Fenomena El Niño, pola iklim alami di Samudra Pasifik yang mendorong kenaikan suhu global, kini resmi dimulai, menurut para ilmuwan Amerika Serikat.
Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) menyatakan kondisi El Niño telah terbentuk di wilayah tropis Pasifik setelah suhu permukaan laut meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Sejumlah prakiraan bahkan menunjukkan fenomena ini berpotensi berkembang menjadi “super El Niño” dan bisa menjadi salah satu yang terkuat yang pernah tercatat.
Terjadi di tengah pemanasan global akibat aktivitas manusia yang telah berlangsung selama puluhan tahun, El Niño kali ini berpotensi memicu tahun terpanas baru dalam sejarah, kemungkinan besar pada 2027. Dampaknya terhadap cuaca, pasokan pangan, dan perekonomian dunia diperkirakan dapat berlangsung hingga tahun tersebut.
Pengumuman NOAA sebenarnya tidak mengejutkan. Para peramal iklim telah memperkirakan fase pemanasan ini akan muncul setelah berakhirnya La Niña, fenomena “saudara” El Niño yang lebih dingin, pada awal tahun ini.
Suhu permukaan laut di kawasan tengah dan tropis Samudra Pasifik kini telah melampaui ambang batas 0,5 derajat Celsius di atas rata-rata, yang digunakan ilmuwan AS sebagai indikator resmi terjadinya El Niño.
“Kondisi El Niño berkembang selama sebulan terakhir, ditunjukkan oleh suhu permukaan laut yang berada di atas rata-rata di wilayah Pasifik ekuator bagian tengah hingga timur,” kata NOAA.
NOAA juga mencatat adanya perubahan pola angin di atas wilayah ekuator Pasifik. Hal ini menjadi tanda bahwa atmosfer kini mulai merespons pemanasan laut, bukan sekadar lautan yang menghangat dengan sendirinya.
Berpotensi Menjadi Salah Satu El Niño Terkuat dalam Sejarah
Yang mengejutkan para peneliti adalah tingginya tingkat keyakinan model komputer terhadap kekuatan fenomena ini.
Intensitas El Niño diukur berdasarkan seberapa jauh suhu permukaan laut meningkat di atas rata-rata pada zona tertentu di Samudra Pasifik.
El Niño kuat didefinisikan sebagai kenaikan lebih dari 1,5 derajat Celsius di atas rata-rata, sementara El Niño sangat kuat berada di atas 2 derajat Celsius.
Dalam prospek iklim NOAA untuk Juni, lembaga tersebut menyebut terdapat peluang 63 persen bahwa El Niño akan mencapai kategori sangat kuat pada periode November hingga Januari.
“Fenomena tersebut akan masuk dalam jajaran El Niño terbesar dalam catatan sejarah sejak 1950,” kata NOAA.
Tiga El Niño terkuat sejak saat itu terjadi pada 1982/1983, 1997/1998, dan 2015/2016.
Sejumlah model terbaru dari Amerika Serikat dan Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa (ECMWF) bahkan memperkirakan suhu di Pasifik tropis dapat meningkat lebih dari 3 derajat Celsius di atas normal menjelang akhir tahun.
Meski demikian, NOAA mengingatkan agar publik tidak langsung menyimpulkan bahwa kekuatan El Niño akan menghasilkan dampak yang sama di semua wilayah.
“Bahkan El Niño yang sangat kuat tidak selalu menghasilkan dampak yang diharapkan di setiap tempat. Namun peristiwa yang lebih kuat dapat meningkatkan peluang terjadinya berbagai dampak yang diperkirakan,” jelas lembaga tersebut.
Terjadi di Planet yang Sudah Jauh Lebih Panas
Kekhawatiran terbesar para ilmuwan adalah karena El Niño kali ini terjadi ketika suhu Bumi sudah berada pada level yang sangat tinggi akibat perubahan iklim.
“Kita memang perlu mengkhawatirkan dampaknya,” kata Prof. Adam Scaife, Kepala Prediksi Bulanan hingga Dekade di Badan Meteorologi Inggris (Met Office).
“El Niño saat ini terjadi di atas tingkat pemanasan global yang sudah sangat besar.”
“Artinya, suhu aktual di wilayah-wilayah yang terdampak bisa saja mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya karena pemanasan dari El Niño ditambah lagi oleh perubahan iklim.”
El Niño yang sangat kuat biasanya meningkatkan suhu udara global sekitar 0,2 derajat Celsius dengan melepaskan panas yang tersimpan di lautan ke atmosfer.
Tambahan panas tersebut kini terjadi pada dunia yang sudah berkali-kali memecahkan rekor suhu.
