Spin-off panggung pertama Game of Thrones resmi diluncurkan oleh Royal Shakespeare Company (RSC), dan sebagian besar kritikus teater menilai pertunjukan tersebut layak menjadi bagian baru dari waralaba fantasi epik itu.
Game of Thrones: The Mad King, prekuel yang berlatar sesaat sebelum peristiwa dalam buku pertama karya George RR Martin dan serial televisi yang mendunia, resmi dipentaskan di RSC, Stratford-upon-Avon, akhir pekan ini.
The Telegraph memberikan empat bintang untuk “spektakel yang memukau”, sementara ulasan bintang empat dari The Guardian menyebut pertunjukan tersebut menampilkan “tata panggung spektakuler dan banyak relevansi dengan kehidupan modern”.
The Times lebih berhati-hati dengan memberikan tiga bintang. Media tersebut menilai pertunjukan ini “kurang tempo, seks, dan adegan berdarah”.
Kisah asal-usul Game of Thrones ini hadir dalam skala ambisi dan eksekusi yang sama-sama besar. Pertunjukan tersebut membutuhkan waktu tujuh tahun hingga akhirnya mencapai panggung, berdurasi tiga jam 45 menit, serta melibatkan 36 aktor.
Para karakternya mencakup versi muda dari sejumlah tokoh yang sudah dikenal, seperti Ned Stark, Jaime Lannister, dan Robert Baratheon. Ada pula tokoh-tokoh yang nasibnya menjadi kunci dalam peristiwa saga utama, seperti Lyanna Stark, Pangeran Rhaegar Targaryen, serta sang “Raja Gila” sendiri, Aerys II Targaryen.
Setelah dibuka di kota kelahiran Shakespeare, RSC berharap pertunjukan tersebut dapat mengikuti kesuksesan drama spin-off lain seperti Harry Potter and the Cursed Child dan Stranger Things: The First Shadow, yang keduanya telah dipentaskan dalam waktu panjang di West End dan Broadway.
Kaitan dengan Shakespeare berasal dari fakta bahwa novel-novel Martin sangat terinspirasi oleh drama sejarah karya Shakespeare, terutama kisah tentang peperangan antara Wangsa Lancaster dan York dalam Perang Mawar pada abad ke-15.
Martin, pencipta Game of Thrones asal Amerika Serikat, terlibat langsung dalam pengembangan pertunjukan tersebut dengan menempatkan seorang perwakilannya dalam setiap sesi latihan. Ia juga menghadiri malam pembukaan di Stratford pada Sabtu.
Dalam ulasannya, kritikus The Guardian Mark Lawson menulis bahwa para “puritan” mungkin akan berpendapat RSC seharusnya menyuguhkan drama-drama kerajaan karya Shakespeare sendiri, bukan spin-off populer yang terinspirasi Shakespeare.
Namun, menurut Lawson, argumen sebaliknya adalah bahwa bergabung dengan sebuah waralaba budaya yang sangat populer dapat mendatangkan sumber pendapatan dan penonton baru.
Respons penonton terhadap pertunjukan tersebut akan berbeda tergantung apakah mereka sudah menjadi penggemar setia Game of Thrones. Hal itu tercermin dalam penilaian empat bintang yang diberikan Lawson.
“Ini terasa seperti produksi bintang lima bagi sebagian besar penggemar berat Thrones, tetapi bintang tiga bagi mereka yang belum pernah menonton serial televisinya,” tulisnya.
Kritikus Metro, Dave Freak, juga sepakat dan memberikan empat bintang.
“Sebagai pertunjukan teater yang berdiri sendiri, The Mad King masih bisa melewati batas,” tulisnya. “Namun, sebagai perluasan dunia Game of Thrones, pertunjukan ini berhasil, memindahkan narasi ke panggung dengan dorongan teatrikal yang sesuai.”
“Kurang kekasaran, darah, dan ketelanjangan”
Kritikus The Telegraph Dominic Cavendish menulis bahwa dengan durasi hampir empat jam, pertunjukan ini merupakan tontonan yang panjang dan terkadang terlalu padat dengan detail. Ia juga menilai pertunjukan tersebut tidak memiliki kekasaran dan adegan berdarah, belum lagi ketelanjangan, yang menjadi ciri khas serial televisinya.
“Meski begitu, pertunjukan ini mampu melayani penonton baru maupun penggemar lama, sekaligus berbicara secara relevan mengenai zaman kita yang dipenuhi para pemimpin yang sulit dikendalikan,” tulisnya.
Ia menambahkan bahwa pertunjukan tersebut “belum berada di level prekuel Harry Potter atau Stranger Things, tetapi secara keseluruhan, waralaba Game of Thrones kembali memiliki spin-off yang layak sekaligus berpotensi menguntungkan”.
