Penulis Elizabeth Strout, Douglas Stuart, Marlon James, dan Rebecca Perry termasuk di antara para sastrawan yang masuk daftar panjang (longlist) Booker Prize 2026, salah satu penghargaan sastra paling bergengsi di dunia.
Sebanyak 13 novel terpilih tahun ini menghadirkan beragam latar cerita, mulai dari Mexico City, sebuah pulau terpencil di Skotlandia, klinik bunuh diri berbantuan di Zurich, Jamaika pada era 1980-an, Kent pascaapokaliptik, hingga Massachusetts menjelang pemilihan presiden Amerika Serikat 2024.
Ketua dewan juri Mary Beard menyebut ke-13 novel tersebut sebagai karya yang “penuh daya ledak”.
“Kami yakin daftar panjang tahun ini memiliki sesuatu yang dapat dinikmati semua pembaca,” ujarnya.
Daftar panjang yang dikenal sebagai Booker Dozen akan disaring menjadi enam finalis pada 22 September. Pemenangnya akan diumumkan pada 9 November.
Booker Prize merupakan penghargaan sastra tahunan paling bergengsi yang diberikan kepada karya fiksi panjang berbahasa Inggris yang diterbitkan di Inggris atau Irlandia, tanpa memandang kewarganegaraan penulisnya.
Enam penulis yang masuk daftar pendek akan menerima hadiah masing-masing 2.500 pound sterling, beserta edisi khusus novel mereka yang dijilid eksklusif. Sementara pemenang utama akan memperoleh trofi dan hadiah uang sebesar 50.000 pound sterling.
Sejumlah nama besar justru gagal masuk daftar panjang tahun ini, di antaranya Maggie O’Farrell, Ann Patchett, John Lanchester, Deborah Levy, dan Julian Barnes, yang sebelumnya banyak diprediksi akan masuk nominasi lewat novel terakhirnya, Departure(s).
Daftar Panjang Booker Prize 2026
- The Shadow of the Object – Chloe Aridjis
- Switzy – Emma Cline
- Helen of Nowhere – Makenna Goodman
- The End of Everything – M. John Harrison
- The Disappearers – Marlon James
- Black Bag – Luke Kennard
- The Renovation – Kenan Orhan
- May We Feed the King – Rebecca Perry
- The Palm House – Gwendoline Riley
- The Things We Never Say – Elizabeth Strout
- John of John – Douglas Stuart
- All Them Dogs – Djamel White
- The Vivisectors – Missouri Williams
Dewan juri menerima 163 karya untuk dipertimbangkan sebelum akhirnya memilih 13 novel tersebut.
Masing-masing dari lima juri membaca seluruh naskah yang masuk. Mary Beard mengaku sempat merasa kewalahan setiap kali menerima kiriman sekitar 30 buku baru.
“Namun, yang paling saya ingat adalah betapa menyenangkan pengalaman itu dan betapa banyak yang saya pelajari tentang membaca serta kekuatan fiksi dari rekan-rekan sesama juri,” katanya.
Ragam Tema dalam Daftar Panjang
Tiga penulis dalam daftar panjang tahun ini sebelumnya pernah masuk daftar pendek Booker Prize, termasuk Elizabeth Strout yang kembali melalui novel The Things We Never Say.
Novel tersebut mengisahkan seorang guru sejarah sekolah menengah di Massachusetts yang bergulat dengan kesepian, kecemasan sosial pascapandemi, serta kekhawatiran menghadapi pemilu Amerika Serikat 2024.
Dua penulis lain yang pernah masuk daftar pendek juga merupakan pemenang Booker Prize sebelumnya.
Douglas Stuart, penulis Shuggie Bain, masuk nominasi melalui John of John, yang bercerita tentang seorang pria muda gay yang kembali ke keluarganya yang sangat religius di sebuah pulau terpencil di Skotlandia.