Tahun 2024, yang menjadi tahun terpanas dalam sejarah pencatatan modern, bahkan didorong oleh El Niño yang tidak tergolong sangat kuat.
Sementara itu, tahun 2025 tetap menjadi tahun terpanas ketiga yang pernah tercatat meskipun dipengaruhi efek pendinginan dari La Niña. Suhunya bahkan lebih tinggi dibandingkan tahun 2016 yang mengalami super El Niño.
“Pada akhir tahun ini hingga memasuki 2027, kemungkinan besar kita akan melihat suhu global yang sangat tinggi,” ujar Prof. Scaife.
“Pada 2027, kita berpotensi mengalami tambahan panas di atas pemanasan global yang sudah ada, dan itu sangat mungkin menghasilkan satu tahun lagi dengan suhu melebihi ambang 1,5 derajat Celsius dibandingkan tingkat akhir abad ke-19.”
Ancaman Banjir, Kekeringan, dan Krisis Pangan
Tidak ada dua peristiwa El Niño yang benar-benar sama, tetapi dampaknya paling terasa di wilayah tropis.
Banjir sering terjadi di Peru bagian utara dan Ekuador selatan. Dampaknya juga dapat meluas ke sebagian Afrika Timur, Asia Tengah, dan wilayah selatan Amerika Serikat.
Di saat yang sama, risiko kekeringan dan kebakaran hutan meningkat di sebagian besar Australia, Indonesia, dan Amerika Selatan bagian utara.
Kondisi tersebut dapat mengganggu produksi pertanian dan pasokan pangan global.
El Niño juga biasanya menekan aktivitas badai tropis di Samudra Atlantik. Karena itu, para peramal cuaca memperkirakan musim badai Atlantik tahun ini akan lebih tenang dibandingkan rata-rata.
“Meski terdengar sebagai kabar baik, bagi Amerika Tengah kondisi itu berarti curah hujan yang jauh lebih sedikit dan berpotensi menyebabkan kekeringan,” kata Prof. Liz Stephens, pakar risiko dan ketahanan iklim dari Universitas Reading.
Bahkan Inggris juga bisa merasakan pengaruh El Niño, meskipun relatif lemah. Fenomena ini dapat meningkatkan peluang awal musim dingin yang lebih hangat dan akhir musim dingin yang lebih dingin, walaupun keterkaitannya tidak terlalu kuat.
Peringatan untuk Jutaan Orang
Bagi banyak masyarakat, terutama di negara-negara berkembang, El Niño bukan sekadar istilah meteorologi.
“Deklarasi El Niño bukan hanya prakiraan cuaca biasa. Bagi jutaan orang, ini adalah sirene bahaya yang mematikan,” kata Mohamed Adow, Direktur kelompok kampanye iklim Power Shift Africa.
“Ini berarti gagal panen, tanaman mati, harga pangan meningkat, dan keluarga-keluarga kembali didorong ke ambang krisis.”
“Di Afrika Timur khususnya, fenomena ini akan menghantam masyarakat yang sudah terpukul oleh kekeringan dan banjir dalam beberapa tahun terakhir.”
Tidak Semua Negara Sepakat El Niño Sudah Dimulai
Badan Meteorologi Jepang (JMA) memiliki pandangan yang sejalan dengan NOAA dan menyatakan kondisi El Niño telah terbentuk.
JMA juga menilai fenomena tersebut hampir pasti akan bertahan hingga musim gugur.
Namun tidak semua lembaga meteorologi langsung menyatakan El Niño telah resmi dimulai.
Biro Meteorologi Australia (BoM) menggunakan standar yang lebih ketat dengan mensyaratkan suhu permukaan laut meningkat lebih dari 0,8 derajat Celsius di atas rata-rata.
Pekan ini BoM menyatakan wilayah Pasifik tropis “sedang mendekati kondisi El Niño”. Meskipun suhu di Pasifik tengah telah melewati ambang batas mereka, lembaga tersebut belum secara resmi mendeklarasikan dimulainya El Niño.
Australia memperkirakan fenomena tersebut akan berkembang pada akhir tahun dan berpotensi menjadi kuat.
El Niño biasanya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali dan umumnya berlangsung sekitar satu tahun.
Hingga kini belum ada bukti ilmiah yang benar-benar meyakinkan bahwa perubahan iklim membuat El Niño menjadi lebih kuat atau lebih sering terjadi. Namun para ilmuwan menegaskan bahwa dunia yang semakin hangat dapat memperbesar dampak yang ditimbulkan oleh fenomena tersebut.
