuan.
Pernyataannya muncul beberapa pekan setelah poster dan video yang memperlihatkan demonstran perempuan menghina Modi menjadi viral di media sosial.
Ketika polisi membuka penyelidikan terhadap unggahan yang dianggap menghina, seorang gadis berusia 15 tahun terseret ke pusat kontroversi. Para perundung mengiriminya berbagai hinaan dan ancaman melalui media sosial.
Remaja tersebut kemudian mengunggah video untuk meminta maaf atas bahasanya dan memohon pengampunan. Ia juga mengatakan telah menghapus videonya, tetapi kemarahan publik terus berlanjut.
Ibunya, seorang orang tua tunggal, mengatakan kepada media lokal bahwa kontroversi tersebut memaksa mereka beberapa kali pindah rumah.
Modi bersikap lebih berdamai dalam video vertikal yang dibagikannya di Instagram setelah aksi protes berakhir. “Beberapa anak nakal menggunakan kata-kata kasar yang sangat keterlaluan dan tidak memiliki tempat dalam masyarakat yang beradab,” katanya. “Mereka menghina saya, mereka juga menghina almarhum ibu saya. Hal itu sangat mengganggu.”
Menanggapi kemarahan para pendukungnya, Modi mengatakan ia memahami kemarahan tersebut. “Ini adalah kejutan budaya. Bagaimana mungkin putri-putri kita menggunakan bahasa seperti itu? Tetapi saya ingin mengatakan bahwa kesalahan dilakukan saat masih kecil dan ini adalah kesempatan untuk memperbaikinya.”
Dalam acara di Pune, Gandhi mengatakan keputusan Modi untuk secara khusus menyoroti gender para demonstran berakar pada patriarki.
“Bagaimana pola pikirnya sehingga perempuan memiliki batasan, sementara laki-laki mendapat kebebasan penuh? Mereka bisa melakukan apa pun yang mereka inginkan. Jika mereka ingin mengumpat, mereka bisa mengumpat… Kita harus menghancurkan patriarki ini,” katanya.
Jurnalis Namita Bhandare, yang menulis kolom populer mengenai isu gender di surat kabar Hindustan Times, mengatakan kepada BBC bahwa bertentangan dengan anggapan sebagian orang, “perempuan di India tentu saja mengumpat, ini bukan hal baru”.
Di banyak desa di India bagian utara, salah satu ritual penting dalam pernikahan melibatkan perempuan dari keluarga mempelai perempuan menyanyikan rangkaian kata-kata kasar saat menyambut rombongan keluarga mempelai laki-laki. Tradisi tersebut tidak dianggap menyinggung oleh masyarakat setempat.
Karena itu, Bhandare mengatakan menyebut ucapan yang disampaikan di Jantar Mantar sebagai kejutan budaya dan mengecam perempuan karena menggunakan kata-kata kasar menunjukkan “standar ganda”, karena politisi dari berbagai kubu, termasuk perdana menteri, juga pernah menggunakan hinaan terhadap perempuan ketika hal itu dianggap menguntungkan mereka.
Dalam pidato Hari Kemerdekaan pada 2022, Modi menyerukan kepada warga India untuk melawan misogini. Pemerintahannya menjalankan sejumlah program yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan perempuan dan Modi menikmati popularitas yang sangat besar di kalangan pemilih perempuan.
Namun, dalam sejumlah kesempatan, Modi dan kolega-koleganya di partai telah dikritik karena dianggap tidak menghormati perempuan. Sejumlah pemimpin senior partainya juga mendapat kecaman atas komentar misoginis mengenai pakaian perempuan. Modi sendiri pernah dikritik karena menggunakan istilah seperti “sapi Jersey” dalam sebuah kampanye pada 2004 dan “pacar seharga 500 crore rupee” dalam acara lain pada 2012.
Kritik semacam itu tidak hanya ditujukan kepada BJP. Banyak politisi oposisi, termasuk dari Partai Kongres yang dipimpin kubu Gandhi, juga menghadapi tuduhan serupa. Seorang pemimpin Kongres di negara bagian Kerala baru-baru ini memicu kemarahan setelah melontarkan pernyataan mengenai penggunaan perempuan untuk membuat laporan palsu terhadap lawan politik.
