Pasukan Amerika Serikat menyerang dua peluncur milik Iran di Pulau Larak, menurut seorang pejabat AS, dalam serangan pertama yang diketahui dilakukan Washington terhadap Iran sejak akhir Juli.
“Pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terlihat sedang mempersiapkan peluncuran roket yang membawa ranjau laut ke Selat Hormuz,” demikian pernyataan juru bicara Komando Pusat AS (Centcom), Cdr Tim Hawkins,
IRGC mengatakan serangan pada Minggu itu menewaskan dan melukai sejumlah orang serta bersumpah akan melakukan “respons dan hukuman”. Beberapa waktu kemudian, IRGC mengatakan telah melancarkan serangan terhadap target militer AS di Yordania, menurut media pemerintah Iran.
Bagaimana AS dapat mencoba merebut Pulau Kharg milik Iran
AS berencana menghentikan bantuan militer untuk sekutu utama di Timur Tengah
Iran menyatakan “sepenuhnya siap” menghadapi perluasan sanksi ekonomi AS
Tak lama setelah pernyataan IRGC, militer Yordania mengatakan telah mencegat delapan rudal.
“Sistem pertahanan udara mencegat delapan rudal yang menerobos wilayah udara Kerajaan pada Senin dini hari,” kata Angkatan Bersenjata Yordania dalam sebuah pernyataan yang mengutip juru bicara militer, seperti dilaporkan kantor berita pemerintah Petra News Agency.
Serangan AS tersebut merupakan serangan pertama yang diketahui terhadap Iran sejak Presiden Donald Trump menghentikan sementara kampanye militer yang diperbarui pada akhir Juli.
Pulau Larak terletak tidak jauh dari pelabuhan penting Bandar Abbas dan berada tepat di Selat Hormuz, jalur perairan vital bagi pelayaran global.
Saat ini Iran mengharuskan kapal tanker yang melintas melewati pulau tersebut untuk menjalani pemeriksaan dan dilaporkan memaksa kapal-kapal membayar US$2 juta untuk dapat melintasi jalur tersebut.
Hossein Mohebbi, juru bicara IRGC, menyebut serangan itu sebagai “kesalahan strategis dan fatal rezim Trump” dan mengatakan bahwa “musuh akan menanggung konsekuensi dari salah perhitungan ini, baik di bidang ekonomi maupun militer”.
Kantor berita Iran Tasnim, yang berafiliasi dengan IRGC, sebelumnya mengatakan serangan tersebut dilakukan menggunakan drone. Laporan itu menyebut dua orang tewas dan dua lainnya terluka.
Beberapa jam kemudian, media Iran menyiarkan pernyataan IRGC yang mengatakan telah menyerang pangkalan AS King Hussein dan al-Azraq di Yordania menggunakan rudal balistik sebagai respons atas serangan di Pulau Larak.
IRGC mengatakan serangan tersebut menimbulkan “kerusakan besar” dan menargetkan “infrastruktur teknis, fasilitas pemeliharaan, serta posisi jet tempur musuh”, menurut terjemahan kantor berita AFP.
Pekan lalu, Trump mengatakan seluruh ranjau yang dipasang Iran di Selat Hormuz sebagai bagian dari upaya memblokade jalur tersebut telah diledakkan atau disingkirkan. Ia mengatakan Iran telah diperingatkan bahwa setiap kapal atau perahu yang memasang ranjau baru akan “dihancurkan”.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyebut pernyataan Trump tersebut sebagai tipu daya “propaganda”.
Iran kini kembali menghadapi tekanan ekonomi setelah Washington pada 24 Agustus mengumumkan kampanye sanksi baru yang bertujuan semakin mengisolasi Teheran dan memperluas sanksi sekunder terhadap negara-negara sekutunya.
Pejabat Iran dan media pemerintah sebagian besar menepis kampanye tersebut sebagai kelanjutan dari langkah-langkah ekonomi AS sebelumnya. Mereka berpendapat kebijakan itu merupakan kelanjutan dari tindakan Washington setelah kegagalan militer AS dalam konflik baru-baru ini.
AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari. Iran kemudian merespons dengan menyerang Israel, pangkalan-pangkalan AS, serta negara-negara sekutu Washington di kawasan Teluk, yang secara efektif menutup Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal. Perang Iran kini telah berlangsung lebih dari enam bulan.
Sebelum perang dimulai, sekitar 20 persen minyak dunia dan gas alam cair yang diperdagangkan melalui jalur laut tersebut.
