Kemewahan, kebebasan, pemberontakan, atau sekadar sensasi berkendara di jalan terbuka dengan angin menerpa rambut. Mobil convertible atau mobil atap terbuka pernah menjadi simbol semua hal tersebut. Namun dalam dua dekade terakhir, penjualannya anjlok drastis dan masa depannya kini tampak penuh ketidakpastian. Apa yang sebenarnya terjadi?
Pada era 1950-an dan 1960-an, memiliki mobil convertible merupakan simbol gaya hidup berkelas. Mobil jenis ini identik dengan para selebritas dan tokoh terkenal pada masanya.
Ketika ikon Hollywood seperti Grace Kelly dan Cary Grant tampil berkendara menyusuri Riviera Prancis dengan mobil Sunbeam Alpine dalam film To Catch a Thief, mereka menjadi simbol elegansi dan kemewahan layar lebar.
Film-film lain seperti The Graduate dan Thelma & Louise kemudian semakin mengukuhkan posisi mobil atap terbuka sebagai lambang pelarian dari rutinitas dan semangat kebebasan bagi generasi berikutnya.
Selama bertahun-tahun, mobil convertible menjadi kendaraan impian banyak orang, dan para produsen pun berlomba-lomba memproduksinya.
Namun kini, khususnya di Inggris, mobil convertible mulai terlihat seperti spesies yang terancam punah.
Menurut data dari Society of Motor Manufacturers and Traders, penjualan mobil atap terbuka baru turun hampir 90% dalam 20 tahun terakhir, dari 109.171 unit pada 2005 menjadi hanya 11.484 unit tahun lalu.
Penurunan tersebut terjadi bersamaan dengan melonjaknya popularitas kendaraan jenis SUV (Sport Utility Vehicle), yaitu mobil berukuran besar yang memiliki karakteristik mirip kendaraan off-road penggerak empat roda.
Berdasarkan data perusahaan riset Dataforce GmbH, SUV menyumbang 59% dari total penjualan mobil di Eropa tahun lalu.
SUV kini menikmati dukungan popularitas yang dahulu dimiliki mobil convertible. Kendaraan besar dan mewah seperti Lamborghini Urus, Mercedes-Benz G-Class, dan Bentley Bentayga menjadi pilihan banyak bintang reality show, pesepak bola, dan musisi.
Menurut jurnalis otomotif Steve Fowler, SUV menawarkan citra dan gengsi yang dulu dimiliki convertible tanpa harus mengorbankan aspek kepraktisan.
“Faktanya, saat ini orang menginginkan kendaraan yang lebih praktis,” ujarnya.
“Saya selalu mengatakan bahwa SUV adalah mobil sport bagi orang yang tidak lagi bisa memiliki mobil sport. SUV memiliki citra yang dulu mungkin dimiliki oleh mobil convertible.”
“Selain itu, sangat sulit membawa anak-anak, anjing peliharaan, sepeda, dan berbagai kebutuhan hidup lainnya dengan sebuah convertible.”
Terlepas dari apakah penyebab utamanya adalah kebangkitan SUV atau bukan, permintaan terhadap mobil atap terbuka memang terus menurun. Kondisi ini membuat produsen semakin enggan memproduksinya.
“Biaya membuat mobil saat ini sangat mahal,” kata Fowler.
“Dan membuat convertible tidak sesederhana memotong bagian atap. Ada berbagai regulasi keselamatan dan banyak pekerjaan teknis yang harus dilakukan.”
Direktur riset Cox Automotive Europe, Philip Nothard, memiliki pandangan serupa.
“Ini murni persoalan penawaran dan permintaan,” ujarnya.
“Convertible lebih mahal untuk diproduksi, sementara pangsa pasarnya sangat kecil.”
Akibatnya, jumlah model convertible yang tersedia di pasaran kini semakin sedikit. Sebagian besar yang masih diproduksi merupakan model premium karena menawarkan margin keuntungan yang lebih tinggi.
Beberapa pengecualian adalah Mazda MX-5, Mini Convertible, dan Fiat 500 Convertible. Namun bagi konsumen yang mencari mobil atap terbuka dengan harga terjangkau, pilihan kini sangat terbatas.
Meski demikian, mobil convertible masih memiliki basis penggemar yang setia.
“Mobil ini adalah hal yang paling mendekati pengalaman mengendarai sepeda motor,” kata Peter West, mantan pengendara motor yang kini mengemudikan Mazda MX-5 keluaran 2014.
“Yang saya sukai adalah rasa kebebasannya. Saat terjebak macet, Anda masih bisa mendengar suara burung. Ini soal pengalaman berkendara.”
Steve Bassett, sesama anggota komunitas Yorkshire Ridings dari MX-5 Owners Club, juga menilai masyarakat terlalu terfokus pada SUV.
“Saya pikir orang-orang perlu kembali menghargai roadster yang sederhana dan elegan,” katanya.
Masih Adakah Masa Depan untuk Convertible?
Sebenarnya, prediksi kematian mobil convertible bukanlah hal baru.
Pada 1970-an dan 1980-an, penjualan kendaraan jenis ini juga sempat merosot tajam akibat regulasi keselamatan yang lebih ketat sehingga biaya produksi meningkat. Pada saat yang sama, selera konsumen beralih ke hatchback berperforma tinggi.
Selain itu, semakin luasnya penggunaan pendingin udara di mobil turut mengurangi salah satu daya tarik utama kendaraan atap terbuka.
Namun pada akhirnya penjualan convertible berhasil bangkit kembali dan bahkan mencetak rekor baru pada awal 2000-an.
Lalu, apakah mobil convertible masih memiliki masa depan saat ini?
Menurut Philip Nothard, jawabannya bergantung pada kemampuan industri menekan biaya produksi di tengah fokus besar produsen otomotif terhadap pengembangan kendaraan listrik.
Ia menilai perusahaan-perusahaan otomotif asal China berpotensi memainkan peran penting dalam kebangkitan kembali mobil convertible.
“Mereka mampu memproduksi kendaraan dengan biaya yang jauh lebih rendah,” katanya.
“Jadi jika Anda penggemar mobil convertible dan ingin melihat model-model yang lebih terjangkau, mungkin Anda perlu menunggu hingga produsen China memiliki pangsa pasar yang lebih besar.”
Saat ini hanya ada dua model mobil listrik convertible yang dijual di Inggris, dan salah satunya memang diproduksi di China.
Mobil tersebut adalah MG Cyberster, sebuah roadster listrik dua tempat duduk yang tampil modern dan dirancang untuk memanfaatkan warisan merek MG yang dahulu terkenal dengan model-model legendaris seperti MGA dan MGB.
Kini pertanyaannya adalah apakah MG Cyberster hanya menjadi penghormatan digital terhadap masa lalu, atau justru menjadi pertanda lahirnya era baru mobil atap terbuka yang kembali menawarkan sensasi berkendara dengan angin menerpa wajah.
