Mereka masih ada. Fakta sederhana ini tak bisa dihindari. Di setiap langkah warga, di setiap perjalanan mereka, bahkan saat televisi dinyalakan—wajah para pemimpin yang terbunuh dan para penguasa baru terus mendominasi ruang publik.

    Gelombang protes datang dan pergi. Perang terjadi, lalu diikuti gencatan senjata. Namun, rezim Republik Islam tetap bertahan.

    Bahkan, menurut sejumlah warga Iran yang diwawancarai di dalam negeri, alih-alih melemah, rezim justru semakin mengakar kuat—dan kini berada dalam suasana penuh dendam.

    Sana dan Diako—bukan nama sebenarnya—adalah pasangan muda yang tinggal di Teheran. Mereka berasal dari kelas menengah, berpendidikan, dan termasuk kelompok yang menginginkan berakhirnya pemerintahan religius garis keras.

    Untuk menceritakan kisah mereka, banyak detail harus disamarkan karena dapat digunakan oleh rezim untuk melacak warga yang berani berbicara kepada media asing.

    Seorang jurnalis yang membantu di Iran bertemu keduanya di dekat sebuah taman, tempat keluarga berjalan bersama anak-anak mereka, memanfaatkan momen gencatan senjata.

    Diako masih ingin percaya bahwa keadaan akan membaik. “Segalanya akan berubah,” katanya. “Sebenarnya sudah berubah.”

    Sana tertawa mendengar pernyataan itu.

    “Berubah?” katanya. “Negara ini sudah jatuh ke tangan Garda Revolusi. Kondisinya kacau.” Perasaannya sendiri berubah sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

    “Di awal, saya tidak ingin perang terjadi… Tapi di tengah perang, selama mereka menargetkan tokoh-tokoh penting, saya benar-benar merasa senang setiap kali ada yang tewas.”

    Namun, seiring perang berlarut-larut, Sana menyadari—seperti halnya Gedung Putih di bawah Donald Trump—bahwa hilangnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan tokoh senior lainnya tidak otomatis membawa perubahan menuju rezim yang lebih terbuka terhadap kompromi.

    “Begitu banyak dari mereka yang masih bertahan. Apa yang saya bayangkan tidak terjadi. Semuanya justru memburuk. Dan kita tetap berada di bawah Republik Islam. Saya hancur karena mereka memenangkan perang ini,” ujarnya.

    Sulit mengukur sejauh mana dukungan terhadap rezim di tengah masyarakat Iran. Aksi solidaritas publik kerap digelar oleh para pendukung pemerintah, sementara demonstrasi oposisi dilarang.

    Sumber-sumber terpercaya di Iran yang berbicara dengan aktivis oposisi, pengacara HAM, dan jurnalis independen menggambarkan suasana penuh kecemasan. Ketakutan yang terus berulang adalah: setelah perang benar-benar berakhir, negara akan meningkatkan represi di dalam negeri.

    Menurut Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Washington, lebih dari 53.000 orang ditangkap selama protes anti-rezim pada Januari lalu, sebelum perang pecah. Sejak perang dimulai, ribuan lainnya diyakini juga telah ditahan.

    Jumlah eksekusi terhadap tahanan politik pun mencapai rekor—21 orang digantung selama perang. Ini merupakan angka tertinggi dalam periode singkat selama lebih dari 30 tahun. Sembilan di antaranya terkait protes Januari, 10 karena dugaan keanggotaan kelompok oposisi, dan dua lainnya dituduh sebagai mata-mata.

    Susan—nama samaran—adalah seorang pengacara yang menangani para tahanan. Ia mengatakan kondisi di penjara kini jauh lebih keras.

    “Sebelum perang, perlakuan keras biasanya hanya diberikan kepada mereka yang memimpin protes, membawa bom molotov, atau bersenjata. Namun selama perang, kekerasan itu meningkat secara signifikan,” ujarnya.

    Kisah pribadinya juga mencerminkan bagaimana konflik memecah sebagian keluarga. Orang tuanya secara terbuka mendukung rezim, dan ia khawatir mereka akan menjadi sasaran jika pemerintah jatuh. Ketika ia menyampaikan kekhawatiran itu kepada saudaranya yang anti-rezim, jawabannya membuatnya ngeri: “Kalau mereka ingin menjadi martir, kenapa harus dicegah?”

    Susan berharap perang segera berakhir, tetapi ia yakin tekanan terhadap orang-orang seperti dirinya akan semakin besar. Ia juga mengkhawatirkan nasib para tahanan.

    “Saya pikir jika perang berakhir, rezim akan melampiaskan kemarahannya kepada para tahanan. Saya merasa kami hidup dengan waktu pinjaman,” katanya.

    Aktivis HAM melaporkan empat eksekusi tahun ini terhadap individu yang dituduh memiliki hubungan dengan Mossad, badan intelijen luar negeri Israel.

    Jurnalis independen juga termasuk pihak yang khawatir menjadi target tuduhan membantu Amerika Serikat atau Israel. Sejumlah penangkapan terjadi terhadap mereka yang dituduh mengirimkan informasi kepada media asing yang dianggap memusuhi negara.

    Seorang jurnalis—yang disebut Armin—mengungkapkan bahwa sekadar melaporkan fakta perang kini dapat berujung pada penangkapan dengan konsekuensi fatal.

    “Sebelumnya kami mungkin dituduh melakukan pelanggaran politik. Namun dalam kondisi perang saat ini, jika melaporkan perang, kami bisa dituduh sebagai mata-mata,” ujarnya. Tuduhan spionase membawa hukuman mati dalam sistem peradilan yang berpihak pada rezim.

    “Dulu kami mencoba memahami berapa banyak orang yang terdampak atau bagaimana protes akan berakhir,” lanjutnya. “Sekarang berbeda. Fokus kami adalah bertahan hidup—kami sendiri dan keluarga kami.”

    Saat keluarganya mencoba tidur, Armin justru gelisah.

    “Saya terbaring terjaga, memikirkan masa depan. Ketidakpastian itu membawa kecemasan yang luar biasa.”

    Tak mengherankan jika oposisi kini menghilang dari jalanan. Dalam kondisi saat ini, rezim memegang kendali penuh atas hidup dan mati.

    Share.
    Leave A Reply