Militer Amerika Serikat mengumumkan telah melancarkan serangan baru ke wilayah selatan Iran dengan menargetkan lokasi rudal Iran serta kapal-kapal yang diduga berupaya menempatkan ranjau.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) dalam pernyataannya menyebut serangan tersebut dilakukan sebagai “tindakan membela diri” dan dirancang untuk “melindungi pasukan kami dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran”.
Juru bicara CENTCOM, Kapten Tim Hawkins, mengatakan militer AS “terus mempertahankan pasukan kami sambil tetap menahan diri selama gencatan senjata yang masih berlangsung”.
Serangan itu terjadi ketika juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqai, menyatakan bahwa telah ada sejumlah kemajuan dalam pembicaraan dengan AS, namun kesepakatan untuk mengakhiri konflik “belum akan tercapai dalam waktu dekat”.
Menurut Hawkins, serangan tersebut menargetkan area di dekat Bandar Abbas, kota pelabuhan di selatan Iran yang menjadi markas pangkalan angkatan laut Iran di Selat Hormuz, sebagaimana dilaporkan The New York Times.
Media pemerintah Iran sebelumnya melaporkan bahwa pejabat setempat di Bandar Abbas tengah melakukan penyelidikan setelah terdengar ledakan di wilayah tersebut.
Hingga kini Iran belum memberikan tanggapan atas serangan terbaru AS tersebut. Belum jelas pula dampaknya terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan damai antara Washington dan Teheran.
Usai serangan berlangsung, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan peluang tercapainya kesepakatan masih terbuka. Ia merujuk pada pembicaraan yang digelar Selasa antara negosiator utama Iran, menteri luar negeri Iran, dan perdana menteri Qatar.
“Kita lihat apakah bisa ada kemajuan. Saya rasa saat ini masih banyak pembahasan bolak-balik terkait bahasa spesifik dalam dokumen awal, jadi proses ini akan memakan beberapa hari,” ujar Rubio kepada wartawan saat kunjungan resmi di India.
Rubio menambahkan Presiden Donald Trump telah “menunjukkan keinginannya untuk mewujudkan kesepakatan”.
“Dia akan menghasilkan kesepakatan yang baik atau tidak ada kesepakatan sama sekali,” kata Rubio.
Pada akhir pekan lalu, Trump sempat menyatakan kedua pihak hampir mencapai kesepakatan. Namun belakangan ia mengatakan telah menginstruksikan para negosiator agar “tidak terburu-buru”, sementara Rubio sebelumnya menyebut kesepakatan mungkin dapat tercapai pada Senin.
Baqai kemudian menanggapi dengan mengatakan: “Benar bahwa kami telah mencapai kesimpulan atas sebagian besar isu yang sedang dibahas… Namun untuk mengatakan bahwa penandatanganan kesepakatan sudah dekat — tidak ada yang bisa membuat klaim seperti itu.”
Nota kesepahaman yang tengah dibahas dilaporkan mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta rencana negosiasi lanjutan mengenai program nuklir Iran.
melaporkan bahwa intelijen Amerika meyakini Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei — yang terluka dalam serangan Israel pada hari pertama perang yang menewaskan ayah sekaligus pendahulunya — saat ini bersembunyi di lokasi yang dirahasiakan. Kondisi tersebut disebut menyulitkan komunikasi dengan para utusannya dan memperlambat jalannya perundingan dengan AS.
Menurut media AS, pembicaraan yang berlangsung saat ini tidak akan langsung menghasilkan penyelesaian final. Sejumlah isu sensitif kemungkinan baru akan dinegosiasikan pada tahap berikutnya, termasuk rincian pencabutan sanksi terhadap Iran, pencairan dana Iran yang dibekukan, serta tuntutan AS agar Iran membatasi ambisi nuklirnya.
Saat perang dimulai, Iran diyakini memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang telah diperkaya hingga tingkat kemurnian 60 persen. Tingkat tersebut hanya tinggal selangkah lagi menuju pengayaan 90 persen atau level yang dapat digunakan untuk senjata nuklir, yang secara teoritis memungkinkan pembuatan bom atom.
Pada Senin malam, Trump mengatakan uranium yang telah diperkaya itu akan “segera” diserahkan kepada AS atau “lebih baik lagi, dihancurkan di tempat melalui kerja sama dan koordinasi dengan Republik Islam Iran”.
Pasukan AS dan Iran telah menjalankan gencatan senjata sejak 8 April. Iran tetap mempertahankan kontrol terhadap jalur pelayaran di Teluk melalui Selat Hormuz, sementara Angkatan Laut AS berupaya memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.
AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Iran pada 28 Februari yang memicu konflik luas di Timur Tengah. Iran kemudian membalas dengan menyerang Israel dan negara-negara Teluk sekutu AS, serta secara efektif menutup Selat Hormuz. Langkah tersebut menyebabkan harga minyak dunia melonjak tajam.
