Banjir bandang akibat hujan deras yang mengguyur wilayah timur Afghanistan pada Senin menewaskan sedikitnya 20 orang dan menyebabkan lebih dari 100 lainnya hilang, menurut pemerintah Taliban.
Parun, ibu kota Provinsi Nuristan, menjadi wilayah yang mengalami dampak paling parah. Wali Kota Parun termasuk di antara orang-orang yang hingga kini masih dinyatakan hilang. Selain itu, lebih dari 80 warga dilaporkan mengalami luka-luka.
Pejabat Taliban memperkirakan bencana tersebut akan menimbulkan “kerugian besar, baik dari sisi ekonomi maupun korban jiwa”. Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan rumah-rumah, pertokoan, dan gedung pemerintahan mengalami kerusakan parah.
Afghanistan merupakan salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak ekstrem perubahan iklim dan bencana alam, termasuk badai serta kekeringan.
Negara itu juga termasuk salah satu yang termiskin di dunia setelah puluhan tahun dilanda perang. Konflik tersebut berakhir dengan penarikan pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat dan kembalinya Taliban berkuasa pada 2021.
Pemimpin organisasi nonpemerintah (LSM) lokal Shpoul, Ashiqullah Safi, mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa banjir terbaru “menghancurkan seluruh kawasan pemerintahan” di Parun.
Menurutnya, warga terpaksa mencari korban di antara puing-puing tanpa peralatan yang memadai, sementara banjir juga meninggalkan bongkahan batu besar yang berserakan di seluruh kota.
Departemen Meteorologi Taliban memperingatkan hujan lebat dan banjir diperkirakan masih akan melanda 10 dari 34 provinsi di Afghanistan hingga Rabu waktu setempat. Pemerintah juga mengimbau masyarakat agar menjauhi bantaran sungai dan wilayah yang rawan banjir.
Provinsi Nuristan dikenal dengan pegunungan hijau, hutan yang lebat, serta sungai-sungai yang jernih. Kawasan tersebut ditetapkan sebagai taman nasional pada 2020.
Namun, sejumlah laporan media menyebutkan bahwa deforestasi dan pembalakan liar di Nuristan maupun provinsi lain telah memperparah risiko banjir bandang karena mengurangi kemampuan tanah menyerap curah hujan yang tinggi.
Pada April lalu, hujan lebat dan banjir di wilayah utara Afghanistan menewaskan sedikitnya 150 orang. Sementara itu, Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (WFP) melaporkan jumlah korban tewas saat itu mencapai lebih dari 300 orang.
