Pasukan Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran pada Selasa, demikian disampaikan Komando Pusat AS (Centcom).
Centcom mengatakan serangan AS tersebut dilakukan setelah adanya “upaya serangan terbaru” oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Bulan Sabit Merah Iran mengatakan empat orang, termasuk seorang anak kecil, tewas dalam serangan AS dan lebih dari 50 orang terluka setelah serpihan rudal AS menghantam sebuah rumah tempat berlangsungnya perayaan pernikahan di Sirik, Iran selatan.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan terhadap pangkalan militer AS di Irak dan Yordania, menurut media pemerintah setempat dan Angkatan Bersenjata Yordania. Serangan juga dilaporkan terjadi di Kuwait dan Bahrain.
IRGC mengatakan AS akan “menyesali” serangan tersebut. Hingga Rabu pagi, IRGC telah meluncurkan rentetan rudal balistik ke pangkalan Marinir AS di Aqaba, Yordania, sebagai pembalasan atas serangan di Sirik, menurut kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim.
Angkatan Bersenjata Yordania mengatakan pihaknya telah mencegat 13 rudal balistik, dengan 10 di antaranya berhasil dihancurkan, sementara tiga lainnya jatuh di wilayah terpencil. Tidak ada korban tewas maupun luka-luka akibat serangan Iran tersebut.
Jaringan tersebut juga melaporkan bahwa pusat keamanan nasional Yordania telah memperingatkan warga di wilayah Aqaba dan Mafraq mengenai kemungkinan jatuhnya puing-puing, sebelum peringatan tersebut dinyatakan berakhir.
Secara terpisah, militer Kuwait mengatakan sistem pertahanan udaranya merespons serangan rudal Iran pada Rabu pagi.
Sejumlah ledakan juga dilaporkan terjadi di Bahrain setelah serangan Iran, menurut media pemerintah Iran.
Saat serangan AS diumumkan pada Selasa sore, Donald Trump memperingatkan Iran akan kembali menjadi sasaran serangan “dengan tingkat yang jauh lebih keras dan lebih tinggi” jika Teheran membalas.
Serangan tersebut terjadi setelah serangan AS pertama yang diketahui terhadap Iran sejak akhir Juli pada awal pekan ini, ketika pasukan AS menyerang dua peluncur roket di Pulau Larak, di Selat Hormuz. Teheran membalas dengan meluncurkan rudal ke pangkalan udara di Yordania dan sebuah drone ke Uni Emirat Arab (UEA).
Centcom mengatakan pasukan AS mulai menyerang target-target IRGC pada pukul 12.00 waktu Timur AS (16.00 GMT), dan serangan tersebut telah selesai pada Rabu pagi.
Media pemerintah Iran melaporkan seorang anak berusia empat tahun termasuk di antara empat korban tewas dalam serangan di Sirik. Laporan lainnya menyebut proyektil menghantam wilayah Chabahar dan Konarak serta sebuah bandara di Jiroft. Ledakan juga terdengar di Pulau Qeshm dan Bandar Abbas.
Kapten Angkatan Laut AS Tim Hawkins, yang berbicara mewakili Centcom, mengatakan bahwa pihaknya mengetahui laporan media pemerintah Iran mengenai serangan di Sirik.
Ia menambahkan: “Militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil, berbeda dengan IRGC.”
AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari. Iran kemudian merespons dengan menyerang Israel, pangkalan AS, dan negara-negara sekutu AS di kawasan Teluk, yang secara efektif menutup Selat Hormuz bagi lalu lintas pelayaran.
Kesepakatan AS-Iran yang dikenal sebagai Memorandum of Understanding, atau nota kesepahaman, untuk memperpanjang gencatan senjata antara kedua negara ditandatangani pada Juni.
Namun, kesepakatan tersebut telah berakhir dan memicu kembali permusuhan. AS dan Iran juga sama-sama melakukan serangan terhadap kapal-kapal, dengan Teheran menargetkan kapal yang menurut mereka berusaha melintasi Selat Hormuz tanpa izin, sementara AS memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Washington juga mengumumkan kampanye sanksi baru pada 24 Agustus yang ditujukan untuk semakin mengisolasi Teheran dan memperluas sanksi sekunder terhadap negara-negara sekutunya.
Berbicara dalam pertemuan para menteri keuangan G20, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan banyak sekutu AS “maju dan mengatakan mereka akan melakukan apa pun yang diperlukan” terkait sanksi terhadap Iran.
Pejabat Iran dan media pemerintah sebagian besar menepis kampanye tersebut sebagai kelanjutan dari langkah-langkah ekonomi AS sebelumnya. Mereka berpendapat kebijakan itu merupakan bagian dari dampak kegagalan militer Washington dalam konflik baru-baru ini.
Namun, pada Selasa, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dikutip media pemerintah mengatakan bahwa jika AS kembali berkomitmen pada kesepakatan tersebut, Iran akan memberikan tanggapan yang sama.
