Seorang mantan menteri lingkungan hidup Australia akan memimpin tinjauan independen yang didanai publik terhadap kesepakatan kapal selam Aukus senilai miliaran dolar, proyek pertahanan terbesar dalam sejarah negara tersebut.
Peter Garrett, yang menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup Australia pada 2007–2010, mengatakan penyelidikan independen terhadap kesepakatan senilai 368 miliar dolar Australia (239 miliar dolar AS atau 176 miliar pound sterling) itu sudah “sangat terlambat untuk dilakukan”.
Dalam kesepakatan tersebut, Australia akan membeli kapal selam bekas milik Amerika Serikat untuk menggantikan armada kapal selamnya yang telah menua.
Garrett, yang juga dikenal sebagai vokalis grup musik rock Midnight Oil, menyebut Aukus sebagai proyek pertahanan “termahal” yang pernah dijalankan Australia. Namun menurutnya, kesempatan untuk “mempertanyakan, memperdebatkan, dan memutuskan” proyek tersebut telah diambil dari tangan parlemen dan masyarakat.
Penyelidikan ini akan menggelar serangkaian dengar pendapat publik, dengan laporan akhir dijadwalkan terbit pada Oktober mendatang.
Garrett akan memimpin penyelidikan bersama empat komisaris lainnya, termasuk Laksamana Chris Barrie, mantan Kepala Angkatan Pertahanan Australia (ADF), serta Carmen Lawrence, mantan Perdana Menteri Negara Bagian Australia Barat.
Karen Lester, putri seorang pria Aborigin yang kehilangan penglihatannya akibat uji coba nuklir Inggris di Australia Selatan pada 1950-an, juga akan bergabung sebagai salah satu komisaris.
Dua anggota parlemen independen, David Pocock dan Andrew Wilkie, menyatakan dukungannya terhadap penyelidikan tersebut. Tinjauan ini diselenggarakan oleh organisasi nirlaba Australian Peace and Security Forum.
Dukungan juga datang dari sejumlah mantan anggota parlemen, purnawirawan militer dan angkatan laut, pengacara hak asasi manusia, serta pemimpin serikat pekerja.
Juru bicara Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengatakan pemerintah menyambut baik “pengawasan dan transparansi yang tepat” terkait proyek kapal selam tersebut.
Salah satu isu utama yang akan ditelaah selama penyelidikan lima bulan itu adalah apakah pengadaan kapal selam serang bertenaga nuklir benar-benar akan membuat Australia lebih aman, serta bagaimana dampaknya terhadap posisi negara tersebut dalam menjaga perdamaian dan keamanan kawasan.
Sejumlah pertanyaan penting yang ingin dijawab dalam penyelidikan ini antara lain apakah Australia benar-benar akan menerima kapal selam yang telah dibayarnya, di mana dan bagaimana limbah nuklir akan disimpan, serta apakah kesepakatan tersebut berpotensi mengurangi kedaulatan negara.
Penyelidikan juga akan menilai dampak kesepakatan Aukus terhadap hubungan Australia dengan China, mitra dagang terbesar negara itu.
Kesepakatan Aukus pertama kali diumumkan pada September 2021. Meskipun tidak secara eksplisit disebutkan, banyak pihak meyakini bahwa perjanjian tersebut bertujuan menanggapi meningkatnya pengaruh China di kawasan Indo-Pasifik, termasuk perannya dalam meningkatnya ketegangan di wilayah-wilayah sengketa seperti Laut China Selatan.
Saat pertama kali diumumkan, China mengecam perjanjian tersebut dan menyebutnya sebagai langkah yang “sangat tidak bertanggung jawab”.
Awal pekan ini, pemerintah Australia merinci perubahan dalam kesepakatan tersebut. Australia kini akan membeli tiga kapal selam bekas dari Amerika Serikat, menggantikan kesepakatan sebelumnya yang menjanjikan setidaknya satu kapal selam baru untuk Canberra.
Mulai 2027, perjanjian tersebut juga memungkinkan Amerika Serikat dan Inggris menempatkan sejumlah kecil kapal selam bertenaga nuklir mereka di Perth, Australia Barat.
Inggris telah meninjau kembali kesepakatan itu pada 2024 setelah pemerintahan Partai Buruh yang dipimpin Keir Starmer berkuasa. Sementara itu, Amerika Serikat juga meluncurkan evaluasi terhadap perjanjian Aukus pada Juni tahun lalu.
Dengan biaya yang terus membengkak dan sejumlah pertanyaan strategis yang belum terjawab, penyelidikan independen ini berpotensi menjadi ujian penting bagi masa depan salah satu proyek pertahanan paling ambisius dalam sejarah Australia.