“Perempuan diperlakukan dengan sangat buruk dan mereka begitu mudah dijadikan sasaran. Kemudian ketika mereka menggunakan kata-kata kasar, semua orang bertanya, bagaimana mungkin putri-putri kita mengumpat dan berkata kasar?” ujar Bhandare.
Aktivis sosial Sunil Jalan, yang sejak 2014 menjalankan Gali Bandh Abhiyan, sebuah kampanye untuk menghentikan penggunaan kata-kata makian, mengatakan “kita harus fokus pada umpatan, bukan pada gender orang yang menggunakannya”.
Dalam survei yang dilakukan organisasinya tahun lalu, 55 persen dari lebih dari 70.000 peserta yang berasal dari 28 negara bagian India dan delapan wilayah yang dikelola pemerintah federal mengaku menggunakan bahasa kasar.
Pertanyaan yang diajukan cukup sederhana: seberapa sering Anda mendengar atau menggunakan kata-kata kasar yang menargetkan ibu, saudara perempuan, atau anak perempuan?
Peta Gali [umpatan] India 2025 yang mereka susun menunjukkan tingkat penggunaan yang sangat tinggi di wilayah utara, yakni 80 persen di Delhi, 78 persen di Punjab, serta 74 persen di negara bagian Uttar Pradesh dan Bihar. Sebagian besar negara bagian di selatan berada di bawah 44 persen, sementara di wilayah timur laut angkanya berada antara 15 hingga 18 persen.
Jalan mengatakan ini adalah pertama kalinya dialog mengenai bahasa kasar berlangsung di India, “dan mudah-mudahan sesuatu yang baik akan muncul dari hal ini”.
“Ini adalah persoalan yang sangat serius. Ini seperti virus yang menyebar di masyarakat. Komedi, lelucon, dan film telah menormalisasi penggunaan kata-kata kasar dan hal itu perlu dikendalikan,” katanya.
Namun, banyak anggota Generasi Z di India tidak memandang penggunaan kata-kata kasar dengan cara yang sama.
“Umpatan dan protes telah berjalan beriringan sejak dahulu. Ada faktor mengejutkan dan mengagetkan di dalamnya, yang merupakan bagian mendasar dari sebuah aksi protes,” kata juru bicara CJP, Sourav Das, kepada BBC sebelumnya. “Hal itu mungkin dianggap tidak menyenangkan oleh sebagian orang dan tidak oleh yang lain. Tetapi tindakan tersebut sama sekali tidak boleh dianggap sebagai tindak pidana.”
Bahasa semacam itu juga tidak terbatas pada aksi protes di jalanan. Kata-kata kasar dan serangan pribadi semakin menjadi bagian dari wacana publik di India, mulai dari debat televisi hingga ruang sidang dan bahkan parlemen.
Sebuah video yang viral awal pekan ini memperlihatkan seorang presenter perempuan di saluran milik pemerintah India, Doordarshan, berusaha mengendalikan seorang pendeta kuil yang melontarkan serangkaian kata-kata kasar kepada juru bicara Partai Kongres. Juru bicara tersebut kemudian membalas dengan bahasa yang sama.
Pada 2023, anggota parlemen BJP Ramesh Bidhuri menuai kecaman luas karena menggunakan hinaan bernuansa Islamofobia terhadap seorang anggota parlemen Muslim dan mengancamnya di dalam parlemen. Setelah kemarahan publik meningkat, ia kemudian mengatakan menyesali pernyataannya.
Sosiolog Shiv Vishwanathan mengatakan “penggunaan kata-kata kasar merupakan gejala dari keretakan demokrasi yang lebih dalam. Hal itu menunjukkan berakhirnya dialog dan kurangnya rasa hormat”.
Ketika kata-kata kasar digunakan di dalam parlemen dan ruang sidang, katanya, “itu menunjukkan adanya kerusakan dalam bahasa, kemunduran dalam argumentasi dan kemunduran demokrasi”.
Penggunaan kata-kata kasar oleh para demonstran terjadi karena “ketika rasa saling menghormati melemah, umpatan menjadi sebuah bentuk respons”.