Sementara itu, Marlon James kembali lewat The Disappearers, novel setebal 600 halaman yang akan terbit pada September. Cerita tersebut mengikuti delapan pria gay di Kingston, Jamaika, yang menjadi sasaran amukan massa saat menjalani latihan pementasan drama.
Novel karya James menjadi yang paling tebal dalam daftar tahun ini. Sebaliknya, novel paling tipis adalah Helen of Nowhere karya Makenna Goodman yang hanya berjumlah 140 halaman. Novel itu mengisahkan seorang profesor yang kehilangan reputasinya ketika mengunjungi sebuah rumah pedesaan yang indah dan mulai mengungkap kisah pemilik sebelumnya.
Rebecca Perry, yang awal bulan ini memenangkan Waterstones Debut Fiction Prize, juga masuk daftar panjang melalui May We Feed the King. Novel tersebut mengikuti kisah seorang kurator bangunan bersejarah yang mulai menyelidiki kehidupan seorang raja abad pertengahan yang nyaris terlupakan.
Dua penulis lain mendapat pengakuan lewat novel debut mereka. Kenan Orhan masuk nominasi melalui The Renovation, tentang seorang psikolog yang merawat ayahnya yang mengidap demensia di Italia ketika proyek renovasi bangunan berubah menjadi masalah.
Sementara itu, Djamel White dinominasikan lewat All Them Dogs, yang menceritakan seorang pria yang kembali ke Dublin bagian barat setelah lima tahun melarikan diri karena membunuh seseorang dalam perkelahian antargeng.
Pada usia 28 tahun, White menjadi penulis termuda dalam daftar panjang tahun ini. Sebaliknya, M. John Harrison yang berusia 81 tahun menjadi peserta tertua berkat novel pascaapokaliptiknya, The End of Everything, yang berlatar kota pesisir Kent.
Novel Switzy karya Emma Cline, yang juga akan terbit pada September, mengisahkan seorang pria kaya dan sukses yang melakukan perjalanan ke klinik bunuh diri berbantuan di Swiss.
Sementara itu, The Shadow of the Object karya Chloe Aridjis bercerita tentang pertemuan di sebuah rumah sakit di Mexico City yang berkembang menjadi persahabatan yang mengubah hidup.
Novel The Palm House karya Gwendoline Riley mengikuti kisah seorang pekerja lepas di London dan persahabatan panjangnya dengan seorang editor senior majalah.
Adapun The Vivisectors karya Missouri Williams mengangkat kisah seorang mahasiswa pascasarjana di kota universitas yang mulai membusuk dan dipenuhi tumbuhan liar.
Daftar tersebut dilengkapi oleh Black Bag karya Luke Kennard, tentang seorang aktor pengangguran yang kesulitan ekonomi dan dibayar untuk masuk ke dalam tas kulit hitam besar serta duduk diam di belakang ruang kuliah sebagai bagian dari eksperimen psikologi.
Dalam pernyataannya, Mary Beard mengatakan setiap penulis dalam daftar panjang tahun ini mampu memanfaatkan kekuatan bahasa untuk membawa pembaca ke tempat-tempat baru, melihat dunia lama dari sudut pandang berbeda, dan bahkan mengubah cara berpikir.
“Buku bukanlah cermin. Buku tidak sekadar memantulkan diri kita sendiri. Salah satu kekuatan terbesar karya fiksi adalah membantu kita memahami bagaimana rasanya menjadi orang lain, melihat dunia dari perspektif yang berbeda, dan membayangkan pengalaman yang bukan milik kita.”
“Buku-buku hebat tidak selalu menawarkan kenyamanan. Dengan caranya masing-masing, novel-novel yang kami pilih tahun ini adalah karya-karya yang, kami harap, benar-benar penuh daya ledak.”
Pada edisi tahun lalu, Booker Prize dimenangkan oleh penulis Inggris-Hongaria David Szalay lewat novelnya yang berjudul Flesh.
