Sebuah buku baru mengungkap sejumlah klaim dan adegan di balik layar yang melibatkan Presiden Donald Trump, termasuk bagaimana ia membandingkan dirinya dengan sejumlah diktator dan tokoh paling ditakuti dalam sejarah dunia seperti Attila the Hun, Genghis Khan, Napoleon, Stalin, Mao, hingga Hitler.
Dalam wawancara pada Maret dengan jurnalis New York Times Maggie Haberman dan Jonathan Swan untuk buku terbaru mereka, Trump menunjukkan sebuah dokumen yang berisi argumen bahwa dirinya lebih kuat dibanding para pemimpin tersebut.
Trump disebut menerima dokumen itu dari seorang “sejarawan” dalam sebuah acara penghormatan untuk pegolf Gary Player. Ia kemudian meminta ajudan untuk mengambil salinannya. Dokumen tersebut menyatakan bahwa para tokoh sejarah itu “sekuat apa pun pada zamannya, tidak memiliki jangkauan global. Kekuasaan mereka bersifat lokal, tetapi (Trump) tidak.”
Menurut Haberman dan Swan, Trump dengan bangga menyampaikan isi dokumen itu dan menyebut nama-nama tokoh berpengaruh tersebut sambil menjelaskan bahwa mereka tidak sebanding dengan kekuasaannya sebagai Presiden Amerika Serikat.
Para pemimpin itu “mempertahankan kekuasaan melalui rasa takut,” kata Trump, menurut buku tersebut. “Siapa yang mau melakukan hal seperti itu? Benar, kan?”
Namun ketika kedua jurnalis mencoba menelusuri asal-usul dokumen tersebut, mereka menemukan bahwa penulisnya bukan seorang sejarawan, melainkan caddy lama sekaligus penasihat pribadi Gary Player. Caddy tersebut mengatakan ia pertama kali menyampaikan pandangannya kepada Player sebelum akhirnya menjelaskannya langsung kepada Trump saat bermain golf di Florida.
Trump kemudian mengunggah dokumen itu ke platform Truth Social tak lama setelah tengah malam pada Kamis, yang menurut satu sumber kemungkinan dilakukan untuk mendahului publikasi buku tersebut. Dalam unggahannya, Trump menyebut penulis dokumen itu sebagai “sejarawan kepresidenan”.
Anekdot tersebut merupakan salah satu dari banyak kisah dalam buku “Regime Change” karya Haberman dan Swan, sebelum peluncuran resminya pada Selasa. Buku itu memberikan gambaran mendalam tentang 14 bulan pertama masa jabatan kedua Trump, menggambarkan penggunaan kekuasaan presiden secara luas dan sering kali tidak terstruktur.
Buku tersebut juga menyoroti berbagai momen, termasuk respons pemerintahan terhadap skandal berkas Epstein serta keputusan Trump terkait konflik dengan Iran. Secara keseluruhan, buku itu menggambarkan masa jabatan kedua Trump sebagai periode yang lebih lepas dari norma dibandingkan periode pertamanya.
Berdasarkan lebih dari 1.000 wawancara selama tiga tahun, buku ini memuat kutipan langsung yang diklaim berasal dari narasumber, catatan kontemporer, rekaman, atau transkrip.
Dalam salah satu adegan lain, buku tersebut menggambarkan bagaimana Trump sangat terlibat dalam perubahan dekorasi Gedung Putih, termasuk penggunaan unsur emas secara ekstensif. Ia bahkan digambarkan pernah menggunakan lem super untuk memasang ornamen emas di perapian marmer Ruang Oval.
Buku itu juga mencatat dinamika hubungan Trump dengan sejumlah pemimpin dunia, termasuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, serta sikap skeptisnya terhadap Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Dalam satu insiden yang disebut terjadi di Ruang Oval, Trump dikutip melontarkan kata-kata kasar kepada Menteri Perdagangan Howard Lutnick, menyebutnya “lemah” dan “tidak lagi seperti dulu.”
Buku ini juga menyingkap bagaimana Trump mendorong penyelidikan terhadap mantan pejabat keamanan siber Chris Krebs setelah ia membela integritas pemilu 2020, meski Trump sempat tidak mengingat namanya dalam sebuah diskusi internal.
Selain itu, buku tersebut menggambarkan pendekatan diplomatik tidak konvensional melalui utusan khusus Steve Witkoff dalam upaya berkomunikasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, termasuk sebuah momen ketika Putin menandatangani sketsa yang kemudian dibingkai oleh Witkoff.
Buku “Regime Change” menempatkan periode awal masa jabatan kedua Trump sebagai fase yang ditandai oleh gaya kepemimpinan personal, improvisasional, dan sering kali kontroversial, dengan dampak luas pada kebijakan dalam negeri maupun luar negeri.