Kritikus The Times, Clive Davis, memiliki lebih banyak keberatan. Ia menulis bahwa meskipun pertunjukan tersebut memberikan kesempatan kepada penggemar berat Game of Thrones untuk berburu “Easter egg”, nuansa kelamnya jarang mendekati atmosfer suram serial televisinya.
Menurut Davis, naskah Duncan Macmillan sangat kekurangan unsur puitis. Peristiwa bergerak maju satu demi satu tanpa cukup kedalaman, sementara Michael Shaeffer tampil sangat memikat sebagai Aerys, raja yang kejam dan mengalami ketidakstabilan mental kronis. Namun, sejumlah penampilan lain dinilai kurang memiliki nuansa.
“Terlalu banyak dialog yang sekadar diteriakkan. Anda mengharapkan sesuatu yang lebih baik dari RSC,” tulisnya.
Davis menyimpulkan bahwa jumlah penggemar Game of Thrones tentu lebih dari cukup untuk membuat penjualan tiket terus berjalan dalam waktu yang sangat lama, tetapi hanya penggemar paling berdedikasi yang akan memiliki energi untuk mengikuti pertunjukan sepanjang itu.
Sejumlah kritikus lain jauh lebih antusias. Ulasan bintang lima dari Sarah Crompton di Whatsonstage menyebut pertunjukan tersebut sebagai “sebuah kemenangan; spektakel yang megah dan menggelegar, sekaligus drama sejarah masa kini yang serius maupun populer”.
Ia menambahkan bahwa pertunjukan itu merupakan pencapaian luar biasa, disutradarai dengan sangat baik oleh Dominic Cooke dan diperankan secara mengesankan oleh seluruh anggota ansambel yang berjumlah 35 orang. Hasilnya, menurut Crompton, merupakan pertunjukan brilian tentang bagaimana teater dapat menciptakan keajaiban.
Kritikus The Independent, Alice Saville, yang memberikan empat bintang, mengatakan pertunjukan panggung tersebut memiliki seluruh adegan pertempuran yang ditata secara spektakuler, kematian berdarah, dan tentu saja naga, yang diharapkan para penggemar paling haus darah.
“Namun, ada pula jumlah emosi yang mengejutkan, termasuk kehangatan yang masih terasa, ketika pertunjukan berhenti sejenak pada wajah para tokoh yang gugur,” katanya.
Pertunjukan tersebut dimulai lebih dari satu dekade sebelum peristiwa dalam buku pertama dan serial televisinya, dengan pembukaan berupa turnamen di Harrenhal. Turnamen jousting besar itu mempertemukan para keluarga bangsawan dari Tujuh Kerajaan dan menjadi lokasi terjadinya sejumlah peristiwa penting dalam legenda Game of Thrones.
Macmillan mengatakan ia ingin menciptakan sesuatu “dalam skala tragedi Shakespeare dan drama sejarah Shakespeare”.
Sang penulis naskah mengatakan bahwa tantangan utamanya adalah menulis untuk basis penggemar yang menganggap dunia dan karakter-karakter Game of Thrones sangat serius serta mengetahui begitu banyak detail tentangnya, sekaligus bagi penonton yang sama sekali baru mengenal waralaba tersebut.
“Tantangan nyata adalah menciptakan sesuatu yang mampu membuat semua orang benar-benar terpukau. Prosesnya membutuhkan waktu lama, tetapi saya pikir kami berhasil melakukannya,” ujarnya.
Cooke mengatakan terdapat “banyak kesamaan” dengan Shakespeare, terutama tema “perebutan kekuasaan dinasti, makna memiliki kekuasaan, konflik antargenerasi, dan keluarga-keluarga yang memiliki kekuatan”.
Martin, tambah sang sutradara, “sangat mendukung” proses pembuatan pertunjukan tersebut.
“Dia terlibat secara kolaboratif dalam pengembangan naskah. Kami bekerja sangat dekat dengannya. Dan George, menurut saya, dengan cepat memahami bahwa kami sangat serius dalam menghormati apa yang telah dia ciptakan,” kata Cooke.
Tamara Harvey, salah satu direktur artistik RSC, mengatakan Martin sendiri sering membicarakan bagaimana Shakespeare dan Perang Mawar menginspirasinya untuk menulis kisah-kisah tersebut.
“Jadi hubungan itu terasa sangat kuat, dan tentu saja temanya juga sama: kekuasaan, cinta, suksesi, perebutan siapa yang berhak memerintah siapa. Semua itu ada dalam drama sejarah Shakespeare, sama seperti dalam Game of Thrones,” ujarnya.
Ketika ditanya mengenai rencana masa depan pertunjukan tersebut, Harvey menjawab bahwa mereka berharap sebanyak mungkin orang dapat menyaksikannya, dimulai dari Stratford.
“Setelah itu, siapa tahu?” katanya.
